Tertipu Saat Bekerja Di Jakarta : Saat Gaji Tidak Sesuai Dengan Janji

130023969547961542

Bagi pencari kerja sepertiku, bisa kerja di Jakarta seperti merupakan impian. Tak disangka impian itu terwujud sekitar beberapa bulan yang lalu. Sayangnya, seperti halnya semua mimpi indah, kejadian itu berakhir singkat dan tidak menyenangkan. Dalam kasusku, itu berakhir karena sebuah PENIPUAN.

Semua berawal ketika aku ikut job fair yang diadakan di kampusku. Aku berniat mencari kerja di tempatku tinggal saat itu, yang pastinya bukan di Jakarta. Sebagai pencari kerja yang sudah desperate, aku masukkan saja lamaran ke berbagai perusahaan yang memungkinkanku untuk melamar, termasuk salah satu perusahaan berinisial bmr untuk posisi management trainee/mt.

Keesokan harinya, aku dihubungi pihak bmr untuk interview masih di kawasan job fair. Busyet, cepat amat, batinku. Padahal lamaran-lamaranku yang lain belum ada yang dipanggil. Aku pun datang ke situ tanpa banyak berharap karena sudah puluhan kali gagal dalam interview. Sialnya, aku harus membayar uang masuk lagi karena panitia tidak mau kompromi meski aku sudah bilang ada interview.

Singkat cerita, aku pun diinterview. Seperti interview-interview pada umumnya, aku jawab semua pertanyaan dengan sebaik-baiknya.

Sekitar beberapa minggu kemudian, aku mendapat pemberitahuan bahwa lolos tahap interview di bmr dan diharapkan hadir di sebuah universitas swasta untuk melakukan psikotest. Sama seperti lamaranku pada semua perusahaan, aku datang tanpa banyak berharap.

Sesampainya di sana, ternyata soal psikotestnya ada banyak sekali, belum lagi masih ada tahap wawancara. Aku jalani semuanya dengan sabar dan setelah memakan waktu hampir seharian, semuanya berakhir juga.

Beberapa minggu berlalu dan aku mendapat telepon bahwa lolos tahap psikotest dan diundang ke Jakarta untuk interview, dengan biaya yang seluruhnya dicover oleh perusahaan. Jelas aku cengo karena baru kali ini dalam hidupku ada perusahaan yang mau susah-payah mendatangkanku yang belum pasti diterima ke kantor mereka di luar kota dengan biaya akodomasi yang ditanggung. Biasanya perusahaan yang kulamar, bahkan yang sekelas Garuda Indonesia, meminta pelamarnya menanggung semua biaya akomodasi sendiri.

Aku pun terlonjak gembira, mengira ini adalah perusahaan yang sangat bonafid. Sayangnya harapanku kandas karena diberitahu beberapa saat kemudian kalau aku berangkat naik KERETA API. Padahal ke Jakarta makan waktu yang lama. Biasanya aku ke Jakarta dari sini naik pesawat. Meski perusahaan memilihkan tumpangan kereta api yang kelasnya eksekutif, tapi tetap saja pegal, kan! Namun demi melihat Jakarta, aku mengiyakan saja.

Pada waktu yang ditentukan, aku berangkat ke stasiun. Perusahaan bilang bahwa tiketnya ada di tangan anak laki-laki berinisial t dan ada empat orang yang akan ke Jakarta termasuk aku. Kami berhasil bertemu dan setelah ngobrol sebentar, masuk dan berangkat.

Sesampainya di Jakarta, kami dijemput pak manajer HRD berinisial i. Ia mentraktir kami makan di restoran yang cukup bagus, bahkan memperbolehkan kami memilih menu sendiri. Mungkin untuk menegaskan “kebonafidan” perusahaannya kali, ya.

Sehabis itu, i pergi dan digantikan oleh karyawannya, seorang teknisi IT berinisial h. Kami dibawa ke kosan salah satu karyawan untuk mandi dan mempersiapkan diri  untuk interview dengan naik mobil kijang. Eh, busyet, kamar kost karyawan itu kecil banget dengan kamar mandi yang super sempit pula, belum lagi airnya licin. Inikah kamar kos di Jakarta? Mengenaskan sekali!

Usai mandi, kami dibawa ke kantor bersama h dan satu karyawan tambahan berinisial n yang bekerja di HRD. Awalnya aku menduga kantornya adalah gedung pencakar langit secara mereka bersedia menanggung ongkos akomodasi kami, ealah ternyata kami dibawa ke RUKO. Yap, RUKO, saudara-saudara, RUKO! Aku sempat kecewa karena kupikir tempatnya akan lebih bagus dari ini. Jauh-jauh dijemput ke Jakarta hanya untuk bekerja di sebuah RUKO?

Tapi di dalam mobil si n dan h membrainwash kami untuk “dont judge a book by its cover”, bahwa kantor di ruko itu belum tentu jelek, dll, membuat pandangan burukku tentang ruko jadi sedikit berkurang. Kami pun pasrah saja saat dibawa masuk ke kantornya yang berada di dalam RUKO. Memang ada AC-nya sih tapi bau asap rokok kadang-kadang nyelip, benar-benar mengganggu.

Kami disuruh menunggu di sebuah ruangan. Giliranku belum tiba sampai makan siang. Kami dibawa makan di restoran bebek. Di situ kami tidak boleh pesan minum dan langsung disamaratakan, tidak seperti waktu sarapan sama i.

Setelah itu kami balik ke kantor. Ada seorang anak yang baru datang dari daerah sendirian berinisial n (sebut saja n2 karena sudah ada n sebelumnya kan). Kemudian aku diinterview dua orang kepala bagian dan bisa menjawab dengan baik. Lalu kami semua plus tambahan satu anak baru dibawa ke mall untuk jalan-jalan dan makan-makan sama i dan n.

Di mall itu kami malah sama sekali tidak boleh pilih makanan. Semuanya dipilihkan oleh i dan n. Hmm… kok makin lama “servisnya” makin turun, ya…

Habis itu kami ke hotel untuk tidur. Hotelnya bintang tiga dan cukup bagus. Sekamar diisi dua anak. Rencananya keesokannya kami interview akhir lalu pulang naik kereta.

Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya balik ke stasiun untuk menuju ke kotaku. Stasiunnya kali ini di stasiun yang lebih jelek dari waktu datang ke Jakarta dan yang disayangkan, perusahaan tidak memberi kompensasi makan siang meski aku sudah memberitahu seseorang dari pihak HRD mengenai hal ini.

Beberapa minggu kemudian aku ditelepon pak manajer HRD, si i, dan diberitahu bahwa lolos dalam interview dan diterima sebagai mt. Aku akan diboyong ke Jakarta selama tiga bulan untuk pelatihan. Saat kutanya tentang kompensasi, i menjawab dengan sangat menggiurkan tentang gaji dan tunjangan yang banyak jenisnya, yang membuatku makin ingin bekerja ke Jakarta.

Meski harus merayu orangtuaku mati-matian, akhirnya aku boleh kerja di Jakarta. Aku sangat senang karena setelah penantian lama akhirnya bisa juga menunjukkan pada semua orang bahwa aku bisa diterima bekerja di tempat yang bagus. Apalagi kali ini aku diberangkatkan ke Jakarta naik pesawat.

Dengan sumringah aku berangkat ke Jakarta dan diantar cukup banyak orang. Senang sekali rasanya bisa mendapatkan “kemenangan” ini setelah cukup lama menganggur. Aku bisa kerja di Jakarta, euy!

Aku berangkat bersama t karena dua perempuan yang semula bersama kami mengundurkan diri. Sesampainya di Jakarta, kami naik taksi ke hotel yang sudah dibooking perusahaan. Disana n2 sudah menunggu karena dia juga lolos seleksi.

Sayangnya hotel kali ini tidak sebagus hotel sebelumnya. Kamar mandinya bahkan karatan! Sebenarnya saat itu sudah ada tanda-tanda tidak beres yaitu kenapa fasilitas yang kami terima dikurangi sedikit demi sedikit, tapi aku yang sudah terlanjur gelap mata karena bisa kerja di Jakarta tidak mempedulikan itu. Aku juga masih bisa toleran ketika perusahaan tidak memberi kami makan malam sehingga kami terpaksa beli makan sendiri.

Keesokan harinya, lagi-lagi diantar h dan n, dari pagi kami muter-muter sekitar kantor untuk mencari tempat kos. Sampai malam kami hampir tidak mendapat kos, akhirnya terpaksa memilih di antara yang ada. Untunglah aku berhasil sreg sama salah satu kos dan merasa saat itu bahwa nasibku baik.

Keesokannya kami mulai masuk kerja dan isinya perkenalan saja. Pulang kantor, kami yang sudah check out dari hotel diantar ke tempat kos oleh i dan mbak-mbak yang sebelumnya menginterviewku di job fair (lupa namanya). Sayang sekali kamar kos yang kutuju ternyata mendadak pemiliknya tidak bisa dihubungi. Untung aku punya satu tempat kos cadangan, namun sayangnya tempat itu tidak bisa kutinggali sampai besok. Aku merasa tidak enak karena semua temanku sudah dapat tempat kos dan hanya aku yang belum. Akhirnya, kepepet karena merasa bersalah melihat orang-orang yang capek bekerja ini mengantarku yang satu-satunya belum dapat kos dan takut tidak mendapat tempat tinggal malam-malam begini, aku terpaksa memilih kos mahal agar mereka semua bisa cepat pulang.

Mereka tampak gembira sekali saat aku bilang mau kos di tempat itu dan cepat-cepat pergi bahkan sebelum aku turun dari kamarku yang ada di loteng. Aku pikir mereka capek, ternyata aku cek di twitter, mereka makan di restoran TANPA MENGAJAKKU! Aku sudah susah-payah “berkorban” untuk mereka tapi ternyata malah ditinggalkan? Tapi aku masih berusaha sabar.

Besoknya, aku baru tahu bahwa si n2 tidak jadi masuk kosnya karena kemalaman (habis makan di restoran, sih!) I membawanya ke apartemen yang sudah disewa perusahaan bahkan saat mau ke kantor pake dijemput segala. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa waktu itu i tidak memberitahu bahwa ada apartemen sebagai tempat tinggal kalau-kalau tidak dapat tempat kos malam itu. Tahu begitu kan aku tidak perlu panik karena takut tidak dapat tempat menginap dan tidak perlu mengambil kost yang mahal!

Lebih lagi, perusahaan ternyata belum siap melatih ketika kami datang hingga kami wara-wiri di tiap departemen seperti anak hilang. Sepertinya mereka mencari mt tambahan karena dua perempuan yang lolos dari kotaku mengundurkan diri dan untuk sementara kami disuruh melakukan hal-hal yang tidak jelas. Ketidakkompetenan HRD ini jelas membuatku ilfeel.

Saat pulang kantor, aku yang lupa menanyakan alamat kosan ternyata salah naik angkutan dan dibawa entah kemana. Untung sopir angkotnya baik dan mau mengantarku secara gratis asalkan aku tahu dimana kosanku. Karena pak manajer i yang tahu alamat kosan, aku meneleponnya bahkan minta sopir angkot untuk bicara dengannya agar lebih jelas. Sayangnya meski sudah bicara dengan i, tetap saja tidak ada kejelasan dimana kosanku. Dan parahnya, meskipun tahu aku “hilang”, pak manajer i sama sekali tidak melakukan apapun, bahkan dalam satu sesi telepon, entah sengaja atau tidak, teleponnya direject. Bukankah mt adalah tanggungan HRD? Kalau aku hilang gimana coba? Setidaknya telepon balik, kek, dan tanya apa aku baik-baik saja, kalau perlu dijemput. Ini malah cuek banget, belum lagi aku sempat mendengar pak manajer i MENERTAWAKANKU sesaat sebelum mengangkat teleponku. Sangat mengesalkan! Untung berkat pertolongan Allah, aku bisa melacak dimana kosanku dan bisa pulang dengan selamat meski hanya sendirian.

Masalah lain muncul seminggu kemudian ketika aku tahu bahwa tempat kosku di yang berada di jalan howitser ternyata penuh asap rokok karena tanpa sepengetahuanku ternyata itu kos campur dan bapak di sebelahku adalah perokok berat. Karena anti-rokok, aku memutuskan untuk pindah meski hanya seminggu di sana dan ibu kosnya marah sekali. Maklum dia sudah tua dan kristiani. Ohoho. Hati-hatilah kalau cari kosan di jalan howitser, saudara-saudara! Salah satu kosan di sana penuh asap rokok dengan ibu kos yang galak!

Parahnya saat aku bilang mau pindah kos, pihak HRD yang seharusnya mengurusi mt kelihatan tidak peduli. Aku yang notabene masih sangat baru di kota ini dibiarkan saja mencari kos sendiri di “rimba” Jakarta. Untung aku bukan anak manja jadi bisa dapat kos baru meski tanpa bantuan. Salah satu karyawan ada yang menyarankan agar aku pinjam mobil perusahaan untuk pindahan. Aku pun mencobanya tapi ternyata ditolak i, katanya sedang dipakai. Oke, selalu “tidak” untukku. Saat pemilihan pekerjaan pun entah kenapa aku selalu kebagian yang susah. Seperti misalnya t dan n2 yang waktu bagian kerja di lapangan, pulangnya diajak i makan-makan serta nonton bulutangkis sampai malam, sementara pas bagianku justru disuruh pulang naik taksi sambil membawakan barang ke kantor. Shit!

Beberapa minggu kemudian, aku mengetahui bahwa di bulan pertama ini, selaku karyawan baru, aku SAMA SEKALI TIDAK MENDAPAT TUNJANGAN yang semula dijanjikan dan hanya mendapat SEPARUH GAJI POKOK saja, padahal aku masuk SEBULAN PENUH! Kalau dihitung-hitung gaji yang kuterima di bulan pertama jumlahnya hanya sekitar 40% dari paket kompensasi yang dijanjikan, bahkan kurang dari UMR Jakarta 2013 yang sebesar 2,2 juta itu!

Kebijakan penggajian bmr rupanya aneh dan mbulet. Mereka menghitung periode gajian suka-suka mereka. Dengan perhitungan aneh mereka, SEMUA karyawan baru hanya akan dapat gaji paling banyak 40% di awal masuk bahkan bisa jadi TIDAK TERIMA GAJI SAMA SEKALI jika masuk di tanggal tertentu meskipun mereka bekerja SEBULAN PENUH!

Tentu ini tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan i. Sebenarnya janji i sudah mulai kelihatan bullshitnya karena tidak semua tunjangan yang dia janjikan padaku bisa kudapatkan di awal kerja, tapi kupikir dengan gaji wow, itu bisa dikompromi. Ternyata gaji yang wow itu juga harus DIPOTONG! Padahal bulan pertama (saat belum dapat gaji) aku masih pakai duit sendiri, belum lagi bulan berikutnya, saat gaji hanya turun 40%, adalah bulan Ramadhan yang notabene harus mudik sementara harga tiket mudik selangit! Kalau dihitung-hitung bahkan setelah bekerja 3 bulan, pengeluaranku masih lebih besar dari pemasukanku. Apalagi pas tiga bulan itu akan ada evaluasi dan kalau aku dinyatakan tidak kompeten dalam evaluasi lalu dipecat, maka aku akan RUGI sama sekali bekerja di Jakarta.

Bukan itu saja. Yang lebih tidak adil lagi, bmr mau menggaji mt yang baru masuk SAMA dengan kami yang sudah duluan masuk karena takut mereka tidak mau bekerja di sana. Ini sangat tidak adil! Aku pun koar-koar di linkedin untuk bertanya apa solusi dari masalah ini. Ternyata keesokannya aku dipanggil oleh pihak HRD dan “dimarahi” karena menyebarkan masalah perusahaan keluar, padahal aku SAMA SEKALI TIDAK MENYEBUTKAN NAMA! Aku pun tambah dongkol. Tapi berkat protesku, perusahaan akhirnya mau membedakan gaji mt yang baru masuk dan yang masuk duluan.

Kebetulan, itulah saatnya menandatangani kontrak. Setelah banyak berpikir dan shalat istikharah, aku memutuskan untuk KELUAR dari bmr. Aku merasa DITIPU. Gaji dan tunjangannya tidak sesuai dengan yang dikatakan pak manajer i, dan aku merasa “dianaktirikan”, terlebih setelah menulis protes. Jauh-jauh datang ke Jakarta dengan harapan tinggi, ternyata jadinya begini, dibohongi pula! Benar-benar keterlaluan!

Sebagai kompensasi dari kerjaku selama beberapa lama itu, i ingin membayarku dengan tunjangan harian yang hanya senilai beberapa ratus ribu. Aku jelas saja tidak mau! Aku minta sesuai dengan yang tertera di petunjuk teknis HRD dan sesuai dengan lamanya aku bekerja. I menolak awalnya dengan dalih gaji mereka adalah sistem prorate. Aku tidak tahu apa itu prorate karena sebagai anak PNS, aku tahunya hanya sistem gaji biasa dimana sebulan kerja, ya, bulan itu juga kamu terima gaji UTUH. Manajer i mengira aku menggunakan “anak PNS” sebagai ancaman lalu berkata “saya juga anak PNS” sambil memotong sebelum aku selesai bicara. Dasar si bapak ini, makanya dengerin sampai orang selesai ngomong!

Tapi apa iya sistem prorate itu memperbolehkan perusahaan membayar kita yang sudah bekerja sebulan penuh DENGAN TIDAK FULL? Salah satu rekan di linkedin sempat bilang bahwa periode penggajian perusahaan beda-beda dan kalau tidak mendapat gaji full pada bulan pertama, kekurangannya akan disusulkan pada bulan kedua. Tapi bmr tidak seperti itu karena perusahaan ini bahkan TIDAK MAU MEMBAYAR GAJI SUSULAN APAPUN   !

Jadilah aku dan pak manajer i berdebat selama beberapa jam. Aku sempat mencontohkan di perusahaan lama tempat aku bekerja dimana periode penggajiannya normal. Ketika aku masuk sekitar tanggal 20-an, aku mendapat gaji 1/5 dari gaji pokok. I salah paham dan mengira bmr lebih baik dari itu karena menggaji orang yang bekerja di pertengahan periode dengan ½ gaji pokok. Tapi hey, perusahaan lama tempatku bekerja membayar orang yang kerja 1 1/5 bulan dengan gaji senilai 1 1/5 bulan, bukan orang bekerja sebulan dibayar setengah bulan atau tidak digaji seperti bmr! Setelah perdebatan alot yang bahkan menghadirkan beberapa karyawan untuk memberi keterangan, akhirnya pak manajer i bersedia membayar sesuai keinginanku, mungkin karena melihat kekeraskepalaanku.

Sepertinya kesal karena aku mendadak keluar, untuk mengurus cairnya gajiku jadi susah sekali. Emailku diblokir oleh bmr hanya karena aku berusaha berkomunikasi mengenai cara mencairkan gaji dan ketika aku menelepon ke sana, pihak HRD tidak mau bicara denganku. Kantor macam apa ini? Sama sekali tidak profesional! Usai mengambil gajiku, aku bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan bmr lagi!

Kesimpulannya, bmr ternyata bukan perusahaan bonafid seperti yang kupikirkan, hanya pura-pura bonafid saja di depan calon pelamar agar mereka tertarik. Lalu setelah pelamar mau bergabung, terbukalah kedok mereka sebagai perusahaan yang pseudo-bonafid. Untung aku belum sampai tandatangan kontrak!

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita panjangku adalah:

  1. Hati-hati kalau ada perusahaan yang mau membawamu ke daerah yang jauh dari tempat tinggalmu. Kalau bisa, minta kontraknya dulu sebelum berangkat, karena bisa jadi ternyata sesampainya di sana, perusahaan itu tidak sesuai harapanmu
  2. Sebelum masuk ke sebuah perusahaan, tanya bagaimana periode penggajiannya. Jangan-jangan sistem penggajiannya aneh seperti bmr!
  3. Jangan percaya pada janji-janji lisan atasan kecuali ditulis dalam perjanjian bermaterai karena bisa saja itu BULLSHIT!

Yah, begitulah pengalamanku bekerja di Jakarta yang singkat dan mengecewakan. Sampai sekarang aku masih menyesali kenapa tidak menyadari tanda-tanda ketidakbonafidan bmr sejak dulu. Belajarlah dari pengalamanku ini dan selalu berhati-hati saat memilih pekerjaan, guys!

 

Update : ternyata perusahaannya kini ganti nama jadi berinisial rm. Waspadalah, guys!

2 thoughts on “Tertipu Saat Bekerja Di Jakarta : Saat Gaji Tidak Sesuai Dengan Janji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s