Review Masterchef Junior : Kurangnya Nuansa Indonesia

So, seperti diketahui bersama, masterchef junior telah tayang di Indonesia. Awalnya iseng menonton karena dulu pernah tanpa sengaja nonton masterchef junior australia di salah satu TV swasta lokal dan ingin tahu seperti apa kualitas anak-anak kita saat memasak. Ternyata saat sudah nonton, mau tak mau aku merasakan ada beberapa hal yang agak mengganjal.

Ya, setelah kuamati, masterchef junior kali ini kurang banyak nuansa Indonesianya dan berasa versi gado-gado antara masterchef  junior singapura (memang ada, ya? :D) dan masterchef junior australia. Kenapa? Yaitu karena hal-hal sebagai berikut:

 

1. Masakan

Masakan yang ditampilkan di masterchef junior kebanyakan adalah masakan-masakan barat, yang bahkan aku nggak hafal apa saja namanya. Ini kulihat di tes duplikasi dalam 3 episode berturut-turut yang semuanya adalah masakan barat. Memangnya tidak ada ya masakan Indonesia yang bisa dimasak oleh anak-anak kita ini? Kalo mau menayangkan masterchef junior di sini ya harus bikin yang bernuansa Indonesia, dong! Kalo gini mah mending nonton masterchef junior australia aja, deh, nggak ada bedanya! Lebih bagus pula! 😀

 

2. Bahasa

Dalam masterchef junior ini ada banyak penggunaan bahasa inggris baik pada nama masakan juga untuk komunikasi pada peserta. Memang sih bahasa inggris adalah bahasa internasional, tapi kan tetap harus menekankan pada bahasa indonesia terutama untuk calon penerus bangsa. Misalnya waktu menjawab juri, kenapa harus pakai, “yes, chef!” bukannya “siap” atau apalah. Apa kurang kosakata kita hanya untuk kalimat perintah? Kesannya seperti ingin menjalankan westernisasi saja pada anak-anak bangsa…

 

3. Alat Masak

Di masterchef junior australia, aku lihat pisaunya warna-warni dan kelihatannya cukup aman untuk digunakan anak-anak. Tapi di sini aku lihat kok pisaunya kayaknya tajem banget, lengkap dengan warna perak mengkilap yang menakutkan. Gimana kalau anak-anak yang lucu-lucu itu tertusuk? Mereka kan masih kecil jadi ada kecenderungan untuk teledor. Nggak bisa membayangkan kalau ada kecelakaan yang mengakibatkan anak-anak itu cacat permanen! Mungkin alat masaknya bisa diganti dengan yang lebih “kid friendly” untuk episode selanjutnya atau di sesi yang akan datang biar lebih aman.

 

4. Dominasi Etnis

Kok sepertinya etnis tertentu mendominasi, ya, di masterchef junior ini? Nggak tanggung-tanggung, bo’, kayaknya separuh lebih dari anak-anak yang berkompetisi di masterchef junior beretnis tionghoa! Serasa nonton masterchef junior singapura saja. Padahal aku lihat di wikipedia kalau etnis tionghoa itu hanya 3,7% di Indonesia. Lucunya, Indonesia yang merupakan negara dengan muslim terbesar di dunia justru hanya “menyumbangkan” dua anak berjilbab atau hanya 10% dari dari seluruh kontestan. Bahkan etnis pribumi juga sepertinya kalah banyak dibandingkan anak tionghoa. Perwakilan dari Indonesia timur malah tidak ada. Memangnya hanya anak tionghoa saja yang gape masak di negeri ini, sementara pribumi nggak? Inikah keragaman Indonesia, didominasi oleh etnis tionghoa? Mungkin ada yang bilang, “itu kebetulan…” Kalau begitu, “kebetulan” juga kalau kebanyakan juri dan juara masterchef beretnis tionghoa? “Kebetulan” juga kalau kebanyakan juara dari miss indonesia dari penyelenggara yang sama beretnis tionghoa? “Kebetulan” juga kalau separuh juara idol-idolan di stasiun tipi ini adalah nonmuslim? Kok banyak sekali ya “kebetulan” oleh pihak yang satu ini? Apa bukan memang disengaja? Entah kenapa aku merasa pihak ini ingin menonjolkan etnis (dan mungkin agama?) tertentu sebagai kampium di Indonesia di berbagai kontes-kontes yang diadakannya. Padahal di kontes yang lain tidak demikian, misalnya putri indonesia dan afi yang juaranya mayoritas adalah pribumi. Bukannya SARA, lo, ya, tapi berdasarkan fakta yang ada di lapangan yang disertai dengan analisis. Jadi ragu dengan objektivitas kontes yang diselenggarakan di sini…

 

 

Yah, begitulah review dariku untuk masterchef junior. Ternyata tidak jauh berbeda dengan masterchef versi reguler yang juga ada ketimpangannya seperti yang kutulis di sini.

Setelah melihat sampel beberapa episode, aku tidak merasa ingin melanjutkan menontonnya. Lebih baik waktu yang ada digunakan untuk melakukan tindakan yang lebih bermanfaat daripada mantengin anak-anak yang belajar masak dalam nuansa yang jauh dari unsur Indonesia. Bukankah begitu? 🙂

 

Baca Juga:

Ketimpangan dalam Masterchef?

One thought on “Review Masterchef Junior : Kurangnya Nuansa Indonesia

  1. gwe juga gak yakin banget tuh anak2 bisa bahasa inggris semuanya……, pakai bhs indonesia azalah, apa lebih bergengsi dgn bhs inggris……???. wah tayangan ini gak indonesia bgt…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s