Ketimpangan Dalam Masterchef?

Sebenarnya agak basi sih diposting sekarang. Aku nulisnya juga sudah agak lama,tapi baru bisa diupload sekarang karena berbagai kesibukan. Langsung aja,ya!
Tanpa sengaja waktu itu melihat masterchef 2 lagi menjelang grandfinal karena ga ada kerjaan. Aku yang sejak semula tidak niat nonton masterchef 2 mau tak mau memperhatikan bahwa ada sesuatu yang aneh di masterchef 2 ini.
Seperti diketahui, kontestan yang bertahan sampai grandfinal adalah Opick dan Desi. Menjelang grandfinal, diputerin deh tuh recap episode dari awal plus waktu Opick dan Desi kunjungan ke rumah keluarga mereka. Dan apa yang kulihat?
Pas scene-nya Desi, ada penyambutan terorganisir dari pemerintah, karyawan hotelnya, berikut anak-anak sekolah Desi dulu. Mereka semua bawa atribut dan tampak sangat kompak dalam menyambut Desi. Tak lupa diperlihatkan makam mama Desi lengkap dengan salib khas kristiani. Trus anehnya dimana, dong? Ntar dulu!
Pas scene-nya Opick, aku lihat kok tidak seperti itu. Pertama, tidak ada perwakilan pemerintah yang menyambut di bandara. Masa sih Dinas Pariwisata Surabaya/Sidoarjo ga peduli kalau ada warganya yang mengharumkan nama daerah di tipi? Sepertinya mustahil deh. Yang kedua, ga ada penyambutan spesial dari orang-orang terdekat Opick, bahkan diperlihatkan pula scene bahwa ada  nenek-nenek yang ga kenal dia! Jadi mikir, si Opick ini ga punya teman, ya? Bukannya dia kerja? Setidaknya bisa kan mampir ke tempat kerjanya untuk nunjukin bahwa ada yang mendukung dia? Yang ketiga, pas dia mampir ke sekolah, ga ada penyambutan secara terorganisir. Ga ada yang lambai-lambai kayak di sekolahnya Desi, malah Opick yang harus pro-aktif nyamperin guru-gurunya. Baru di akhir anak-anak sekolah rebutan minta foto/tanda-tangan. Kok beda gini, ya? Masa sih para guru SMA Opick (yang berjilbab itu) ga kepikiran untuk menyambut dengan sedikit meriah? Si Desi bahkan berpidato di aula dengan spanduk dimana-mana! Trus ada adegan sholat Jumat dari Opick, seakan menggarisbawahi bahwa dia muslim pribumi. Terus…? ‘Bentar deh!
Pas grandfinal, Desi dipuji-puji sementara komen ke Opick kebanyakan negatif. Padahal Opick cukup banyak memenangkan tantangan. Bak drama, babak 1 si Desi menang, lalu babak 2 Opick berhasil mengejar. Jadinya babak 3 menentukan. Yang mengherankan, kok bisa pas gitu, babak 1 dimenangkan A dan babak 2 dimenangkan B. Hmmm…
Pas babak 3 akhirnya Desi menang, meski aku heran, kok bisa ya. Sementara Opick masakannya dinilai lebih enak sama juri sementara masakan Desi plain. Entahlah apakah komentarnya dipotong atau tidak.
Yang paling menonjol adalah sesaat sebelum pengumuman, dimana anak-anak Desi masuk berhamburan sebagai tamu sementara tidak ada tamu apapun untuk Opick. Lho?????
Kenapa adegan antara Opick dan Desi njomplang? Kenapa Desi terasa ‘diistimewakan’ baik dari penyambutan maupun bagian scene dan komentar, seakan dipersiapkan jadi pemenang, sementara Opick kayak diplot untuk jadi losernya dan akhirnya kalah?
No hard feeling, tapi aku masih merasa Opick lebih baik karena masakannya lebih enak, kalau Desi mungkin menang teknik tapi rata-rata masakannya kurang seasoning (denger dari juri). Lagipula menang teknik juga tidak menjamin bisa jadi masterchef. Teringat dulu di masterchef 1 Fero yang pinter masaknya luar biasa justru tereliminasi. Begitu juga Agus yang secara skill lebih baik dari Lucky tapi entah kenapa Lucky yang menang. Padahal masakan Agus di grandfinal kelihatannya lebih baik dari Lucky tapi malah nilai Lucky lebih tinggi. Agus itu muslim pribumi sementara Lucky…?
Melihat hasil ini mau tidak mau aku menggarisbawahi bahwa entah kenapa muslim pribumi SELALU KALAH di final masterchef. Pertama Agus lalu berikutnya Opick. Apalagi ada penyorotan salib dan sholat disitu. Entah kenapa aku merasa ada yang ingin menunjukkan Islam “tidak berdaya” melawan “yang lain”. Loo…. bukannya menuduh, ya, itu hanya analisisku saja. Dari scene yang njomplang dan juga orang berskill yang kalah sudah cukup menimbulkan kecurigaan.
Ya sudahlah. Itu semua hanya analisisku saja, bukan tuduhan. Kalau salah ya dimaklumi saja, kalau benar…. ya bisa apa dong? 😀
Jadi tambah yakin untuk gak nonton masterchef yang selanjutnya karena aku ga yakin dengan kualitas pemenangnya.

 

Baca Juga:

Review Masterchef Junior : Kurangnya Nuansa Indonesia

Iklan

3 thoughts on “Ketimpangan Dalam Masterchef?

  1. memang ya,, indonesia itu mayoritas islam, namun pemimpin negara dan para pejabat negara yang beragama islam lebih menghormati kristen daripada agama sendiri atau pun agama lain seperti hindu dan budha,, saya menyimpulkan bahwa para pejabat dan media massa terkesan pilih kasih, dan hanya menghargai dan menghormati kristen saja….!!

    Suka

  2. Kalau gak salah, sejak pertama, jurinya juga gak ada yg muslim kan ya? Dan saya perhatikan kontestan yg (maaf) berhijab bakalan tereleminasi dengan cepat… CMIIW

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s