Tidak Diminati Bali, Wisata Syariah Justru Eksis Di Mancanegara

Akhir-akhir ini aku lihat lagi-lagi bali meributkan masalah syariat Islam. Kali ini wisata syariah yang ditolak.

Bali Tolak Konsep Wisata Syariah Karena Bertentangan dengan Nilai Agama Hindu

Rencana menempatkan Provinsi Bali sebagai salah satu dari 13 daerah yang dinyatakan siap mengembangkan wisata syariah menuai penolakan. Puluhan massa dan elemen masyarakat yang tergabung dala Aliansi Peduli Bali, seperti Cakrawayu, KMHDI Bali, Gases Bali dan Yayasan Nusantara, Selasa (24/11) menggelar aksi damai. Mereka mendatangi gedung DPRD Bali dan Pemprov Bali.
Mereka menyampaikan penolakan terhadap wacana pariwisata syariah di Bali. Ketua Cakrawayu Badung Putu Dana di hadapan pimpinan DPRD menyatakan bahwa atas tawaran dan rencana Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) untuk menerapkan konsep wisata syariah di Bali dinilai membuat masyarakat resah.
Menurutnya, desakan dan penolakan konsep wisata syariah itu lebih difokuskan bukan pada persoalan antiagama lain dan perkembangan keyakinan lain yang adi Bali. Melainkan penolakan itu lebih ditekankan karena wisata syariah tidak cocok diterapkan di Bali.
Menurutnya, nilai syariah bertentangan dengan nilai-nilai kearifan dan konsep pariwisata budaya Bali yang berasaskan nilai-nilai agama Hindu.
“Untuk itu kami berharap adanya wacana dan konsep wisata syariah dari MES segera bisa disikapi para wakil rakyat di Bali agar tidak meluas dan menimbulkan keresahan,” kata Dana. (pra/pit)

Hal tersebut pun ditanggapi MUI pusat.

MUI Pusat: Wisata Syariah itu Menggangu Hindu dan Adat Balinya Dimana?
Sabtu, 28/11/2015 11:43:46

Jakarta (SI Online) – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Tengku Zulkarnaen angkat bicara mengenai penolakan wisata syariah dan bank syariah di Bali yang dimotori anggota DPD Arya Wedakarna.
Menurut Tengku, sebaga negara Pancasila tidak boleh ada penolakan terhadap adanya Bank Syariah dan Wisata Syariah. Sebab tiada ada aturan yang dilanggar dari kedua hal itu.
“Wisata syariah di Bali itu mana yang melanggar aturan negara, yang melanggar agama Hindu mana?,” kata Tengku di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat sore (28/11).
Yang dimaksud wisata syariah di Bali, ungkap Tengku, adalah orang-orang Islam yang datang ke Bali tetapi dia mengenakan busana Muslim/Muslimah, setiap waktu shalat menjalankan shalat, lalu untuk makan mereka pergi ke restoran halal, saat ke pantai mereka gunakan busana yang menutup aurat. “Hindu rugi dimana, kok mereka keberatan. Ada apa?,” tanyanya.
Menurut Tengku, selama wisata syariah tidak menggagu adat istiadat Bali dan tidak mengganggu ajaran Hindu yang mayoritas disana, tidak boleh ada satu pihak pun yang keberatan. Apalagi wisata syariah itu menghasilkan uang bagi masyarakat Bali. (baca: Tegaskan Sikap Anti Syariah, Arya Wedakarna : Langkahi Mayat Saya jika Hendak Islamkan Bali)
“Bule-bule yang telanjang, yang melanggar adat dan ajaran Hindu itu yang harus ditolak. Kok syariah yang menutup aurat, makan halal, shalat lima waktu, yang tak boleh mengganggu orang, malah ditolak. Wisata syariah itu mengganggu Hindu dan budaya Balinya dimana?,” tandasnya.
Kalau ternyata motif penolakan wisata syariah karena faktor kebencian, pengurus Dewan Fatwa Matlaul Anwar ini balik bertanya jika umat Islam Indonesia yang mayoritas balik membenci umat yang lain bagaimana jadinya Indonesia.
“Kalau kayak gitu kami kalau hari raya Hindu bisa keberatan juga. Kenapa lampu mati, kenapa nggak boleh pakai speaker, kami kan bukan orang Hindu,” ungkapnya.
Selama ini, lanjut Tengku, hal demikian tidak pernah dilakukan oleh umat Islam meskipun menjadi umat mayoritas. Hal ini karena sikap saling menghormati sudah tertanam dalam diri masyarakat Islam. “NKRI harga mati, kita wajib mempertahankannya dan hidup harmonis,” pungkasnya.

red: shodiq ramadhan

Padahal, seperti yang diungkapkan di atas, wisata syariah bukannya soal “Islamisasi”, tapi lebih pada pertimbangan memfasilitasi muslim yang berwisata ke sana, seperti menyediakan makanan halal, hotel yang muslim-friendly, masjid yang bagus, dll. Muslim di dunia ini ada milyaran lo, bukan hanya jutaan aja, dan kalau digarap akan menimbulkan keuntungan yang sebenarnya sangat besar.
Lagipula, negara-negara dimana nonmuslim menjadi mayoritas justru semangat mengadakan wisata syariah. Contohnya saja Thailand.
Berdasarkan statistik, negara ini memiliki persentase jumlah penganut Buddha sampai 95%. Ini berarti Thailand mempunyai jumlah persentase penganut agama mayoritas yang lebih banyak dari bali yang agama mayoritasnya sekitar 84%. Dan seperti bali,  negara ini juga pernah diguncang bom, tepatnya bom Erawan pada Agustus 2015 lalu. Namun alih-alih trauma atau anti-syariah, ternyata hanya sebulan kemudian, yaitu September 2015, Thailand memperkenalkan wisata syariahnya pada masyarakat Indonesia.

Lirik Wisata Syariah, Thailand Fokus Santapan Halal
Minggu, 27 September 2015 16:04
By : puri

Potensi wisata syariah yang mulai menggeliat, turut dilirik pemerintah Thailand tiga tahun terakhir. Melalui Kementerian Pariwisata Thailand, mereka mengaku siap dalam menyambut wisatawan Muslim.

Dream – Potensi wisata syariah yang mulai menggeliat, turut dilirik pemerintah Thailand tiga tahun terakhir. Melalui Kementerian Pariwisata Thailand, mereka mengaku siap dalam menyambut wisatawan Muslim yang datang ke negara Gajah Putih itu.
Pihak pemerintah Thailand sangat menyadari kebutuhan wisatawan Muslim yang memiliki kebutuhan khusus saat berkunjung ke negaranya. Kehalalan suatu makanan dan kenyamanan dalam beribadah menjadi prioritas mereka saat berada di negara yang baru dikunjungi.
“Kami siap menyambut kedatangan wisatawan Muslim yaitu dengan mengeluarkan sertifikasi halal. Tidak hanya itu, kami juga sudah ada aplikasi di smartphone ‘thailandmuslimfriendlydestination’ jadi bisa untuk mengakses di mana restoran dan masjid terdekat,” ungkap Indra Nugraha, Marketing manager Tourism Authority of Thailand.
Tiga titik yang menjadi perhatian pemerintah Thailand saat ini, yaitu usaha di bidang kuliner dan hotel halal serta tujuan wisata yang lebih diarahkan ke masjid-masjid yang ada di sana.
Dari ketiganya, kuliner menjadi fokus dari wisata halal yang gencar pemerintah lakukan. Sehingga mereka sangat memikirkan makanan-makanan yang sesuai dengan lidah orang dari Indonesia. Tidak sekadar halal, tapi makanan juga dipastikan bercita rasa yang lezat dan sesuai dengan selera wisatawan.
“Sepuluh tahun kami menyiapkan wisata yang dijamin kehalalannya, dan baru sekarang kami benar-benar siap menjalankan. Sangat tidak mudah memberi label halal pada suatu makanan,” lanjut Indra pada Jumat, 25 September 2015.
Menjual makanan halal membutuhkan proses yang panjang dan rumit. Perlu diperhatikan ketelitian dari proses awal pendistribusian logistik, pemotongan hewan hingga proses memasaknya.
“Bukan sekadar nggak jualan alkohol ya, tapi kita harus pastikan saat pengiriman nggak tercampur dengan yang lainnya. Beda dengan di Indonesia yang sudah pasti aman,” imbuh Indra saat ditemui di kawasan Senayan.
Dalam memastikan kehalalan makanan yang mereka sajikan, pemerintah Thailand membentuk lembaga yang berkompetensi untuk mengeluarkan sertifikat halal. Lembaga tersebut pun diawasi sangat ketat agar tidak sampai melakukan kesalahan.
Hingga saat ini, beberapa tempat yang sudah siap menyajikan makanan halal diantaranya adalah area pasar Chatuchak. Dua restoran yang menyajikan makanan halal yaitu Hawa Pochana dan Saman Islamic Food.
Selain itu ada pula di area Dusit, Pratunam, Ram Kham Haeng-suan Luang-Rama9. Beberapa makanan yang direkomendasikan berupa Tom Yum Kung, Miang Pla Thu, Pho dan Kaproi Kai.
“Wisatawan bisa memesan Kai Tiu yaitu telur dadar ala Thailand, Som Yam atau biasa kita sebut rujak sayur. Ada juga Tod Man Pia sejenis perkedel ikan dan aneka sayur yang diracik dalam tom yum,” pungkas Indra.
(Ism, Laporan: Ratih Wulan)

Contoh berikutnya adalah Jepang. Di negeri sakura ini, penganut Buddha dan Shinto diperkirakan mencapai 84-96%. Namun itu tidak mengurangi niat mereka untuk mengadakan wisata syariah.

Jepang Kembangkan Wisata Syariah
Rabu, 06 Agustus 2014 | 12:00 WIB

JAKARTA — Industri syariah terus bergema di Jepang. Salah satu buktinya, Negeri Matahari Terbit itu untuk pertama kalinya menggelar Japan Halal Summit bertempat di Keukyu Ex Inn Shinagawa Tokyo, Senin (4/8).
The 1st Japan Halal Summit diselenggarakan oleh HDFJ (Halal Development Foundation Japan). Acara tersebut dibuka oleh Deputi Menteri Kementrian Lahan, Infrastruktur, Transportasi dan Turisme Jepang Manabu Sakai. Dari Indonesia hadir sebagai pembicara Ketua MUI Prof Din Syamsuddin dan Komisaris Utama Sofyan Hospitality Riyanto Sofyan. Selain itu, hadir pula peserta dari Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Pakistan, India, Saudi Arabia, Kuwait, UEA, Iran, Amerika Serikat, Turki, Rusia, dan Belgia.
Dari dalam negeri, peserta umumnya berasal dari kalangan bisnis dan pemerintah Jepang. “Delegasi yang hadir cukup antusias mengikuti acara demi acara yang dimulai dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 19.00 (waktu setempat),” kata Riyanto dalam surat elektronik yang diterima Republika , Senin (4/8) malam.
Ia menambahkan, pada kesempatan tersebut Riyanto membawakan presentasi berjudul “Potential of Sharia Compliant Tourism”. Presentasi tersebut membahas potensi wisata dan wisatawan kedua negara, baik Indonesai maupun Jepang. “Indonesia merupakan pasar yang cukup besar dan sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim. Maka, untuk menggapai wisatawan, Indonesia harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan wisatawan Muslim, mulai dari transportasi, hotel, restoran, tempat wisata, mal, dan fasilitas penunjangnya,” ujar Riyanto.
Sofyan Hospitality memanfaatkan momentum Japan Halal Summit 2014 untuk memperkenalkan Sofyan Halal Hospitality Standard yang merupakan jasa konsultasi halal compliant management system. Termasuk ke dalamnya pengembangan standard operating procedure (SOP), operating manual, dan training program, yang mengacu pada fatwa MUI, standar LPOM MUI, ISO 9001:2008 dan standar halal internasional lainnya. “Keseluruhan sistem tersebut yang akan memberikan panduan untuk hospitality product dan services agar dapat selaras dengan prinsip syariah. Untuk joint promotion, sesama produk dan servis yang halal dapat dipublikasikan di http://www.myhalalchannel.com,” katanya.
Respons dari peserta seminar, Riyanto mengungkapkan, cukup antusias. Misalnya, dari beberapa daerah prefecture (provinsi) di Jepang yang memilik atraksi wisata yang populer, sudah mendekati Sofyan Hospitality bersama HDFJ untuk menjadi konsultan mereka. “Mereka ingin menjadikan diri mereka ramah terhadap wisatawan Muslim, dengan menggunakan Sofyan Halal Hospitality Standard sebagai pedoman dalam mengembangkan semacam Halal Quality Assurance Management System sesuai dengan tingkatan compliance-nya.”
Selain itu, dibantu dengan paket-paket training dan periodikal audit program untuk memastikan compliance-nya terhadap Sofyan Halal Hospitality Standarad (SHHS) tersebut. Selain itu, dari media dan multimedia, seperti islammap yang berkeinginan menjembatani antara wisatawan Muslim Jepang dan Indonesia. “Untuk itu, kita salurkan melalui jalur pemasaran myhalalchannel.com yang merupakan channel untuk halal hospitality,” ujar Riyanto.
The 1st Japan Halal Summit berlangsung cukup sukses dan ditutup dengan doa oleh HE Mufti Abbyasov Rishan dari Russian Muftis Council Deputy Chairman.

N red: irwan kelana

#republika #koran #jepang #syariah

Sejauh ini sepengetahuanku tidak ada gelombang protes dari tokoh-tokoh budaya maupun masyarakat Jepang, padahal penduduk Jepang bukan sedikit yaitu sekitar 120-an juta. Tidak ada yang lantas berkata bahwa wisata syariah tidak cocok dengan adat dan budaya Jepang lantas mengusulkan agar Timur Tengah saja yang menyelenggarakannya. Tidak ada juga yang berdemo untuk menolak wisata syariah. Padahal orang Jepang terkenal sangat bangga dengan budaya dan identitasnya.
Mengikuti dua negara di atas, Korea Selatan, yang juga adalah negara mayoritas nonmuslim, tertarik untuk mengembangkan wisata syariah.

Provinsi Gangwon Korea Promosikan Produk Wisata Syariah
Kamis, 21 Mei 2015 | 15:56 WIB
Oleh: Kontributor ROL, Ririn Liechtiana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selama berkunjung ke Korea Selatan, terkadang Muslim Indonesia mengalami kendala. Utamanya, sulit menemukan menu makanan halal dan tempat untuk menunaikan ibadah shalat.
Kini, Muslim yang hendak berkunjung ke Korea Selatan, terutama Provinsi Gangwon, bisa semakin nyaman. Korea Tourism Organization Jakarta Office KTO Jakarta bersama dengan Garuda Indonesia Holidays (GIH) dan Pemerintah Provinsi Gangwon telah menandatangani MOU pada 30 April lalu.
Melalui MoU ini, disepakati perjanjian untuk memperkenalkan produk pariwisata Muslim Korea. Direktur KTO Jakarta, OH Hyonjae, mengatakan selama ini produk pariwisata bagi Muslim yang ke Korea tidak terlalu dikenal.
“Sebanyak 88 persen penduduk Indonesia adalah Muslim, tetapi selama ini produk pariwisata Muslim Korea tidak terjual dengan baik. Dengan demikian, diluncurkanlah produk-produk ini, yang dapat memudahkan Muslim ketika berkunjung ke Korea,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima ROL, Kamis (21/5).
Produk yang telah dikembangkan oleh GIH terdiri atas tiga macam. Produk 3M5H, produk 4M6H, dan produk 5M7H ini menyertakan makanan halal di restoran yang ramah bagi Muslim pada semua jadwalnya, serta kunjungan ke mushala.
Bukan hanya kunjungan ke Pulau Nami yang terkenal, melainkan juga kunjungan ke Museum DMZ di Goseong, Gangwon-do, memberikan perubahan pada jadwal perjalanannya. Provinsi Gangwon, salah satu provinsi di Korea Selatan yang mendukung kerja sama ini, mulai menyediakan restoran yang ramah bagi Muslim dan tempat ibadah seperti mushala.
Pada akhir April lalu, dengan kunjungan langsung dari Gubernur Gangwon ke Jakarta, Provinsi Gangwon mulai melakukan halal marketing untuk mendorong agen travel agar mulai menjual produk pariwisata Muslim Korea.
“Kami akan berusaha keras dalam mendukung dan mempromosikannya agar produk pariwisata Muslim Korea ini menjadi terkenal dan diminati di Indonesia dalam jangka menengah maupun jangka panjang,” kata OH Hyonjae.

Red: Agung Sasongko

#produk halal korea #pariwisata muslim korea
#pariwisata korea

Padahal Korea sudah sangat terkenal di seantero jagat, apalagi dengan daya pikat utamanya yaitu K-popnya yang mendunia. Berdasarkan data United Nations World Tourism Organization (UNWTO), negeri ginseng ini meraih kunjungan 14,2 juta turis asing pada 2014 lalu, jauh melampaui kunjungan turis asing ke bali yang pada 2014 sekitar 3,7 juta. Tapi meski memiliki industri pariwisata yang sukses, mereka masih concern dengan keberadaan turis muslim, khususnya dari Indonesia, sehingga bersedia menyediakan fasilitas yang halal.
Padahal kalau dilihat, budaya Korea dan Islam sangat berbeda. Ada banyak kuil-kuil di Korea sebagai tempat wisata andalan. Bukan hanya seribu, Korea memiliki 20 ribu kuil yang terdaftar, dimana ratusan di antaranya berusia seribu tahun. Saking banyaknya memiliki kuil, Korea sampai dijuluki “land of temples”.
Namun rupanya keberadaan wisata syariah tidak membuat penduduk Korea merasa kearifan lokal dan konsep pariwisata mereka yang berbasiskan agama Buddha terganggu. Sejauh ini bukannya makin mundur, Korea malah makin getol menggaet turis muslim dengan menargetkan 20 juta turis muslim pada 2017. Bahkan Korea meluncurkan halal guidebook dan aplikasi halal untuk memikat turis muslim. Sampai postingan ini ditulis, juga tidak ada keributan dari kurang-lebih 51 juta  masyarakat Korea akan program pemerintah ini. Tidak ada pula yang sampai membuat piagam “damai” untuk menghentikan rencana ini seperti bali yang lantas membuat piagam tantular agar wisata syariah tidak sampai diselenggarakan di wilayahnya.
Seolah tak ingin ketinggalan dengan negara-negara serumpunnya yang lain, Taiwan yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha dan Konghucu, kini juga mengembangkan wisata syariah.

Gaet Pelancong Muslim, Taiwan Siapkan Wisata `Syariah`
Sabtu, 5 Juli 2014 18:06
By : ervina

Pemerintah Taiwan meluncurkan kampanye khusus untuk menarik wisatawan muslim. Pemerintah juga menggandeng Asosiasi Muslim Cina untuk meluncurkan sistem sertifikasi halal bagi restoran.

Dream – Biro Pariwisata Taiwan berencana meluncurkan kampanye khusus untuk menarik wisatawan muslim dunia. Di awal kampanye, pemerintah Taiwan menargetkan bisa menggaet 2.000 wisatawan muslim pertahun dari seluruh dunia.
“Jutaan wisatawan muslim dari India, Malaysia, Timur Tengah, Indonesia dan negara-negara Arab berpotensi besar untuk kampanye wisata ini,” kata Pejabat Biro Pariwisata Liu Hsin-llin seperti dikutip Taipeitimes.
Sebanyak 150 pelaku usaha hotel, restoran, rekreasi, peternakan dan komunitas muslim lokal mendukung keputusan ini. Bahkan kabarnya Taiwan telah merancang tiga rute paket wisata bagi wisatawan muslim dengan meningkatkan fasilitas wisata.
Hingga saat ini di Taiwan sudah ada 60 ribu warga muslim dengan 150 ribu pekerja muslim. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand. Di seluruh negeri saat ini sudah ada enam buah masjid untuk beribadah.
Agar lebih meyakinkan kampanye, pemerintah setempat juga menggandeng Asosiasi Muslim Cina di Taiwan untuk meluncurkan sistem sertifikasi halal bagi pengunjung yang ingin makan di restoran. Bahkan perusahaan makanan pun didorong untuk memproduksi dan mengekspor produk halal ke negara-negara muslim di dunia.
Tahun lalu sebanyak 3.840.000 wisatawan asing datang berkunjung dan menghabiskan waktu berlibur di Taiwan. Dengan adanya kampanye ini, pemerintah berupaya menggenjot jumlah kunjungan ke Negeri asal serial Meteor Garden ini. (Ism)

Bahkan China,  Singapura, Spanyol, Argentina, Selandia Baru, serta negara-negara nonmuslim lainnya juga menerima konsep wisata syariah dengan tangan terbuka.
Dari situ bisa dilihat bahwa ternyata ada masyarakat di suatu wilayah mayoritas nonmuslim yang bisa menerima wisata syariah dengan baik. Mereka tidak merasa khawatir akan Islamisasi atau tergerusnya budaya aslinya. Mereka bahkan sangat semangat berpromosi ke negara-negara muslim sampai-sampai bikin badan khusus untuk memantau standar halal.
Padahal mereka bukan pemain baru di industri pariwisata dunia, bahkan ada yang sudah sangat terkenal melebihi Indonesia. Ada pula yang sangat protektif terkait dengan budaya leluhurnya bahkan ada juga yang pernah dibom, tapi mereka tidak mempermasalahkan adanya wisata syariah. Ini membuktikan bahwa wisata syariah tidak berdampak buruk terhadap budaya, agama, identitas, atau apapun itu dari entitas yang mengusung konsep ini.
Kalau bali tidak berminat menyediakan wisata syariah, ya berarti harus rela kalau negara-negara asing penyelenggara wisata syariat itu nantinya mengambil hati turis muslim baik dari Indonesia maupun dari negara-negara muslim lainnya. Dengan jumlah muslim yang sejumlah kurang-lebih 1,6 milyar dan akan terus bertambah, maka sudah pasti potensi pendapatan dari wisata syariah besar sekali.
Menurut World Islamic Economic Forum (WIEF), pada tahun 2013 saja, pasar wisata syariah dunia dapat menarik pendapatan hingga USD 140 miliar. Dan World Travel and Tourism Council (WTTC) mengkalkulasikan bahwa pada 2020, jumlah itu akan naik menjadi USD 200 miliar. Sangat besar kan, mengingat keseluruhan pendapatan Indonesia dari sektor pariwisata pada  2014 lalu sebesar USD 10,69 miliar.
Apalagi dengan adanya muslim-muslim berduit tebal dari negara-negara kaya seperti Qatar, UEA, Arab Saudi, dll yang tentunya butuh pelayanan terbaik dan bersedia membayar lebih untuk itu. Ini terbukti di Spanyol karena justru turis-turis dari Timur Tengah inilah yang umumnya mengeluarkan uang lebih banyak daripada turis-turis dari negara lain.
Kebanyakan turis asing rata-rata menghabiskan € 956 per orang saat liburan ke Spanyol, namun turis dari Arab Saudi menghabiskan rata-rata € 2.287 per orang, sementara turis dari UAE membelanjakan rata-rata € 2.116 per orang dan turis dari Mesir mengeluarkan rata-rata € 1.703 per orang. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa turis-turis dari Timur Tengah ini menghabiskan biaya akomodasi terbesar di Spanyol, yaitu € 129 rata-rata per orang per malam, mengungguli turis-turis dari China dan Rusia yang masing-masing menghabiskan € 115 dan € 91 per orang per malam. Lihat saja, bukankah berbisnis dengan turis-turis dari Timur Tengah ini sangat menguntungkan? Bahkan Spanyol yang notabene merupakan destinasi wisata paling populer ketiga di dunia pun sampai kepincut ingin mengembangkan wisata syariah! Padahal pada 2004 lalu, Spanyol sempat dihantam bom yang mematikan di Madrid.
Salah satu hotel syariah bintang empat di negeri Matador itu, Alanda Hotel Marbella, juga mengaku tidak pernah kehilangan pelanggan karena menerapkan sertifikasi halal pada hotelnya. Justru hotelnya jadi laris. Satu lagi bukti bahwa wisata syariah sama sekali tidak merugikan bahkan di wilayah mayoritas nonmuslim. Karena akan selalu ada pangsa pasarnya yaitu muslim yang ingin berlibur dengan nyaman tanpa harus melupakan kewajiban mereka terhadap Allah SWT.
Sebagai muslim, jelas aku akan memilih berlibur ke wilayah yang muslim-friendly dong, dan wilayah yang menawarkan wisata syariah adalah prioritas utamaku. Karena tentunya aku ingin liburanku penuh dengan kemudahan dalam berbagai aspek termasuk dalam beribadah dan cari makan. Jadi bali sudah pasti tidak akan ada dalam daftarku. Kenapa harus ke bali kalau nantinya di sana kurang terfasilitasi? Lagian bali memang sudah lama masuk boikotku karena sikapnya yang kurang ramah pada Islam seperti yang kutulis di sini. Tempat yang indah buat berlibur di dunia ini bukan bali saja kan? Mending aku ke luar negeri sekalian untuk berlibur. Rela kok meski lebih jauh, yang penting nyaman dan terjamin kehalalannya.
So, liburan kali ini sudah pasti ke wilayah yang nyaman dan halal! Let’s go!

 

Baca Juga:

Syariat Islam Ditolak, Perlukah Boikot Bali & Mahabharata?

DAFTAR PRODUK PENDUKUNG ZIONIS

PAHLAWAN ISLAM YANG PALING TERKENAL

Hidup Tanpa Hutang, Mungkinkah?

Alhamdulillah, Sudah Bebas Riba!

Kue-Kue Ini (Bisa Jadi) Haram?

Kisah Nabi Luth dan Kaum Homo Penyuka Sesama Jenis

Hore, Ada Jejaring Social Khusus Muslim! Ayo Daftar!

Perlukah Membenci FPI?

 

Sumber:

http://m.dream.co.id/news/taiwan-sediakan-fasilitas-halal-untuk-wisatawan-muslim-140704v.html

http://m.dream.co.id/dinar/tarik-wisman-muslim-thailand-fokus-pada-sertifikasi-makanan–150925n.html

http://m.republika.co.id/berita/koran/financial/14/08/06/n9vckt36-jepang-kembangkan-wisata-syariah

http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/05/21/noozij-provinsi-gangwon-korea-promosikan-produk-wisata-syariah

http://rakyataceh.co/2015/11/bali-tolak-konsep-wisata-syariah-karena-bertentangan-dengan-nilai-agama-hindu/

http://m.suara-islam.com/mobile/detail/16264/MUI-Pusat–Wisata-Syariah-itu-Menggangu-Hindu-dan-Adat-Balinya-Dimana-

http://www.antiquealive.com/Blogs/Buddhist_Temples_Korea.html

http://uk.reuters.com/video/2015/10/22/south-korea-launches-halal-app-to-attrac?videoId=366033210

http://www.korea.net/NewsFocus/Travel/view?articleId=124713

http://www.halaltimes.com/spain-interested-getting-greater-pie-growing-halal-tourism-industry/

http://katadata.co.id/infografik/2015/02/17/pariwisata-andalan-penghasil-devisa

https://en.m.wikipedia.org/wiki/World_Tourism_rankings

http://m.cnnindonesia.com/internasional/20150525181944-113-55595/korea-selatan-incar-20-juta-wisatawan-muslim/

http://m.okezone.com/read/2014/02/19/407/943215/singapura-negara-non-muslim-yang-punya-wisata-syariah

http://m.dream.co.id/jejak/mesjid-unik-daya-tarik-tiongkok-untuk-wisata-muslim-151115c.html

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Thailand

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Korea_Selatan

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jepang

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Taiwan

http://m.merdeka.com/uang/negara-non-muslim-ini-lebih-gencar-kembangkan-wisata-syariah.html

http://itc.gov.my/itc-news/grab-a-bigger-slice-of-muslim-tourism-market/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s