Kalau Sampang Dilaporkan Ke PBB, Jangan Lupa Sertakan Pembantaian Muslim di Ambon Juga!

Benar-benar gemas aku baca berita baru-baru ini bahwa kasus Sampang akan dibawa ke PBB. Hah? Bukannya itu cuman kasus keluarga, ya? Mahfud MD juga bilang gitu:

Mahfud MD: Dipicu Kasus Cinta, Kasus Sampang Tak Terkait Agama

Andri Haryanto – detikNews
 
 

Jakarta Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga tokoh asal Sampang, Madura, Mahfud MD, menilai peristiwa penyerangan terhadap kelompok Syiah hari Minggu lalu, bukan berlatar belakang agama. Pria kelahiran Sampang 55 tahun lalu itu menuturkan insiden berdarah itu berlatar belakang cinta.

“Sebenarnya kasus ini bermula dari dua orang bersaudara yang sama-sama Syiah, sama-sama ke pondok pesantren lalu sama jatuh cinta kepada seorang gadis yang sama. Sehingga yang satu menyatakan keluar dari Syiah-nya, lalu memprovokasi orang-orang yang tidak tahu apa-apa antara Syiah-Sunni,” tutur Mahfud.

Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud kepada wartawan di Kantor MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/8/2012).

Dia menambahkan, orang-orang yang terprovokasi itu tidak mengetahui apa-apa mengenai kelompok Syiah. Dari propaganda itulah, kelompok yang terprovokasi ini meyakini bila kelompok Syiah menyimpang dari ajaran Islam.

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) ini mengatakan, permasalahan di Sampang sebenarnya sudah disampaikan tokoh-tokoh Madura yang berkeliling ke Jakarta. Mereka membawa bundel dokumen lengkap dan menyampaikan latarbelakang insiden Sampang ke Menteri Agama, DPR, Mendagri, dan kepada dirinya yang juga menjadi bagian dari tokoh Madura.

“Semestinya dengan kasus itu segera diredam, tidak meluas seperti ini, itu sebenarnya pertengkaran dua saudara kandung,” ujar Mahfud.

Seharusnya, imbuh Mahfud, sejak awal permasalahan diurai dan dibuka satu per satu. Sehingga, tidak terjadi peristiwa seperti yang terjadi hari Minggu kemarin.

“Sekarang sudah terlanjur terjadi. Tidak ada jalan lain kecuali penegakan hukum tegas. Siapapun yang salah nanti dibicarakan belakangan. Entah itu tokoh agama, pemerintah, atau aparat keamanan,” ujarnya.

Langkah sekarang yang harus dilakukan adalah menyelamatkan dulu orang-orang yang merasa terancam keselamatannya.

“Tidak boleh ada pengadilan oleh rakyat terhadap rakyat lain,” tegas Mahfud.

“Pengadilan dilakukan melalui proses hukum. Orang menghukum orang atas nama perbedaan keyakinan Itu biadab. Dimanapun tidak dibenarkan,” tegasnya lagi. (ahy/gah)
Kok bisa-bisanya kasus keluarga jadi bahan konsumsi lembaga sekelas PBB? Memangnya PBB tidak ada kerjaan lain?

Menurutku LSM itu terlalu LEBAY. Mentang-mentang ada konflik keluarga yang latar belakang sekte agamanya beda, lalu diblow-up besar-besaran seolah ini Syiah vs Sunni. Padahal si Tajul Muluk, yang punya sekte Syiah, sudah dipenjara!

Hei, para LSM! Ini ada bahan bagus buat dilaporkan ke Dewan HAM PBB:

Menengok Ambon Berdarah 1999: Umat Islam Dibantai Orang Kristen & Aparat Lokal

By: Hartono Ahmad Jaiz
Pemimpin Redaksi Nahimunkar.com

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengirimkan utusannya, M Hafidz MSc,  ke Ambon untuk mengirimkan bantuan dan meliput tragedi pembantaian Muslimin yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen. Penyerangan dan pembantaian itu berlangsung sampai 3 bulan, sejak Januari hingga April 1999. Berikut ini kesaksian M Hafidz, Wakil Ketua Komite Penanggulangan Krisis DDII. Sejumlah gambar foto hasil rekamannya pun dimuat lengkap di buku “Ambon Bersimbah Darah” terbitan Dea Press, Jakarta, 1999. Berikut cuplikannya:

Penyerangan yang dilakukan orang-orang Kristen terhadap Muslimin di Ambon khususnya, dan di Maluku pada umumnya, jelas-jelas menunjukkan tingginya kebencian mereka terhadap umat Islam.

Bayangkan. Mereka sudah menyerang umat Islam di Hari Raya Idul Fitri 1419H tanggal 19 dan 20 Januari 1999M. Mereka membantai umat Islam, maka banyak jatuh korban tewas, dan banyak pula yang luka-luka. Orang-orang Kristen itu menyerang dalam keadaan mabuk habis minum-minum. Setiap kali mereka menyerang selalu dalam keadaan mabuk seperti itu. Senjata mereka adalah panah beracun, panah berapi, parang, tombak, bom molotov, senjata api, bahkan basoka RPG7, senjata Amerika atau NATO. Semuanya itu sudah dipersiapkan sejak Oktober 1998, 4 bulan sebelum mereka menyerang Muslimin. Sedang Umat Islam tidak siap apa-apa. Maka kala itu (awal-awal diserangnya itu) umat Islam banyak jatuh korban.

Setelah Umat Islam diserang orang-orang Kristen, korban-korban yang luka dibawa oleh Muslimin ke rumah sakit umum di Kampung Kuda Mati, Kota Ambon. Kampung Kuda Mati itu kampung Kristen. Lalu orang-orang Kristen menyerbu masuk ke rumah sakit umum itu, memeriksa para medis RSU dengan memeriksa KTP (kartu tanda penduduk), kalau ternyata Islam maka diserang. Sedang pasien-pasien yang luka yakni korban-korban akibat serangan orang Kristen yang kemudian dikirim ke RSU ini, lalu dibunuhi oleh orang-orang Kristen yang datang dan menyerang secara membabi buta itu. Ini jelas-jelas biadab, dan perang agama. Sampai-sampai, orang-orang Kristen itu menyerbu ke kantor-kantor Pemda (Pemerintah daerah), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Pos dsb di Ambon, dengan memeriksa KTP para pegawai. Kalau ternyata pegawai itu KTPnya bertanda agama Islam maka dibunuh. Ada yang dibunuh di halaman kantor. Itu semua tidak ada lain, hanya karena mereka itu benci kepada Islam.

APARAT LOKAL MEMBANTAI MUSLIMIN

Kebrutalan mereka yang sudah sebegitu itu masih pula ditambahi dengan pembunuhan atau penyelenggaraan pembunuhan yang dilakukan oleh aparat keamanan yakni polisi dan tentara lokal yang beragama Kristen terhadap umat Islam.

Bukti-bukti ikut sertanya aparat lokal membunuhi ummt Islam itu,  pertama, di Masjid Al-Huda Kampung Rinjani Ambon, yakni peristiwa shubuh berdarah, 1 Maret 1999M. Yang ditembak mati di dalam masjid 1 orang, dan yang ditembak mati di luar masjid 2 orang, sedang yang luka tembak beberapa orang.

PENEMBAKAN DARI LUAR MASJID

Jama’ah shubuh itu imamnya yang imam rawatib (rutin tiap waktu) tak hadir. Maka digantikan yang lain. Di sinilah kemudian kalau ada perbedaan keterangan, itu karena yang dimintai keterangan itu imam rawataib yang ketika itu tak hadir. Nah, yang mati karena ditembak di dalam masjid (menembaknya dari luar masjid) itu seorang makmum masbuq(ketinggalan). Yang lain sudah selesai shalat, sedang dia belum, maka meneruskan shalatnya. Dia inilah yang ditembak mati sedang shalat. Yang menembak adalah polisi dari Polda Maluku (setempat). Saya ada rekaman video orang-orang yang ditembak itu. Yang masih hidup, di antaranya yang kakinya hancur kena tembak, masih bisa ngomong(bicara), menjelaskan. Jadi jelas yang menembak itu memang aparat keamanan lokal.

Bukti kedua, penembakan di Masjid Tantui Kampung Tomia di Kota Ambon. Tiga orang Muslim ditembak mati oleh polisi dan tentara lokal. Yang meninggal itu (1) Faisal Marasabessi, (2) Abu Bakar Nankatu dipukuli dan ditembak, dan (3) Baharuddin Bugis ditembak dengan senjata laras panjang ditempelkan di bawah tenggorokan lalu didor, maka pelurunya muncrat menembus ubun-ubun. Saya melihat dan memvideo (merekam dengan kamera video)  korban beberapa saat setelah ditembak itu. Yang menembak itu aparat beragama Kristen dan masih tetangganya. Jadi masyarakat kenal semua: nama, pangkat, dan kesatuannya. Dan memang penembak itu orang Kristen (Protestan). Di Ambon, yang Kristen kebanyakan Protestan, sedang di Maluku Tenggara itu Katolik.

CARA-CARA MENYERANG

Cara-cara orang Kristen menyerang Muslimin yaitu mereka datang bergelombang, dalam keadaan mabok, matanya merah-merah karena habis minum-minuman keras. Mereka membawa panah beracun, panah berapi, parang, dan bom-bom molotov untuk membakar. Orang-orang Kristen itu sudah mempersiapkan diri untuk menyerang Muslimin. Parang (golok) yang dijadikan senjata tu sudah dipersiapkan sejak Oktober 1998. Mereka memesan ratusan parang dari Kampung Iha di Saparua. Hanya saja orang Islam tidak faham, untuk apa ratusan parang didatangkan ke Ambon  oleh orang-orang Kristen itu. Ada juga yang merakit senjata.

Menurut sumber dari Korem –yang tentu saja tidak bisa dise­butkan namanya– senjata-senjata itu diantaranya didatangkan dari Belanda dibarengkan dengan pengiriman mayat. Ada pengiriman mayat dari Belanda sebanyak 6 atau 7 kali, tidak sekaligus. Peti-peti mati yang dikirim dari Belanda itu diisi pula dengan senjata RPG7 Basoka (senjata Amerika ataupun NATO). Itulah yang kemudian untuk menyerang umat Islam, di antaranya di Saparua.

Tragedi berdarah itu, awal-awalnya yang banyak jadi korban adalah orang Islam, yakni penyerangan oleh orang Kristen terhadap umat Islam di Hari Raya Idul Fitri 1419H/ 19-20 Januari 1999M.

Karena orang Islam tidak siap, dan tidak tahu kalau akan diser­ang. Lantas, mulai Februari 1999M aparat dikirim ke Ambon, yakni Kostrad dari Ujung Pandang. Tugasnya mengamankan. Dalam logika aparat, pihak yang menyerang –yakni orang-orang Kristen– itu perusuh, maka diberi tembakan peringatan ke atas. Tetapi orang-orang Kristen itu tetap saja menyerang umat Islam. Kemudian ada yang ditembak. Itulah kemudian yang mereka klaim sebagai banyak korban dari pihak mereka. Tapi sebenarnya tidak banyak.

Rumah-rumah orang Kristen dan gereja-gereja banyak yang utuh, karena memang orang Islam tidak membakar. Orang Islam hanya mem­pertahankan diri. Terakhir, untuk memancing umat Islam, malah mereka (orang-orang Kristen) sendiri yang membakari rumah-rumah mereka. Itu jelas-jelas diketahui oleh para saksi mata. Orang menyaksikan kejadian itu, dan memang mereka (orang Kristen) sendiri yang membakari rumah mereka yang telah dikosongkan. Licik, memang.

Dari segi korban orang-orang Kristen, karena umat Islam sifatnya hanya bertahan atau mempertahankan diri, maka pihak Kristen yang mati hanyalah yang menyerang. Jadi tidaklah wanita-wanita atau anak-anak atau orang-orang tua, yang terbunuh di pihak Kristen itu. Orang Islam tidak menyerang.

Sebenarnya, belum ada jumlah korban yang akurat secara pasti. Karena tidak terdata semuanya.

Para korban yang Muslim kita yakini sebagai syuhada’, mati syahid karena mempertahankan Islam, agama Allah. Dibunuh oleh orang-orang Kristen yang menyerang. Maka para syuhada’ itu tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tak dishalati, cukup dikubur bersama pakaiannya yang berlumuran darah, sebagai saksi di hadapan Allah SWT.

Mengenai orang Muslimah hamil tua lalu dibelah perutnya oleh orang Kristen, bayinya dikeluarkan lalu dicincang-cincang, saya datang ke sana sudah berlalu, saya tidak melihatnya. Namun berita itu diketahui oleh seluruh masyarakat.

Penyerangan di luar Ambon, selain di Ahuru, terakhir di Maluku Tenggara, tepatnya di Tual, di Kampung Larat, Jum’at berdarah (2 April 1999M). Dalam penyerangan brutal itu imam Masjid Larat, H Abdul Aziz Rahayantel dibunuh di dalam masjid, Jum’at itu, 3 orang Muslim dibunuh di dalam masjid. Tidak sampai seminggu, korban meninggal sudah mencapai lebih dari seratus orang. Di kampung Kei Besar yang meninggal paling banyak Muslim, sedang di Kampung Kei Kecil kebanyakan yang meninggal Katolik. Ini baru saja saya berhubungan dengan pihak sana.

Orang-orang Kristen menyerang umat Islam itu tidak tentu waktunya. Kadang-kadang malam, kadang-kadang subuh, kadang siang atau sore. Seperti di Hari Raya Idul Fitri itu penyerangan terhadap umat Islam dilakukan siang hari menjelang sore, tetapi saat lain, peristiwa subuh berdarah itu waktu subuh. Sedang di Larat, penyerangan terhadap umat Islam dilakukan ba’da Jum’at, siang hari. Itulah kebencian orang Kristen terhadap umat Islam yang diwujudkan dengan penyerangan, pembunuhan, pembakaran, dan pengerusakan, yang justru didukung oleh aparat keamanan setempat. [voa-islam.com]

Yup, pembantaian Ambon tahun 1999 yang menewaskan ribuan muslim. Kenapa kasus ini jarang diblow-up dan tidak dibawa  PBB? Padahal ini termasuk pelanggaran HAM yang sangat berat. Bahkan sama seperti Sampang, kasus ini juga berulang di tahun 2011, sbb:

Pembantaian Muslim Di Ambon September 2011

Ambon kembali membara. Rumah-rumah muslim dibakar oleh kaum salibis. Media-media sekular pun tidak banyak memberitakan kejadian seutuhnya atas pembantaian yang menimpa kaum muslimin. Mereka diam dan sengaja menutupi kasus ini. Bahkan mencoba menuduh umat Islam telah membalikkan fakta. Betullah kata Ulama Asal Inggris, Syekh Ahmad Thompson dalam bukunya Dajjal The Antichrist,“Siapapun yang mempercayai peristiwa-peristiwa menurut media massa kafir, mustahil bisa mengetahui masalah yang sebenarnya.”

Oleh karena itu, berikut adalah sebuah dokumentasi detik demi detik pembantaian kaum muslimin oleh salibis yang sampai berita ini diturunkan tidak sedikit umat muslim yang telah meninggal dunia, dan 70 lainnya kritis.

11 September 2011.Pukul 23.30 WIT
Malam ini sebagian besar kaum muslimin mulai berjaga dan memobilisasi diri untuk persiapan jika ada serangan dari kaum salibis, sementara sebagian kecil disebar ke beberapa wilayah untuk memata-matai pergerakan kaum kafir.

Pukul 23.35 WIT
Pertempuran berlangsung di daerah Kudamati, dimana konsentrasi kaum salibis terpusat. Saat ini penjagaan aparat begitu ketat sehingga para pejuang kesulitan menerobos masuk barikade aparat.

12 SEPTEMBER 2011.Pukul 00.35 WIT
Sebagian besar korban luka yang dirawat di RS Al Fatah adalah para pemuda yang mempertahankan wilayah Waiahong dan sekitarnya. Mereka kalah dalam jumlah sehingga terdesak, maka pada malam ini sebagian pejuang yang telah menguasai medan perlawanan mulai bergerak untuk melakukan serangan balasan.

Pukul 06.30 WIT
Sekitar pukul 05.00 WIT, para pejuang berhasil menyerang gerombolan salibis di wilayah Talake dan Mardika. Namun lagi-lagi aparat berpihak pada mereka dan menembaki kami. Hingga berita ini ditulis pertempuran masih terjadi.

Pukul 07.00 WIT
Kami kembali ke basecamp di masjid Al Fattah. Kami kembali berkonsolidasi dan menyusun strategi. Aparat semakin banyak dan represif tapi kami telah mulai memporak-porandakan pertahanan salibis.

12 SEPTEMBER 2011.Pukul 10.30 WIT
Bantuan aparat mulai berdatangan. Konsentrasi aparat ada di wilayah kristen. (Hal ini juga diamini oleh Ustadz Bernard yang mengatakan kepada Eramuslim.com, para aparat Brimob Nashrani dikerahkan untuk melawan umat muslim, red.). Sementara wilayah muslim kosong dari penjagaan aparat.

Pukul 8:30 WIT
Situasi mereda, karena ketatnya barikade brimob di wilayah kristen. Data sementara: 5 orang syahid (Insya Allah) dan beberapa terluka tembak dan terluka di kepala yang dirawat di Rumah Sakit Al Fattah. Insya Allah jika tak ada campur tangan aparat maka kami dengan mudah menghabisi kaum salibis.

(Sumber: Forum Islam Al Busyro).

Kalau LSM itu memang FAIR hanya ingin memperjuangkan masalah HAM saja, kenapa waktu tragedi Ambon dan muslim dibantai sedemikian rupa tidak ada yang cuap-cuap? Bahkan media juga ikut mendukung keacuhan ini!

Pembantaian Muslim Ambon Sepi Berita, Bom Solo jadi Berita Mainstream

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah peribahasa yang pas disandingkan dengan umat muslim saat ini. Hak mereka untuk mendapatkan berita yang sebenar-benarnya, sedikit sekali dapat mereka rasakan. Yang terjadi media kerap membesar-besarkan opini dan menunggangi peristiwa-peristiwa terorisme demi kepentingan menyudutkan umat muslim. Timpangnya pemberitaan antara kasus Ambon dan ledakan gereja di Solo itulah yang mengundang reaksi keras dari Ustadz Bernard Abdul Jabbar, tokoh Anti Pemurtadan yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI). Ia dengan tegas menyebut berita-berita yang beredar di media sekular saat ini terkait ledakan di Solo sebagai berita yang menyesatkan. “Media-media sekular sangat menyesatkan. Berita mereka subyektif,” katanya kepada Eramuslim.com, senin, 26/9.

Ia mencontohkan kredibilitas pemberitaan media terhadap tragedi Ambon, minggu 11/9 yang sepi dari peliputan. Tidak satupun media televisi nasional melaporkan berita secara all-out untuk menyajika fakta sesungguhnya. “Tapi kalau ledakan gereja (di Solo) media langsung meliput secara besar-besaran.” sambung pria yang juga menjadi Ketua DPP Hizbud Dakwah Islam ini.

Ketika ditanyakan apakah media-media sekular tersebut memiliki misi tertentu, Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi ini membenarkan hipotesis itu, “Oh itu jelas, mereka punya kepentingan pastinya.”
Dalam kejadian kemarin, dua televisi berita nasional, terlihat menyiarkan berita secara langsung dari tempat kejadian. Mereka juga mengabarkan kondisi Solo secara up to date dari Siang hingga malam, termasuk pagi ini. Bahkan salah satu televisi swasta, memiliki wartawan “Khusus” yang diterjunkan untuk kasus-kasus terorisme.

Namun sebaliknya, ketika kejadian di Ambom dimana umat muslim bergelimangan darah dibunuh oleh kaum Kristiani, seolah-seolah “kekhususan” wartawan tersebut tumpul.Pihak televisi pun tidak menyiarkan secara ‘provokatif’ apa yang menimpa muslim Ambon. Berbeda dengan kasus Solo.

Oleh karena itu, Ustadz Bernard Abdul Jabbar meminta umat untuk memilah fakta yang disajikan media. Ia juga berpesan agar media Islam mampu menjadi garda terdepan untuk melawan pemberitaan yang menyesatkan dari media sekuler. “Media Islam harus mampu mengimbangi pemberitaan media-media sekuler. Media Islam harus berani menampilkan fakta yang sebenar-benarnya.” Pesannya kepada Eramuslim.com.

Kalau begini bisakah media-media sekular disebut sebagai “bom” itu sendiri, yang banyak mengaburkan dan mengabaikan fakta yang sejatinya menjadi hak untuk dikonsumsi masyarakat?

Nah? Apa ini namanya kalau bukan KEBERPIHAKAN TERHADAP PIHAK TERTENTU? Kalau kalian memang peduli akan HAM secara murni, tanpa embel-embel kepentingan tertentu, ayo laporkan juga pembantaian muslim di Ambon ke PBB! Berani, nggak?
Kasus ini menurutku sama lebaynya dengan gereja Jasmine yang ingin mengadukan masalah sengketa lahan ke PBB. Lucu! Kalau kalian begitu bersemangat melaporkan kasus yang begitu sepele itu ke PBB, seharusnya kasus di bawah ini juga ikut dilaporkan!

Hari Gene, Masih Ada Penolakan Pembangunan Masjid Di Batuplat-Kupang

Kupang (voa-islam) – Meski Walikota Kupang telah memberikan persetujuannya kepada masyarakat muslim di Kelurahan Batuplat Kecamatan Kupang untuk mendirikan masjid, namun tetap saja mendapatkan penolakan dari warga Kristiani yang tinggal di wilayah itu, tak terkecuali segelintir anggota DPRD Kota Kupang.

Perlu diketahui, warga Muslim di Kelurahan Batuplat adalah kelompok minoritas. Mereka sangat mendambakan kehadiran rumah ibadah (masjid) di tempatnya tinggal. Sebagai warga yang baik, pihak panitia pembangunan masjid telah melakukan langkah-langkah prosedural untuk melengkapi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam proses pembangunannya, masjid yang dinamakan Nur Musafir ini mendapat tantangan dan penolakan oleh masyarakat sekitar kelurahan Batuplat yang mayoritas pemeluk Kristen Protestan dan Katolik. Kabarnya, penolakan warga itu akibat diprovokasi oleh Karang Taruna setempat atas pengaruh pastor dan pendeta mereka.  

Setelah menggelar Rapat Dengar Pendapat Komisi A (30 Juni 2011), terkait pengaduan masyarakat tentang rencana pembangunan Masjid Nur Musafir di wilayah itu, sudah dua kali Ketua DPRD Kota Kupang Viktor Lerik, SE melayangkan surat yang ditujukan kepada Walikota Kupang  untuk mempersoalkan pembangunan Masjid Nur Musafir di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Surat pertama (tertanggal 1 Juli 2011), menyatakan, bahwa pembangunan sebuah rumah ibadah, harus merujuk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.

Berdasarkan laporan dari Karang Taruna dan warga masyarakat Kelurahan Batuplat yang berdomisili di sekitar lokasi pembangunan masjid, pihak DPRD mempertanyakan pembangunan Masjid Nur Musafir yang  dianggap tidak prosedural.

Seperti diketahui, dalam surat pernyataan Karang Taruna Paska Kelurahan Batuplat pada 19 Juni 2011, para pemuda Kristen ini coba menggertak, sekaligus menyodorkan persyaratan pembangunan Masjid Nur Musafir di Kelurahan Batuplat. Disebutkan, pihak Karang Taruna turut memberi dukungan terhadap pembangunan masjid sepanjang sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Karang Taruna juga meminta agar ketika dalam menjalankan ibadah di masjid tidak menggunakan alat pengeras suara.

Selanjutnya, pihak Karang Taruna menuntut agar masjid yang dibangun tidak berkembang menjadi pesantren dan sarana lainnya. Diharapkan, pemerintah Kota Kupang memperhatikan pembangunan tempat ibadah bagi umat Kristen di kelurahan Batuplat.

Dengan arogan dan terkesan mengancam, pihak Karang Taruna memberi warning (peringatan) kepada Panitia Pembangunan Masjid.  Ancamannya, jika dikemudian hari terjadi gesekan, konflik atau apapun yang berbau SARA, akibat dari pembangunan masjid ini, maka Karang Taruna tidak bertanggungjawab akan hal tersebut, tapi itu adalah tanggungjawab oknum/pribadi atau kelompok yang melakukan hal tersebut.

Surat yang kedua DPRD  (tertanggal 25 Juli 2011) yang juga ditujukan kepada Walikota Kupang, Ketua DPRD kembali menggertak: “Demi menjaga keamanan dan ketertiban serta kerukunan hidup antar umat beragama, terkait pembangunan Masjid Nur Musafir Kelurahan Batuplat, untuk itu dimohon agar aktivitas pembangunan masjid dihentikan sementara, sambil menunggu situasi dan kondisi yang lebih kondusif.”

Didukung Walikota Kupang

Walikota Kupang Drs. Daniel Adoe pada 12 Juli 2011 sudah menyatakan, pada prinsipnya pembangunan Masjid Nur Musafir Batuplat telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadah sebagaimana diatur dlam pasal 14 ayat (1) dan (2).  Persetujuan Walikota itu dituangkan dalam surat keputusan Walikota Kupang Nomor: 66/KEP/HK/2010 tanggal 6 April 2010

Berkaitan dengan keluhan Karang Taruna dan sebagian warga masyarakat Kelurahan Batuplat yang mempersoalkan prosedur Pembangunan Masjid Nur Musafir, Pemerintah telah melakukan koordinasi dengan FKUB serta mengambil langkah-langkah untuk memverifikasi kembali kelengkapannya serta data-data pendukung yang berhubungan dengan kegiatan pembangunan yang dimaksud.

Berdasarkan ketentuan dan hasil verifikasi tersebut, maka Pemerintah telah memberikan persetujuan pembangunan Masjid Nur Musafir. Karena itu, tidak benar, jika ada tuduhan panitia pembangunan masjid belum memenuhi prosedur.

Berikut perlengkapan syarat yang telah dipenuhi panitia pembangunan untuk mendirikan sebuah masjid: berkas Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Badan pelayanan Perijinan Terpadu (15 Juni 2011), Sertifikat Badan Pertanahan Nasional RI, Surat Keterangan Membangun dari Kecamatan Alak dan Kelurahan Batuplat, Rekomendasi Kementerian Agama Kantor Kota Kupang (20 Mei 2010), Rekomendasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kupang, termasuk Surat Pernyataan Dukungan warga (tanda tangan) di Kelurahan Batuplat (sebanyak 65 jiwa).

Yang menarik, Walikota Kupang sendiri Drs. Daniel Adoe yang beragama Kristen itu, justru memfasilitasi pembangunan masjid dengan menghibahkan asset tanah Pemerintah Kota Kupang seluas 1.000 meter persegi (terletak di Rt 017/007 Kelurahan Batuplat Kecamatan Alak) kepada Yayasan Nur Musafir Kupang untuk kepentingan pembangunan dibidang keagamaan di Kelurahan Batuplat Kecamatan Alak Kota Kupang.

Surat DPRD (tertanggal 27 Juli) perihal Persetujuan Hibah Tanah yang ditandatangani oleh Dominggus Bolla pun menyatakan persetujuannya, sepanjang tidak bertentangan dengan peratuan perundang-undangan yang berlaku.

Intinya, rencana pembangunan Masjid Nu Musafir telah mendapat persetujuan dari walikota Kupang dan beberapa instansi terkait, sehingga produr yang telah dilampaui tersebut telah memenuhi persyaratan.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Nur Musafir Kelurahan Batuplat Muhammad Amir Pattyradja yang didampingi oleh Sekretarisnya Muhamad Kapitan Bella kepada voa-islam, meminta umat Islam dimanapun berada untuk memberi dukungan moril maupun materil dalam kegiatan pembangunan Masjid Nur Musafir. “Kehadiran masjid di Batuplat adalah kebutuhan,” kata Amir di kediamannya.

Untuk melancarkan pembangunan masjid di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT, Voa-Islam mengajak pembaca dan kaum muslimin di manapun berada agar menyisihkan rezekinya dalam rangka membantu saudara-saudara Muslim kita di sana yang sedang berjuang membangun rumah Allah ditengah penolakan masyarakat Kristen yang hendak menjegal proses pembangunannya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua. (Desastian)

Kasus ini sangat mirip yah dengan kasus gereja Jasmine… tapi mana ya LSM itu? Kok LSM itu tidak melaporkan kasus ini ke Dewan HAM PBB?
CONCLUSION
Intinya, kalau memang peduli sama HAM, seharusnya para LSM itu sama rata dalam melaporkan kasus. Jangan dipilih-pilih dan membawa kepentingan tertentu! Kalau mereka pilih-pilih begitu, bahkan orang awam seperti aku pun tahu bahwa maksud mereka melaporkan Indonesia ke HAM itu “ada apa-apanya”! Berikut ini pidato Hasyim Muzadi, mantan ketua umum organisasi massa terbesar di Indonesia, NU atau Nahdlatul Ulama:
“Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah AHMADIYAH, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.Kalau yang jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yg ingn menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?

Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tidak ada yg bicara HAM ?Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yg sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tidak menghormati agama, krn disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Tapi kalau dipikir-pikir, HAM itu hanya efektif untuk nonmuslim. Buktinya diskriminasi muslim sudah terjadi di seluruh dunia, tapi adakah yang bicara tentang HAM untuk mereka?! Sementara kalau nonmuslim dapat perlakuan tidak menyenangkan sedikit, apalagi oleh muslim, seluruh dunia goncang seolah itu adalah kejahatan terbesar sepanjang masa. Betapa sangat mendiskriminasinya!

Contohnya perbandingan yang nyata adalah tragedi 9/11 yang dilakukan hanya SEGELINTIR orang yang akidah Islamnya keliru, tapi seluruh dunia sudah mencap muslim teroris. Lalu bagaimana penembakan di Norwegia yang menewaskan banyak orang dan dilakukan oleh seorang Kristen, ADAKAH YANG MEMANGGIL KRISTEN TERORIS? Padahal penembakan membabi buta oleh Kristen bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, terutama di Amerika! Bahkan dalam sebulan ini sudah ada 2 penembakan, di Empire State dan di sebuah sekolah, TAPI KOK TIDAK ADA YANG MENYEBUT KRISTEN TERORIS?

Ya Allah, kuatkanlah agama Islam agar teguh menjadi cobaan ini. Amin.

sumber:

http://www.voa-islam.com/counter/intelligent/2011/09/16/16130/menengok-ambon-berdarah-1999-umat-islam-dibantai-orang-kristen-aparat-lokal/
http://news.detik.com/read/2012/08/28/231035/2001574/10/mahfud-md-dipicu-kasus-cinta-kasus-sampang-tak-terkait-agama?991101mainnews
http://aqse.multiply.com/journal/item/641
http://fariedrj.blogspot.com/2011/09/pembantaian-muslim-ambon-sepi-berita.html
http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/11/25/16811/hari-genemasih-ada-penolakan-pembangunan-masjid-di-batuplat-kupang/
http://masbadar.com/inilah-pidato-kh-hasyim-muzadi-yang-menjawab-tuduhan-intoleransi-di-indonesia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s