Dunia… Oh, Dunia…

wealth-and-money-difference

Sungguh miris melihat kondisi akhir-akhir ini, dimana banyak orang menghalalkan segala cara agar bisa hidup enak di dunia. Korupsi, menipu, memperbudak, membegal, mengurangi timbangan, pungli, dan banyak kejahatan lainnya seolah-olah sudah menjadi kebiasaan. Ada yang saking kuatnya bekingannya sampai merasa diri sebagai raja dunia yang tidak dapat diadili. Ada pula yang merasa hidup ini hanya sekali jadi harus punya banyak uang agar bisa menikmati hidup, tanpa peduli pada apapun lagi, bahkan kalau perlu biar saja orang lain rugi atau tersakiti, yang penting diri sendiri bahagia.

Well, ingatlah, apapun yang dilakukan, tidak akan bisa membuat bisa hidup selamanya. Jika di dunia belum mendapatkan balasan, di akhiratlah tempatnya. Dan balasan di akhirat jauh berlipat-lipat sakitnya sampai-sampai manusia yang dulunya menikmati hidup paling mewah di dunia tidak pernah merasa mencicipi kebahagiaan. Simak:

 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku”.

Selanjutnya, akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali”. (HR. Muslim dan lainnya).

 

Namun ada yang berpikiran, “Nanti masih bisa tobat kalau sudah kaya dan tua, sekarang pokoknya kumpulin duit yang banyak dan happy happy dulu!” Memangnya ada jaminan bisa sampai pada kesempatan bertobat?

Bukannya tidak boleh menginginkan kehidupan yang baik dan nyaman, tapi perhatikan CARA mendapatkannya! Kalau bisa kaya dari hasil usaha sendiri atau bekerja keras sih tidak masalah, tapi kalau uang yang didapat akibat dari korupsi, menipu, atau merampok sih lain soal! Bukankah hal ini sudah jelas dalam Al-Quran?

 

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah:168)

 

“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188).

 

Mungkin ada yang bilang, “Banyak omong aja! Istri dan anak butuh makan, harga-harga pada mahal, tapi nggak ada kerjaan, terus bagaimana?”

Yakinlah bahwa setiap makhluk sudah ada rezekinya sendiri-sendiri dan tidak mungkin tertukar dengan yang lain. Jika sekarang sedang kekurangan, mungkin itu adalah ujian dari Allah, sebagaimana difirmankan dalam ayat berikut ini:

 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’.” (QS. Al-Baqarah : 155-156)

 

Kalau kita bertawakkal pada Allah, niscaya akan ada jalannya.

 

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya. “(QS. At-Talaq : 2-3)

 

Masa nggak percaya pada janji Allah? Janji orang bisa diingkari, tapi janji Allah itu PASTI TERJADI!

Lagipula, menjadi kaya apalagi dengan menghalalkan segala cara bukan tujuan utama hidup di dunia ini, karena tujuan penciptaan kita sesungguhnya adalah beribadah.

 

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

Jadi buat apa ngoyo cari duit sampai tidak peduli halal-haram?

“Tapi kan aku ingin jadi orang terhormat! Terpandang di mata masyarakat! Biar semua orang segan melihat kekayaan dan  kekuasaanku!”

Hahaha… omongan orang dipeduliin? Cape deh! Kita tidak hidup untuk menyenangkan orang lain, tapi untuk menyenangkan Allah. Apa gunanya gelar “terhormat” di masyarakat kalau nantinya dijebloskan ke neraka? Memangnya gelar “terhormat” itu bisa membantu? Memangnya orang-orang yang dulu mengelu-elukan itu akan bisa menolong?

Ada yang bilang bahwa semua hal itu dilakukan demi keluarga, biar mereka bisa hidup enak. Biarlah diri sendiri korupsi atau merampas hak orang, yang penting keluarga mendapatkan yang terbaik.

Halooo… yang hidup di dunia ini bukan hanya satu keluarga saja, ya! Semua orang juga ingin hidup enak! Mungkin sekarang masih bisa merampas hak orang dan hidup berfoya-foya dengan keluarga, tapi ingat, di dunia ini tidak ada yang abadi. Kekayaan bisa habis, kekuasaan bisa hilang. Besok bisa jadi tiba gilirannya untuk dirampas haknya oleh orang lain. Memang enak?

Lagian memberi makan keluarga dengan harta yang haram bisa jadi menyebabkan mereka ikutan masuk neraka dan doanya tidak dikabulkan.

 

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca ayat, berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash kemudian berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR. At-Thabrani)

 

Masa rela keluarga tercinta yang disayangi setengah mati sampai dibela-belain melakukan apa saja ternyata mendapat siksa yang KEKAL di neraka nanti?

“Tapi semua orang juga ngelakuin itu! Ini zaman edan, kalau nggak ikutan maka nggak kebagian!”

So what? Kenapa juga mau harta yang diperoleh dengan cara yang haram? Biar saja seluruh dunia berlomba-lomba mencari harta dengan cara apapun, kita sebagai muslim seharusnya tidak terpengaruh dan tetap berusaha mencari yang halal-halal saja. Toh nanti di akhirat dihisabnya sendiri-sendiri, jadi meniru-niru tingkah buruk hanya karena dilakukan setiap orang tidak membuat dosanya lantas berkurang!

So, silakan saja mencari penghidupan di dunia, tapi tetap di koridor yang halal. Jangan silau oleh kemilau dunia yang sesaat ini. Cari rezeki yang halal dan jangan kurangi hak orang, niscaya hidup kita akan aman dan damai, baik di dunia maupun di akhirat. Mulai dari diri sendiri dulu, tidak usah pusingkan orang lain, karena pelan-pelan tindakan kita bisa menginspirasi orang di sekitar kita. Makin banyak orang yang melakukannya, maka lingkungan kita dan akhirnya dunia lamban laun menjadi tempat yang lebih baik. Kalau sudah begitu, kita juga kan yang senang?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s