Seandainya Pejabat Mau Mencontoh Omar…

Ide ini tercetus begitu saja waktu nonton drama kolosal ‘Omar’ yang tayang beberapa waktu lalu di saat sahur. Kisah tentang khalifah kedua Islam, Umar bin Khattab RA, ini sangat menarik dan menyentuh. Lengkap dengan pengantar dari ustadz, jadi nilai-nilai keagamaannya jadi semakin kental.

Drama kolosal ini juga bukan drama ecek-ecek. Pengerjaannya sangat serius. Sebagaimana dikutip dari alarabiya.net, memakan waktu setahun setengah untuk mempersiapkan dan membuat 31 episode di drama kolosal ini. Settingnya pun sangat megah, menggunakan ribuan properti serta puluhan ribu pemeran asli dari sepuluh negara. Tak heran penggambaran adegannya juga terasa nyata, terlebih adegan perangnya yang luar biasa, tak kalah dengan karya epik Hollywood sejenis seperti The Lord of The Rings, Robin Hood, atau Braveheart. Kisah yang diangkat dari hadist dan sejarah juga akurat karena melibatkan pengkajian dari tim yang terdiri dari para ilmuwan dan pemuka agama Islam.

Memang penggambaran personifikasi para sahabat mendapatkan tentangan dari beberapa pihak, tapi menurutku selama tidak ada penggambaran personifikasi Nabi Muhammad SAW, tidak ada masalah. Lagipula ciri-ciri para sahabat sepertinya benar. Umar bin Khattab RA yang digambarkan tinggi besar dan tampan, juga Usman bin Affan RA yang rupawan dengan rambut dan jenggot keriting. Hanya Ali bin Abi Thalib RA yang sepertinya agak kurang pas soalnya aku baca dari beberapa sumber, katanya dia itu orangnya hitam atau paling nggak sawo matang,lah. Disini malah putih bersih. Ganteng sih, tapi kok mukanya lonjong, ya? Memang begitukah Ali RA? Yah, yang penting tim produksi sudah berusaha sebisa mungkin menggambarkan orang maupun suasana di Mekah dan sekitarnya pada abad ke 6-7 Masehi. Benar-benar serasa terbang kembali lewat mesin waktu. Akhirnya ngeh juga. ‘Oh, jadi seperti ini masanya Rasulullah SAW?’ Hehehe, bisa merasakan juga kayak apa sensasinya.

Yang paling menyentuh dan ‘cocok’ untuk para pejabat kita adalah episode 20-an keatas dimana Umar RA sudah jadi khalifah yang biasa dipanggil Amirul Mukminin. Disitu terlihat sekali bagaimana sederhananya seorang Umar RA. Dia menolak segala fasilitas bahkan gajinya sendiri sampai hartanya habis. Setelah didesak sekali barulah dia mau menerima gaji, itupun harus ngepres dengan kebutuhan. Salah seorang sahabat ada yang mengusulkan bahwa dia pantas hidup mewah, secara dia khalifah gitu loh, tapi Umar RA malah marah dan menghardik sahabat tersebut. Dia hanya minta 2 pasang baju dan kendaraan, juga makan yang cukup untuk keluarganya. Setiap malam dia patroli ke seluruh kota dan menolong diam-diam semua yang kesulitan.

Yang paling menyentuh adalah waktu ada ibu-ibu yang mengutuk khalifah Umar RA karena dirinya miskin, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya yang ada di hadapannya adalah Amirul Mukminin Umar RA sendiri! Sahabat Umar RA hampir menegur tapi dicegah oleh Umar RA. Lalu Umar RA pergi ke gudang negara dan memanggul sendiri sekarung bahan makanan. Sahabatnya sudah mau membawakan, tapi sang Amirul Mukminin bilang, “Memangnya kau yang akan meminggul bebanku di hari kiamat nanti?” Sang sahabat sampai sangat terharu melihat seorang Amirul Mukminin seperti Umar RA begitu bersusah-payah membawa sendiri karung itu ke tempat si ibu yang lumayan jauh dan setelah sampai, Umar RA membantu ibu itu memasak untuk anak-anaknya. “Terima kasih, kau lebih baik dari Amirul Mukminin Umar,” kata si ibu. Umar RA masih tidak memberitahunya siapa dia sebenarnya dan hanya meminta si ibu untuk ke masjid besok agar mendapat dana dari baitul mal. Benar-benar teladan, apalagi Umar RA juga seorang ahli ibadah yang tak segan menangis jika menghadapi kebesaran Allah SWT.

Bandingkan dengan pejabat di negara kita! Adakah pejabat yang hanya punya 2 potong baju dan sebuah kendaraan? Adakah yang rela patroli malam-malam untuk menolong diam-diam penduduk yang kesusahan? Padahal derajat keislaman mereka tidak mungkin lebih baik dari Umar RA!

Benar-benar miris. Ada pejabat yang gajinya sudah berjuta-juta perbulan masih minta kenaikan gaji. Memaksa untuk mendapat rumah dinas, kendaraan dinas, atau tunjangan yang sesuai dengan standar ‘kelayakan’ mereka. Sok boikot lagi kalau tidak dipenuhi. Ada yang memaksa masuk jadi CPNS meskipun tidak memiliki kualifikasi yang mumpuni hanya karena magang di kantor pemerintah bertahun-tahun. Ada yang menyuap untuk jadi birokrat. Ada yang sudah jadi PNS dan sudah terpenuhi kebutuhan hidupnya sampai mati masih juga korupsi! Memberlakukan pungli tinggi saat rakyat butuh kelengkapan administrasi atau menjual aset negara untuk kepentingan pribadi. Mana peduli mereka dengan nasib rakyat, apalagi yang miskin. Boro-boro patroli malem-malem dan menolong, kalo lewat paling juga mendengus di dalam mobil mereka yang ber-AC. Ada pengemis tua pun dihardik, bahkan dibuatkan undang-undang supaya tidak mengemis! Rakyat yang ingin mengadu pun diacuhkan. Kalau memaksa, pengawalan super ketat sudah menghadang, seolah mereka adalah raja kecil. Hidup bermewah-mewah dengan uang rakyat. Sudah begitu mengaku Islam lagi! Apa mereka tidak malu hidup dengan cara maksiat begitu? Seandainya Umar bin Khattab RA masih hidup dan sempat melihat mereka, pastilah semua pejabat kita sudah dibunuhinya satu-satu lantaran geram akan penyelewengan akhlak dan agama ini.

Ingin deh mengadakan acara nonton bareng drama ‘Omar’ ini dengan para pejabat. Yah, tahulah kalau mereka sibuk (sibuk nego korupsi?) tapi untuk mereka, mungkin drama ini bisa dipotong sampai jadi film sepanjang 2 atau 3 jam dengan lebih menonjolkan sisi kekhalifaan beliau, jadi para pejabat yang Islam bisa lihat bagaimana sebenarnya ‘pemimpin’ itu. Bukan orang yang menghabiskan puluhan miliar agar orang memilih dirinya, lantas minta dilayani dengan gaji 50 juta perbulan, plus ajudan yang lebih pintar darinya, plus pengawalan ketat, plus sopir pribadi, plus rumah dinas mentereng, plus mobil dinas keluaran terbaru, plus tunjangan yang bermacam-macam, PLUS KORUPSI BERTRILIUN-TRILIUN! Tapi orang yang sederhana bak Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA yang dipilih karena kompetensinya, lalu mendedikasikan diri untuk MELAYANI rakyatnya, tidak menghabiskan uang untuk membuat istana, tidak punya pengawal, hidup dengan hartanya sendiri, dan sangat takut akan Allah. Umar RA yang berlari sendiri mencari unta sedekah yang hilang, yang menghukum siapapun yang salah dengan putusan yang adil, yang menemui sendiri rakyatnya tanpa perantara, yang menaklukkan kerajaan-kerajaan tangguh sekelas Romawi dan Persia hanya dengan tentara sedikit, yang tidak makan daging selama rakyatnya kelaparan, yang takut diadili Allah di akhirat kalau-kalau membiarkan seorang pun rakyatnya terlantar.

Seandainya semua pejabat di negara ini seperti Umar RA, maka niscaya kesejahteraan rakyat secara total akan terjadi. Kita punya semua kekayaan alam, dari gunung emas, sumber minyak, segala jenis pertambangan, hasil laut yang kaya, tanah subur yang bisa ditanami apa saja, juga sumber daya manusia yang teramat banyak. Jika semua kekayaan alam yang berlimpah benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat dengan pejabat yang tidak bergelimang kemewahan dan takut pada Allah, maka aku yakin semua rakyat bisa hidup dengan sejahtera.

Sayangnya semua kekayaan alam sudah dijual atau dikomersialisasi dan para pejabat sudah buta dengan nikmat dunia. Sebagian besar harta negara habis buat membiayai hidup mewah para pejabat atau dikorupsi, sehingga masyarakat nyaris tidak kebagian lagi. Jadilah negara kaya yang penduduknya miskin-miskin.

Adakah kau peduli pada rakyatmu yang kelaparan, wahai pejabatku? Atau sudikah kau menoleh pada mereka yang tidak punya rumah? Atau setidaknya tahu bahwa ada yang mendapat perlakuan tidak adil di luar sana? Tidak? Bahkan pada Allah pun kau tidak takut? Sebagai bagian dari rakyat yang terdzalimi, aku hanya bisa berdoa semoga Allah melaknat semua pejabat yang lalai ini beserta seluruh keluarganya di dunia maupun di akhirat! Amin ya robbal alamin  (3x)!

 

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran

lewat gempa bumi yang berguncang

deru angin yang meraung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

Adakah kau dengar?

(Apip Mustopa)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s