Homo Dan Lesbi Dalam Kajian Islam dan Iptek

Menurut Islam, homo/lesbi jelas-jelas DILARANG, sedangkan berdasarkan kajian ilmu pengetahuan, terbukti bahwa homo/lesbi itu tidak baik bagi kesehatan. Berikut tinjauan lengkap kajian Islam dan ilmu pengetahuan modern terhadap homo/lesbi.

 

KAJIAN ISLAM TERHADAP HOMO/LESBI

Homo/lesbi itu jelas-jelas  DILARANG DALAM ISLAM. Patokannya adalah kisah Nabi Luth yang ada di Al-Qur’an, di antaranya di surat Asy-Syuara (26) ayat 160-173, An-Naml (27) 54-56 dan Al-Ankabut (29) ayat 28-34.

Bunyi surat Asy-Syuara (26) ayat 160-173 sbb:

Kaum Lut telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Lut berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan bertakwalah kepadaku. Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks) dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? Kamu (memang) orang-orang yang melampaui batas.” Mereka menjawab, “Wahai Lut! Jika engkau tidak berhenti, engkau termasuk orang-orang yang terusir.” Dia (Lut) berkata, “Aku sungguh benci pada perbuatanmu.” (Lut berdoa), “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” Lalu Kami selamatkan dia bersama keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk dalam golongan yang tinggal. Kemudian kami binasakan yang lain. Dan kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.”

Bunyi surat An-Naml (27) ayat 54-56 adalah sbb:

Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata pada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) padahal kamu melihatnya (kekejian perbuatan maksiat itu)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat(mu) bukan (mendatangi) perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, “Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang (yang mengganggap dirinya) suci.” Maka Kami selamatkan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka sangat buruklah hujan (yang ditimpakan) pada orang-orang yang diberi peringaatan itu.”

Bunyi surat Al-Ankabut (29) ayat 28-34 adalah sbb:

Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya, “Kamu benar-benar melakukan perbuatan sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Dia (Lut) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat kerusakan itu.” Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, “Sungguh kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sangat zalim.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya di kota itu ada Lut.” Mereka (para malaikat) berkata, “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Lut, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para utusan) berkata, “Janganlah engkau takut dan jangan pula bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk kota ini karena berbuat fasik.

 

Kisah lengkap mengenai Nabi Luth bisa dibaca disini. Dari situ, sudah jelas bagaimana Allah melaknat kaum Nabi Luth karena mereka penyuka sesama jenis.

Namun ada kaum Islam yang menafikan ayat-ayat ini dengan bilang bahwa itu hanya dongeng dan tidak relevan untuk masa sekarang. Apakah mereka tahu bahwa Al-Quran berlaku sampai kiamat? Bukan Al-Qur’an yang harus mengikuti kita, tapi KITA YANG HARUS MENGIKUTI AL-QUR’AN! Lagipula perilaku semacam ini (menganggap Al-Qur’an dongeng) rupanya sudah diprediksi oleh Allah 1400 tahun yang lalu dengan diturunkan dalam surat Al-Anfaal ayat 31:

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata:
“Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala.”

Jadi jelas bahwa Al-Qur’an BUKAN dongeng dan tetap relevan sampai akhir zaman. Itu juga tertuang dalam surat Al-Fathir ayat 42-42 yang menyatakan bahwa hukum Allah TIDAK BERUBAH:

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan,maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-natikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah.”

Ada pula yang bilang bahwa laknat itu hanya musibah. Untuk yang berkeyakinan begitu, silakan kaji ulang surat Asy-Syuara, tepatnya di ayat 172, ada kata-kata:

Kemudian kami binasakan yang lain.

 

Baca juga tambahannya di surat Al-Ankabut ayat 31 berikut ini:

Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, “Sungguh kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sangat zalim.”

Allah sendiri berfirman dalam Al-Quran bahwa kaum Nabi Luth itu ‘dibinasakan’, bukannya ditimpa bencana alam. Lagipula ada juga keterangan bahwa kejadian itu adalah azab sebagaimana tertulis di surat Al-Ankabut ayat 34:

Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk kota ini karena berbuat fasik.

Ada juga yang bilang bahwa istri Nabi Luth adalah orang yang patut diteladani karena toleran terhadap penyuka sesama jenis dan kematiannya wajar akibat ‘bencana alam’ di atas. WHAT THE HELL? Baca LAGI surat An-Naml, tepatnya di ayat 57 ada kata-kata:

Maka Kami selamatkan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)

Ada juga di surat Asy-Syuara ayat 171:

Lalu Kami selamatkan dia bersama keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk dalam golongan yang tinggal.

Di dalam hikayat Nabi Luth, dikisahkan bahwa istri Nabi Luth berkhianat dan karenanya tertinggal bersama kaum-kaum yang dilaknat Allah.

Sudah sampai sini, masih disangkal juga dengan teori dari ilmuwan Barat bernama ini, itu, dst… Sekarang pertanyaannya : APAKAH MEREKA LEBIH HEBAT DARI ALLAH SWT, TUHAN SEMESTA ALAM? Jawabannya tentu sudah sangat jelas, bukan?

Agar semakin yakin terhadap kebenaran kisah Nabi Luth, berikut fakta nyata tentang keberadaan tempat Nabi Luth:

“Tanda-Tanda yang Nyata” di Danau Luth 

Ayat 82 Surat Hud secara jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Lut. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Lut itu yang atas ke bawah ( Kami balikkan ), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang ) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,”.

 

Pernyataan ” menjungkirbalikkan (kota) ” mengandung makna bahwa kawasan tersebut diluluhlantakkan oleh kedahsyatan gempa bumi. Sesuai dengan keadaan Danau Lut dimana penghancuran terjadi, terkandung bukti “nyata” dari bencana tersebut.

 

Mengutip apa yang dikatakan oleh ahli arkeologi Jerman bernama Werner Keller, sebagai berikut :

 

Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika (dalam waktu satu hari ) ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat. 

 

Sebagai sebuah fakta, Danau Lut atau yang lebih dikenal dengan Laut Mati, letaknya tepat berada diatas suatu kawasan gunung berapi aktif, jadi merupakan daerah gempa bumi :

 

Dasar dari Laut Mati berada pada pusat kehancuran lempeng bumi, Lembah ini terletak diantara rentangan yang rentan antara Danau Taberiya di Utara dan pertengahan danau Arabia di Selatan. 

 

Peristiwa yang dilukiskan dengan ” menghujani mereka dengan batu belerang keras sebagaimana tanah liat yang terbakar secara bertubi-tubu” pada bagian akhir dari ayat. Ini semua mungkin berarti sebuah letusan gunung api yang terjadi di tepian Danau Lut, dan sebagai cadas dan batuan yang meletus dalam bentuk terbakar” ( kejadian yang sama terjadi sebagaimana dalam ayat 173 Suarat ash Syu’araa’ yang menyebutkan : Kami menghujani mereka ( dengan belerang ) maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.

 

Dalam kaitannya dengan hal ini, Werner Kelller nenulis :

 

“Subsidence ( surutnya arus banjir ) mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava yang melebar dan batuan basal dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan baru lapis. 

 

Lava dan lapisan batu Basalt merupakan bukti terbesar yang ledakan gunung api dan gempa bumi pernah terjadi disini. Bencana alam yang dilukiskan dengan ungkapan ” Ketika Firman Kami telah terbukti, Kami jungkirbalikkan ( kota) “, yang terjadi dalam ayat yang sama, di dalam Al Qur’an kemungkinan besar menunjuk pada gempa bumi yang mengakibatkan letusan gunung api diatas permukaan bumi dengan akibat yang merusak dan terhadap retakan dan reruntuhan yang diakibatkan olehnya, dan Allah yang Maha Mengetahui atas hal tersebut.


Sebuah citra satelit dari daerah dimana dahulunya kaum Luth pernah hidup.

Laut Mati Pandangan dari atas gunung-gunung di sekitar danau Luth
Di sebelah kiri: Sebuah ilustrasi yang menunjukkan letusan gunung api dan keruntuhan yang mengikutinya, yang mengakibatkan seluruh kaum menghilang.

Pandangan dari atas gunung-gunung di sekitar Danau Luth.

“Tanda-tanda yang jelas” yang disampaikan oleh Danau Lut sangatlah menarik, Secara umum, kejadian yang menurut Al Qur’an terjadi di Timur Tengah, Jazirah Arab dan Mesir. Tepatnya ditengah kawasan ini adalah Danau Lut. Danau Lut dimana kejadian tersebut terjadi dan daerah sekitarnya secara geologis mendapatkan perhatian seksama. Danau tersebut diperkirakan berada 400 meter dibawah permukaan Mediterania. Danau tersebut dalamnya antara 400 meter, sedangkan dasarnya mencapai kedalaman 800 meter dibawah Mediterania. Ini adalah merupakan titik yang paling rendah di seluruh permukaan bumi, Di daerah lain yang kedalamannya lebih rendah dari permukaan lautan, paling rendah sedalam 100 meter. Sifat lain dari Danau Lut adalah kandungan garammnya yang sangat tinggi, dimana kepekatannya hampir mencapai 30%. Oleh karena itu tidak ada mahluk hidup seperti ikan atau lumur yang dapat bertahan hidup di dalam danau ini. Hal inilah yang menyebabkan Danau Lut dalam literature-literatur Barat lebih sering disebut dengan ” Laut Mati”.

 

Kejadian yang menimpa kaum Lut, yang disebutkan dalam A Qur’an berdasrkan perkiraan terjadi sekitar 1800 SM. Berdasarkan pada penelitian arkeologi dan geologi, peneliti terkenal Jerman Werner Kelller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah adalah benar-benar berada di lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari ujung Danau Lut.

 

Hal yang paling menarik adalah susunan karakteristik dari danau Lut adalah bukti yang menunjukkan kejadian bencana alam sebagaimana yang diceritakan dalam Al Qur’an:

 

Di bagian Timur pantai Laut Mati adalah semenanjung El Lisan yang berbentuk seperti lidah yang menjulur ke dalam air. El Lisan berarti ” lidah ” dalam bahasa Arab. Dari daratan tidak akan nampak bahwa tanah dibawah permukaan air berguguran pada sudut yang sangat luar biasa, memisahkan air danau menajdi dua bagian. Disebelah kanan semenanjung lereng tanah menghunjam sedalam 1200 kaki. Disebelah kiri semenanjung, secara luar biasa kedalaman air tetap dangkal. Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kedalamannya hanya berkisar antara 50 – 60 kaki. Bagian dangkal yang luar biasa dari Laut mati ini, mulai dari semenanjung el Lisan smapai ke ujung bagian paling Selatan, adalah merupakan Lembah Siddim. 


Beberapa reruntuhan dari kota yang terkubur di dalam danau, ditemukan di tepian danau. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa kaum Luth telah memiliki standar hidup yang cukup tinggi.

Werner Keller menengarai bahwa bagian yang dangkal ini yang ditemukan belakangan adalah merupakan hasil dari gempa bumi dahsyat sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Disinilah dimana Sodom dan Gomorah berada dan disini pulalah kaum Lut pernah hidup.

 

Meskipun memungkinkan untuk melintasi daerah ini dengan berjalan kaki. Namun sekarang Lembah Siddim, dimana Sodom dan Gomorah dahulunya berada, diselimuti oleh permukaan datar bagian bawah Laut Mati. Keruntuhan dari dasar danau sebagai akibat dari bencana alam mengerikan yang terjadi di masa lampau diawal Millenium kedua SM, mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke dalam rongga yang belakangan terbentuk dan memenuhi lembah sungai dengan air yang asin.

 

Jejak-jejak dari danau Lut akan nampak kentara �Jika seseorang bersampan melintasi Danau Lut ke titik paling Utara dan sang Surya sedang bersinar tepat diarahnya, maka ia akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Dari kejauhan pantai akan nampak secara jelas dibawah permukaan air segaris bentuk hutan yang secara luarbiasa diawetkan oleh kandungan garam yang tinggi dari Laut Mati. Batang pepohonan dan akar-akaran didalam kilauan air yang hijau nampaklah sangat kuno. Lembah Siddim dimana pepohonan ini dahulu daunnya pernah bermekaran menutupi batang dan rantingnya adalah merupakan salah satu lokasi yang paling indah didaerah ini.
Aspek mekanis dari bencana yang menimpa kaum Lut diungkapkan oleh para peneliti Geologi. Pengungkapan bahwa gempabumi yang menghancurkan Kaum Lut terjadi sebagai akibat rekahan yang sangat panjang didalam kerak bumi (fault line ) sepanjang 190 KM yang memanjang membentuk dasar sungai Sheri’at. Sungai Sheri’at secara total runtuh 180 meter. Diantara bukt ini dan fakta bahwa danau Lut berada 400 meter dibawah permukaan laut adalah dua potong bukti penting yang menunjukkan bawa peristiwa geologis yang sangar hebat pernah terjadi disini.

 

Susunan yang menarik dari sungai Sheri’at dan Danau Lut hanya tersusun atas rekahan kecil yang memisahkan kawasan ini dari kerak bumi. Keadaan seperti tersebut dan rekahan yang memanjang baru dapat ditemukan pada waktu akhir-akhir ini.

 

Kondisi rekahan ini berasal dari daerah tepian gunung Taurus, memanjang ke pantai selaran danau Lut dan terus berlanjut diatas gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan berlanjut melintasi Laut Merah dan berakhir di Afrika. Di sepanjang jarak tersebut terdapat aktifitas gunung berapi yang sangat kuat. Batuan Basalt hitam dan lava terdapat di gunung Galilea di Israel,daerah dataran tinggi Jordania, Teluk Aqaba dan daerah sekitarnya.

 

Seluruh reruntuhan dan bukti-bukti geografis tersebut menunjukan bahwa bencana geologis dahsyat pernah terjadi di danau Lut. Werner Kelller menulis:

 

Bersamaan dengan dasar dari retakan yang lebar ini yang terjadi secara seksama di daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, terjerumus secara seketika (dalam waktu satu hari ke dalam jurang yang sangat dalam. Kehancuran tersebut terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi hebat yang mungkin disertai dengan letusan, petir dan keluarnya gas alam serta terjadinya lautan api yang dahsyat. Subsidence (surutnya arus banjir) mengeluarkan/membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur begitu lama di sepanjang patahan yang panjang. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menggelegak dari gunung api yang sudah mati, lava yang melebar dan batuan basalt dalam yang telah terkumpul di dalam permukaan batu lapis. 

 

Lembaga Geografi nasional Amerika Serikat (National Geographic) pada Desember 1957 menyatakan sebagai berikut :

 

“Gunung Sodom, merupakan tanah gersang dan tandus muncul secara mendadak diatas Laut Mati. Tidak ada seorangpun yang pernah menemukan kota Sodom dan Gomorah yang dihancurkan, namum para ilmuwan percaya bahwa kota ini dahulunya berada di lembah Siddim yang terletak melintang disepanjang tepian tebing jurang terjal ini. Kemungkinan air bah dari Laut Mati yang menelan mereka yang disertai dengan gempa bumi. 

Selain kisah Nabi Luth, azab Allah terhadap kaum homo sudah bisa dilihat secara jelas di tragedi kota Pompeii di Italia. Berikut beritanya:

Kisah Tragis Negara Homo Seksual

Gunung Vesuvius adalah lambang negeri Italia, khususnya kota Naples. Gunung berapi ini juga dikenal sebagai “Gunung Kemalangan”. Dinamakan demikian karena sebuah kota yang berada di lerengnya pernah bernasib serupa dengan kota Sodom. Kota yang bernama Pompeii ini dihancurkan karena perilaku menyimpang penduduknya. Di masa lalu Pompeii adalah kota tujuan wisata bagi masyarakat kelas atas Kekaisaran Romawi dan menjadi lambang kemakmuran. Gaya arsitektur rumah-rumahnya sungguh memukau. Penduduk Pompeii sangatlah makmur. Sayangnya, bukannya bersyukur kepada Tuhan YME atas kemakmuran itu, mereka malah menjadi bangsa berperilaku menyimpang yang berkubang dalam kemaksiatan.


Pompeii sangat tersohor karena dua hal. Pertama, kota ini memiliki arena pertarungan gladiator kedua terbesar setelah coloseum yang ada di kota Roma. Pertarungan hingga mati ini mereka adakan hanya untuk menghibur kaum kaya. Di tahun-tahun awal sejarah agama Nasrani, oleh kaisar Romawi yang beragama politeisme, arena itu menjadi tempat mengadu sesama orang Nasrani hingga mati.

kabar-aneh.blogspot.com - Kisah Tragis Negara Homo Seksual
Kedua, Pompeii berlaku sistem perbudakan yang paling tidak manusiawi. Kaum bangsawan Pompeii kerap memaksa budak mereka untuk menjadi pelacur. Para budak di bawah kerap kerap dijadikan obyek perilaku homoseksual mereka.

Alhasil kekayaan yang mereka miliki malah menjadikan mereka bergelimang dalam kenistaan dan kemaksiatan, hingga suatu saat tiba-tiba Gunung Vesuvius meletus, lalu dalam sekejap laharnya menenggelamkan kota Pompeii beserta isinya. Begitu cepatnya bencana itu terjadi, sehingga seluruh penduduk Pompeii tidak ada yang dapat melarikan diri. Bahkan, mereka yang sedang duduk tidak sempat untuk sekedar berdiri.

Pompeii, Kisah Tragis Negara Homo Seksual!!
Kejadian memukau ini baru bisa diketahui 2000 tahun setelah itu peristiwa itu terjadi. Kejadian itu mulai terkuak ketika seperempat pertama abad ke-20, para arkeolog mulai menggali sisa reruntuhannya dari bawah berton-ton batuan vulkanis. Apa yang mereka temukan adalah sejarah berusia 2000 tahun yang benar-benar terawetkan. Bencana ini menimpa Pompeii sangat tiba-tiba hingga semuanya tetap dalam keadaan yang sama seperti 2000 tahun yang lalu, seolah perjalanan waktu telah terhenti.

Pompeii, Kisah Tragis Negara Homo Seksual!!
Meskipun letusan Vesuvius sangat mengerikan, tak seorang pun sempat melarikan diri, tapi mereka membatu di tempat mereka berada. Muka, bahkan gigi dari sejumlah tubuh ini masih utuh sama sekali. Hampir semua wajah mereka menampakkan mimik keterkejutan dan ketakutan. Sebuah keluarga yang sedang makan bersama membatu seketika itu juga. Bahkan makanan di atas meja ikut terawetkan.


Disini terdapat sisi yang paling tidak bisa dimengerti dari sebuah bencana. Bagaimana mungkin ribuan orang yang menunggu untuk dijemput sang kematian tanpa mereka melihat dan mendengar apapun?.

Sisi yang nampak dari peristiwa ini menunjukan bahwa menghilangnya Pompeii mirip dengan peristiwa kehancuran sebagimana yang disebutkan dalan Al Qur’an yang secara jelas menyebutkan “pembinasaan yang tiba-tiba” seperti yang dihubungkan dengan peristiwa ini. Sebagai contoh “warga kota” disebutkan dalam Surat Yasin, bahwa kesemuanya mati secara mendadak dalam waktu yang bersamaan. Keadaan ini diceritakan sebagai berikut dalam Surat Yasin ayat 29:

Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

Dalam Ayat 31 Surat al-Qamar, sekali lagi “pembinasan seketika” ditekankan ketika penghancuran kaum Tsamud dikisahkan:

Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.

Kematian warga kota Pompeii yang terjadi secara tiba-tiba memiliki kemiripan sebagaimana diceritakan dalam ayat terebut diatas.


Meskpun demikian tidak banyak hal yang telah berubah sejak Pompeii dihancurkan. Daerah Naples dimana pesta pora berlaku, tidak serusak sebagaimana halnya daerah Pompeii yang tidak bermoral. Kepulauan Capri adalah asal muasal kaum homoseksual dan kaum nudist bertempat tinggal. Kepulauan Capri dilambangkan sebagai “surga kaum homo” dalam iklan pariwisata. Tidak hanya di kepulauan Capri dan di Italia saja, namun hampir diseluruh dunia dimana kebobrokan moral yang sama sedang terjadi dan orang-orang tetap bersikeras untuk tidak mengambil pelajaran dari kaum-kaum terdahulu.

Nah, nasehatku adalah bacalah surat Toha ayat 128:

“Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”

 

KAJIAN IPTEK TERHADAP HOMO/LESBI

Secara akal sehat, coba dibayangkan bagaimana jadinya kalau semua orang jadi homo/lesbi. Bagaimana caranya ras manusia ini bisa bertahan? Semua orang dewasa juga tahu bagaimana cara punya anak : hubungan antara laki-laki dan perempuan. Nah, kalau ideologi sesama jenis jadi semakin populer, dan banyak yang mengikutinya, bahkan seluruh dunia berubah jadi sesama jenis, lalu ANAK AKAN DIDAPAT DARIMANA? Mungkin ada yang berpikir untuk adopsi, tapi hey, kalau semua orang jadi lesbi/homo, mau adopsi dari mana? THINK OF THAT! Kita-kita yang kontra ini berpikir sampai kesitu! Lagipula kita mau dunia dijalankan dengan cara yang baik, kan? Bayangkan betapa indahnya dunia kalau semua keluarga dibentuk dari pernikahan dua orang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai dan kemudian mempunyai anak yang dibesarkan dalam cinta dan kasih sayang. Pasti kejahatan bisa diminimalisir dan dunia menjadi tempat yang lebih baik!

Selain itu, pasangan homo/lesbi rawan kena penyakit karena orientasi seksual yang tidak wajar sbb:
1. Disentri dan penyakit sejenisnya.
Ditularkan oleh berbagai bakteri melalui organ pencernaan.
2. Impotensi.
Akibat hubungan yang mereka lakukan melalui dubur, yang mengakibatkan terjadinya disfungsi syaraf di bawah otak yang secara langsung berhubungan dengan alat kelamin.
Kalau disfungsi sudah terjadi, maka hilang pulalah keseimbangan yang sehat.
3. Pendarahan pada kelamin dan anus.
Dinding anus bisa saja sobek dan mengalami infeksi. Dari situ akan muncul 124 jenis penyakit.
4. Penyakit kelamin.
Misalnya adalah siphilis, gonorrhoea, AIDS. Berikut artikelnya:

…………’Remaja gay’ dan ’waria muda’ sudah aktif secara seksual sejak berusia antara 18 dan 20 tahun. Bahkan, kebanyakan justru sudah mulai berhubungan seksual pada usia antara 15 dan 16 tahun.

Remaja yang menyalurkan dorongan seksual dengan PSK berisiko tinggi tertular HIV. Sudah banyak kasus HIV/AIDS faktor risiko (cara penularan) hubungan seksual yang terdeteksi pada remaja. Memang, persentase kasus HIV/AIDS pada remaja didominasi faktor risiko jarum suntik pada penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya).

Pada konferensi pers di Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS IV 2011 di Jogja (4/10-2011) pengurus GWL-INA (Jaringan Gay, Waria dan Lelaki yang berhubungan Seks dengan Lelaki lain) yaitu organisasi yang melakukan advokasi terhadap permasalahan gay, waria, dan biseksual di Indonesia terungkap bahwa ada kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ’remaja gay’ dan ’waria muda’.

’Remaja gay’ dan ’waria muda’ rentan tertular HIV karena mereka tidak memakai kondom saat melakukan seks anal atau seks oral. Ini terjadi karena hubungan seksual yang mereka lakukan tidak mungkin menimbulkan kehamilan seperti yang selalu disampaikan orang tua, guru dan pihak-pihak lain dalam berbagai kegiatan jika mereka melakukannya dengan pasangan atau pacarnya.

Risiko kehamilan pada pasangan atau pacar seperti yang dijejali melalui ceramah pada berbagai kesempatan kepada remaja mendorong mereka mencari penyaluran hasrat seksual yang terhindar dari kehamilan. Maka, mereka pun tidak memakai kondom pada saat melakukan seks anal atau seks oral. Padahal, ada risiko lain yang mengintip pada seks anal dan seks oral yaitu tertular IMS (infeksi menular seksual, seperti GO, sifilis, klamidia, virus hepatitis B, dll.) serta HIV.

Fakta di atas menunjukkan kesadaran ’remaja gay’ dan ’waria muda’ untuk mencegah penularan HIV sangat rendah. Kondisinya kian runyam karena pemakai jasa waria yaitu laki-laki heteroseksual, dalam kehidupan sehari-hari mereka ini bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, lajang atau duda, juga tidak mau memakai kondom jika kencan dengan waria.

Maka, tidak mengherankan kalau kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada waria. Lihat saja kasus HIV/AIDS pada waria di Jakarta ini. Tahun 2007 kasus HIV/AIDS terdeteksi pada 34 persen waria. Ini artinya satu dari tiga waria terinfeksi HIV. Kasus HIV/AIDS kebanyakan terdeteksi pada waria muda.

Di sisi lain laki-laki heteroseksual itu menjadi jembatan penyebaran HIV dari waria ke istri mereka. Itulah sebabnya kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Laporan terakhir menunjukkan 1.970 ibu rumah tangga di Indonesia terdeteksi mengidap HIV.

’Remaja gay’ dan ’waria muda’ itu biasanya melakukan hubungan seksual pertama dengan gay dan waria yang lebih tua (gay dan waria dewasa) dari mereka. Inilah salah satu faktor yang mendorong penularan HIV karena gay dan waria yang lebih tua dari mereka sudah lebih dahulu melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti.

GWL-INA memperkirakan gay dan waria di Indonesia sekitar 700.000-an. Sedangkan gay dan waria yang bisa dijangkau baru sepuluh persen dari jumlah itu melalui jaringan GWL-INA di 24 provinsi. Di provinsi yang belum ada jaringan GWL-INA tidak ada penjangkauan sehingga tidak ada upaya untuk memberikan informasi terkait dengan upaya mereduksi risiko tertular IMS dan HIV atau dua-duanya sekaligus.

Terkait dengan epidemi HIV yang kian menyebar program penanggulangan yang dijalankan pemerintah bersifat parsial dan sporadis. Celakanya, pelayanan IMS dan HIV/AIDS di puskesmas dan rumah sakit sering tidak bersahabat terhadap gay dan waria. Ini mendorong stigmatisasi (pemberian cap buruk) dan diskriminasi (membedakan perlakuan) terhadap gay dan waria.

Mengabaikan risiko penularan HIV pada ’remaja gay’ dan ’waria muda’ melalui pelayanan yang bias gender serta diskriminasi kian memperparah penyebaran HIV di Indonesia. Soalnya, pelanggan ’remaja gay’ dan ’waria muda’ adalah laki-laki heteroseksual yang akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat melalui hubungan seksual tanpa kondom, terutama di dalam nikah dengan istri. ***[Syaiful W. Harahap]***

5. Memperlemah organ keturunan penting dalam tubuh.
Dalam hal ini sperma akan berpengaruh dan akhirnya terjadi kemandulan.
6. Menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan perilaku.
7. Berpengaruh terhadap otak.
Menurunnya daya pikir disebabkan oleh menurunnya fungsi simpul-simpul syaraf.
8. Menyebabkan terjadinya pembengkakan dan pendarahan pada saluran pembuangan.

9.Rentan terserang kanker

Kaum gay juga rentan terserang kanker, sebagaimana tercantum dalam artikel berikut:

Wow, Kaum Gay Lebih Rentan Terserang Kanker

Orientasi seksual seorang pria bisa mempengaruhi risiko untuk terkena kanker. Survei terbaru menunjukkan, penderita kanker dari kalangan pria homoseks alias gay jumlahnya lebih banyak dibandingkan dari kalangan pria heteroseks.
Survei tersebut dilakukan baru-baru ini oleh Prof Ulrike Boehmer dari Boston University, sebagai bagian dari proyek yang lebih besar yakni California Health Interview. Sedikitnya 120.000 orang dewasa dilibatkan sebagai responden dalam penelitian tersebut.

Salah satu butir pertanyaan dalam kuisioner yang dibagikan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis kanker sebelumnya. Selain itu, responden juga diminta mengidentifikasi orientasi seksualnya apakah heteroseks atau homoseks (penyuka sesama jenis).

Dari 51.000 responden pria, 3.700 di antaranya pernah didiagnosis kanker. Dikutip dari Reuters, Senin (9/5/2011), perbandingan pria homoseks yang kena kanker lebih besar yakni 8 persen dibandingkan pria heteroseks yang hanya sekitar 5 persen dari seluruh responden pria.

Sementara pada responden wanita, yang pernah didiagnosis kanker jumlahnya mencapai 7.300 dari 71.000 orang. Namun perbandingannya tidak terpengaruh oleh orientasi seksual, karena pada wanita heteroseks dan wanita homoseks atau lesbian jumlahnya berimbang.

Prof Boehmer mengatakan, survei ini tidak mengungkap penyebab perbedaan risiko kanker pada pria homoseks dan heteroseks. Namun ia menduga, faktor gaya hidup serta infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ikut mempengaruhi hasil survei tersebut.

Misalnya terkait kebiasaan merokok dan minum alkohol, kaum gay atau pria homoseks lebih rentan melakukannya akibat tekanan sosial yang membuatnya stres. Selain itu karena pergaulannya cenderung tertutup, kaum gay memiliki akses yang terbatas ke berbagai layanan kesehatan.

Jujur aja, guys, Tuhan membuat alat kelamin untuk dipasangkan dengan lawan jenis (boy X girl), bukan sebaliknya. Wajar jika penyimpangan menimbulkan penyakit. Penyakit AIDS pertama kali ditemukan pada pasangan homo di Amerika, lo. Berikut cuplikan keterangannya dari wikipedia:

“……AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles

Dan penyakit ini katanya merupakan penyakit yang paling menghancurkan sepanjang masa, sebagaimana dikutip dari wikipedia:

“…….UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah.”

 

Secara lengkap, resiko-resiko untuk kaum homo tercantum dalam kajian ilmiah berikut:

 

Resiko Yang Rentan Dihadapi Oleh Homoseksual

Kategori Klinis
Oleh : Veronica Adesla, S.Psi
Jakarta, 13 Maret 2009
Setiap identitas status yang melekat pada seseorang, setiap keputusan yang dibuat, setiap tindakan yang dilakukan pasti mengandung resiko. Bahkan hidup sendiri adalah sebuah resiko  yang harus dijalani dan dihadapi. Demikian juga dengan identitas seksual, baik itu heteroseksual, homoseksual, biseksual semuanya memiliki resiko yang harus dijalani dan dihadapi.
Berbicara mengenai homoseksual, resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual, dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu berdasarkan: sumber resiko & jenis resiko.

1.    Sumber Resiko

Berdasarkan sumber resiko dapat dilihat sumber / asal usul darimana resiko tersebut datang. Maka resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual dapat dibedakan menjadi dua:

a.    Resiko yang harus dihadapi dari lingkungan eksternal

Keberadaan kaum homoseksual di tengah-tengah masyarakat dan di dalam berinteraksi / bersosialisasi dengan lingkungan senantiasa dihadapkan pada hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan tertulis maupun tidak tertulis, serta stereotipe yang berlaku di masyarakat. Misalnya saja hukum negara yang tidak memperbolehkan terjadinya pernikahan antara sesama jenis kelamin, norma agama yang tidak memperbolehkan hubungan homoseksual, aturan tidak tertulis yang berlaku di masyarakat untuk menghindari relasi dengan kaum homoseksual, menutup kesempatan bagi kaum homoseksual untuk berkarya / bekerja, bersekolah atau pun kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama dengan yang lain.
Situasi di atas  berpotensi menghasilkan reaksi dan perlakuan yang bermacan-macam dari lingkungan di sekelilingnya. Ada yang bersikap biasa, ada yang memandang sebelah mata, ada pula yang  hingga perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dikucilkan, disisihkan / dijauhi oleh keluarga, teman, dan lingkungan kerja, serta masyarakat.
Inilah sekelumit gambaran resiko-resiko yang kerap dihadapi oleh kaum homoseksual ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dan menjalin interaksi / bersosialisasi dengan lingkungannya. Tidak menutup kemungkinan ada kaum homoseksual yang menghadapi situasi dan respon berbeda dari masyarakat.  Hal ini dikarenakan adanya perbedaan hukum dan budaya yang berlaku antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian sangat mungkin terjadi kaum homoseksual tertentu di masyakat A dengan budaya dan nilai-nilai tertentu memiliki resiko perlakuan yang berbeda dengan kaum homoseksual di masyarakat B dengan budaya dan nilai-nilai yang tidak sama.

b.    Resiko yang berasal dari perilaku sendiri / lifestyle

Seorang homoseksual senantiasa berhadapan dengan adanya realitas gaya hidup tertentu yang berlaku di kalangan kaum homoseksual. Gaya hidup ini meliputi cara, perilaku, dan kebiasaan tertentu baik itu dalam mengekspresikan orientasi seksual, bersosialisasi, maupun menjalani hidup sehari-hari.
Gaya hidup tertentu pada kaum homoseksual dapat beresiko buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental & emosional, seperti: berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual (berhubungan intim); melakukan hubungan seksual yang tidak aman (tidak menggunakan kondom); melakukan anal sex; minum-minuman keras & narkoba.
Penelitian mengenai homoseksual pria menunjukkan bahwa lebih dari 75% pria homoseksual mengaku telah melakukan hubungan seksual bersama lebih dari 100 pria berbeda sepanjang hidup mereka: sekitar 15% dari mereka pernah mempunyai 100-249 pasangan seks, 17% mengklaim pernah mempunyai 250-499, 15% pernah mempunyai 500-999, dan 28% mengatakan pernah berhubungan dengan lebih dari 1000 orang dalam hidup  mereka. (Bell AP, Weinberg MS. Homosexualities. New York 19781).
Pada wanita-wanita lesbian, total jumlah pasangan seks lebih rendah, namun tetap diatas rata-rata jika dibandingkan wanita heteroseksual. Banyak wanita lesbian juga berhubungan seks dengan pria. Wanita lesbian 4 kali lebih memungkinkan untuk mempunyai lebih dari 50 pasangan pria sepanjang hidupnya dibandingkan wanita heteroseksual. (Fethers K et al. Sexually transmitted infections and risk behaviours in women who have sex with women. Sexually Transmitted Infections 2000; 76: 345-9.1)
Gaya hidup demikian beresiko terhadap terganggunya kesehatan fisik, seperti: STI’s (Sexual Transmitted Infections) / STD’s (Sexual Transmitted Diseases) termasuk HIV-AIDS; dan terganggunya kesehatan mental & emosional, seperti: kecemasan berlebihan, depresi, merusak / menyakiti diri sendiri, dsb.

2.    Jenis Resiko

Berdasarkan jenis resiko, resiko yang rentan dihadapi oleh homoseksual dapat dibedakan menjadi tiga:

a.    Resiko sehubungan dengan kesehatan mental dan emosional

London, 17 September 2008 (LifeSiteNews.com) – Sebuah penelitian baru di UK menemukan bahwa orang-orang homoseksual 50% lebih rentan mengalami depresi dan menggunakan narkoba jika dibandingkan dengan populasi normal lainnya, laporan Health24.com2.
The British Journal of Psychiatry tahun 2004, mengeluarkan sebuah hasil penelitian mengenai penyakit mental yang tinggi pada pria gay, lesbian, dan pria & wanita biseksual. Penelitian ini mensurvei penyakit mental yang dialami oleh orang-orang gay dan biseksual di Inggris dan Wales antara September 2000 dan July 2002. Survey ini mencakup 2430 orang gay dan biseksual diatas usia 16 tahun. Penelitian menemukan rata-rata yang tinggi dalam melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri baik yang di rencanakan atau disengaja di antara group ini: 42% pria gay, 43% lesbian, 49% pria dan wanita biseksual. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Consulting and Clinical Psychology menemukan hal sebagai berikut: pria gay dan biseksual lebih rentan di-diagnosa mengalami sedikitnya 1 dari 5 gangguan kesehatan mental daripada laki-laki heteroseksual. Wanita lesbian-biseksual lebih mungkin melaporkan diri mengalami masalah sehubungan dengan gangguan mental  daripada wanita heteroseksual dalam tahun-tahun sebelum mereka di interview. 24% wanita lesbian dan biseksual mengalami 2 atau lebih gangguan mental di tahun sebelumnya3.
Setelah menganalisa sekitar 25 penelitian terdahulu mengenai orientasi seksual dan kesehatan mental, para peneliti mengatakan dalam sebuah jurnal medis BMC Psychiatry bahwa resiko bunuh diri dapat melambung hingga 200% jika seseorang terlibat dalam gaya hidup homoseksual2.
Dua penelitian yang dilakukan oleh American Medical Association Archives of General Psychiatry pada Oktober 1999 menyatakan adanya hubungan yang kuat antara homoseksualitas dan perilaku bunuh diri, demikian juga dengan gangguan mental dan emosi lainnya4.
Anak muda yang mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual, lesbian dan biseksual empat kali lebih mungkin menderita depresi berat, tiga kali lebih mungkin menderita gangguan kecemasan, empat kali lebih mungkin menderita gangguan perilaku, enam kali lebih mungkin menderita kombinasi gangguan mental, dan lebih dari enam kali lebih mungkin melakukan bunuh diri4.
Data-data penelitian yang dilakukan oleh berbagai sumber diatas membenarkan adanya resiko gangguan kesehatan mental dan emosional pada homoseksual, seperti: depresi, gangguan mental, gangguan kecemasan, gangguan perilaku (melakukan penganiayaan-kekerasan seksual atau fisik / sexual or physical abuse), menyakiti / melukai diri sendiri, hingga perilaku bunuh diri.

Dinamika penyebab gangguan mental & emosional

Apakah yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan mental dan emosional seperti demikian pada homoseksual? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini:
*    Tekanan psikologis terhadap penderitaan / kondisi yang tidak menyenangkan, seperti: homophobia; HIV-AIDS; non HIV STD’s seperti: Syphilis, Anal Cancer, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts; masalah body image. Tekanan psikologis dapat membuat seorang homoseksual menjadi stres dan ketika ia tidak mampu menghadapi stres ini (distress), dirinya menjadi tidak terkendali dan tidak mampu mengkontrol dirinya sendiri. Dalam situasi demikian orang ini dikendalikan sepenuhnya oleh emosi-emosi negatif di dalam dirinya seperti: depresi, kecemasan / ketakutan yang berlebihan,  mengasihani diri sendiri, amarah, iri hati, dsbnya.

*    Negative self image

Negative self image terjadi ketika seseorang memandang dan meyakini dirinya sendiri tidak berharga, rendah diri (bukan rendah hati loh!), dan tidak berdaya (Internalised homophobia).
“Negative self image is views self as socially inept, unappealing, or inferior to others”

(www.medical-dictionary.com)

Konsep homophobia internal melihat pada sebuah pemikiran dimana kita membangun self image negatif akan diri kita sendiri akibat dari perlakuan orang lain terhadap seksualitas kita selama kita bersosialisasi5.
Negative self image terbentuk pada seorang homoseksual ketika ia dihadapkan pada: pengalaman masa lalu yang menyakitkan (ditolak dan dianiaya / disakiti baik fisik maupun emosional oleh keluarga, teman-teman bermain di masa kecil, ataupun di sekolah);  perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat (homophobia) seperti dengan: memberlakukan stereotipe tertentu mengenai homoseksual, men-cap atau memberikan label negatif tertentu, memberikan tekanan / memaksakan nilai-nilai, sikap, atau tindakan tertentu; serta faktor diskriminatif dalam hal beberapa hal seperti hukum, norma, nilai-nilai, dan aturan-aturan tertentu
Seorang homoseksual berkata: “Homophobia dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi. Hal ini merusak / mengganggu kesehatan fisik dan mental kita. Dan dapat mempengaruhi bagaimana kita menilai diri sendiri dan masa depan kita. Kita mungkin akan mencoba mengatasi tekanan tersebut dengan minum-minum, menggunakan narkoba, merokok atau seks5

*    Terlibat dalam melakukan hubungan seksual (hubungan intim) homoseksual.

Dalam sebuah wawancara dengan Zenith News, Dr. Richard Fitzgibbons, seorang psikiater anak kecil dan dewasa yang sudah berpraktek lebih dari 27 tahun mengatakan: “Dibandingkan dengan sampel kontrol yang tidak pernah mengalami pengalaman homoseksual dalam jangka waktu 12 bulan sebelum interview, pria yang pernah mempunyai pengalaman kontak / hubungan homoseksual apapun dalam periode tersebut lebih mungkin merasakan depresi berat, bipolar disorder, panic disorder, agoraphobia, dan OCD. Wanita dengan pengalaman kontak / hubungan homoseksual dalam jangka waktu 12 bulan terakhir lebih sering di diagnosa mengalami depresi berat, phobia sosial atau ketergantungan alkohol.” 4
Dia menyimpulkan dengan berkata, “Pria dan wanita dengan sejarah hubungan homoseksual lebih sering mengalami hampir semua gangguan psikiatri yang diukur dalam penelitian tersebut. Penemuan ini adalah hasil dari gaya hidup yang ditandai oleh kebiasaan melakukan hubungan seks yang sembarangan dan ketidakmampuan untuk melakukan komitmen, dikombinasikan dengan kesedihan, perasaan tidak aman yang amat sangat, amarah dan masalah ketidakpercayaan semenjak masa kecil dan remaja yang belum terselesaikan.” 4
Persepsi dan sikap seorang homoseksual terhadap hubungan seksual yang dilakukan memiliki konsekuensi terhadap kesehatan mental dan emosionalnya. Ketika ia menaruh persepsi dan sikap negatif terhadap hubungan seksual yang dilakukannya maka perasaan-perasaan tidak menyenangkan akan hadir dalam dirinya dan mengganggunya.
Persepsi dan sikap negatif ini bisa berwujud guilt (perasaan bersalah), fear (ketakutan), shame (rasa malu) karena keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya tersebut tidaklah baik, keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya bukanlah atas kehendak bebasnya sendiri, keyakinan bahwa hubungan seksual yang dilakukannya tidak membawanya pada apapun, tidak memberikan sesuatu yang berarti, atau tidak akan ada ujungnya, menjadikan hubungan seksual sebagai sebuah pelarian atau pelampiasan atas emosi-emosi negatif yang dirasakannya, dsbnya. Akibatnya, setiap habis mengecap kenikmatan sesaat, dirinya malah terluka oleh rasa tidak berguna, rasa kesepian yang dalam, kehampaan, rasa bersalah, rasa berdosa, dsb.
Akhirnya terbentuk mata rantai yang patologis (tidak sehat), melakukan hubungan seksual kemudian merasa terluka, akhirnya menyakiti diri sendiri lantas mencari pleasure / hal-hal yang dapat menyenangkan dirinya (mengobati dari rasa sakit) dengan melakukan hubungan seksual lagi dan kemudian berulang lagi dan demikianlah seterusnya.
Menurut Sanderson (www.lesbianinformationservice.org 1995), dampak-dampak dari staying in the closet / coming out bagi homoseksual khususnya wanita lesbian, adalah7:
a.    Penghindaran intimasi khususnya dari orang-orang terdekat, serta menempatkan ketegangan dalam  hubungannya dengan pasangan. Sebaliknya semakin terbuka individu tentang orientasi seksualnya, maka semakin sempurna individu tersebut dan menjadi lebih sehat, baik secara fisik maupun emosional.
b.    Menyebabkan depresi, ketergantungan terhadap alkohol, drug abuse, bunuh diri dan perilaku lain yang menyakiti diri sendiri.
Coming out adalah proses dari penemuan atau penerimaan diri sendiri dan pemberitahuan tentang orientasi lesbian atau gay (homoseksual) seorang individu kepada orang lain7.

b.    Resiko sehubungan dengan kesehatan fisik / biologis

Perilaku seksual tertentu dapat beresiko mengganggu kesehatan fisik / biologis pada kaum homoseksual. Seperti: melakukan hubungan seksual bebas / berganti-ganti pasangan bahkan dengan orang yang tidak dikenal; melakukan hubungan seksual yang tidak aman seperti: tidak menggunakan kondom dan tidak mengetahui diagnosa / status kesehatan seksual (HIV-AIDS, penyakit kelamin) pasangan main; dan melakukan anal sex adalah perilaku-perilaku seksual yang beresiko besar mengganggu kesehatan fisik / biologis kaum homoseksual.
Dr. Xiridou melakukan penelitian mengenai penyebaran HIV di antara homoseksual di Belanda dan menemukan bahwa penyebaran HIV lebih cepat diantara pasangan homoseksual yang menganggap mereka menjalani “steady” relationship / hubungan yang “tetap”. Pasangan-pasangan ini gagal untuk melibatkan diri dalam perilaku seks yang aman / “safe sex” dan terlibat dalam 6-10 hubungan seksual tambahan diluar dari hubungan dengan pasangan utama mereka setiap tahunnya. Sementara mereka yang menganggap hubungan seksual mereka adalah “casual” terlibat dalam 16-28 hubungan seksual diluar dari dari hubungan dengan pasangan utama mereka setiap tahunnya. (AIDS,17:1029-1038, 2003)3
Pejabat kesehatan British, UK pada tahun 2004 juga menyatakan keprihatinannya terhadap para homoseksual yang menggunakan Internet untuk mencari pesta seks, dimana para homoseksual yang terjangkit HIV dan yang tidak bersama-sama ikut terlibat dalam melakukan hubungan seks tanpa pengaman3.
“Sebuah penelitan epidemiologi” dari Vancouver, Canada mentabulasikan data antara tahun 1987 dan 1992 terkait kematian yang disebabkan oleh AIDS dan menemukan bahwa pria homoseksual atau biseksual kehilangan waktu hidup hingga 20 tahun dari perkiraan usia hidupnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jika 3% dari populasi yang diteliti adalah gay atau biseksual, maka probabilitas / peluang dari seorang pria gay atau biseksual yang berumur 20 tahun untuk dapat hidup sampai dengan usia 65 tahun adalah 32%, dibandingkan dengan 78% pada pria lainnya secara umum. Dampak buruk / merusak dari merokok jika diperbandingkan – perokok kehilangan waktu hidup rata-rata sekitar 13.5 tahun dari perkiran usia hidupnya3.

Resiko-resiko gangguan kesehatan yang dapat dialami dari perilaku seksual tidak sehat tersebut adalah sebagai berikut:

*    HIV-AIDS

A 1997 New York Times article reported that a young male homosexual has about a 50 percent chance of getting HIV by middle age. (Sheryl Gay Stolberg).
Pada tahun 1998, 54% dari semua kasus AIDS di Amerika Serikat adalah pria homoseksual dan menurut Center for Disease Control (CDC), 90% dari pria ini terjangkit HIV melalui akitivitas seks bersama pria lain. (Centers for Disease Control and Prevention, 1998, June, HIV/AIDS Surveillance Report 10 (1)4).
Bahkan yang lebih mencengangkan, CDC melaporkan pada tahun 1998  sekitar setengah dari seluruh kasus infeksi HIV terbaru di AS terjadi diantara orang-orang berusia dibawah 25 tahun. Diantara orang -orang berusia 13-24 tahun ini, 52% dari seluruh kasus AIDS pria yang tercatat pada tahun 1997 merupakan pria muda yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. (CDC Fact Sheet: “Young People at Risk,” Center for Disease Control & Prevention, National Center for HIV, STD and TB Prevention Division of HIV/AIDS Prevention, July 24, 19984)
Pada bulan November 2003, CDC mengatakan bahwa trend infeksi HIV naik di 29 negara bagian. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 40.000 orang pengidap HIV baru, dan 70% diantaranya adalah  pria. Dari pria yang terjangkit ini, 60% diantaranya terinfeksi melalui hubungan homoseksual, 25% melalui narkoba, dan 15% melalui hubungan heteroseksual3.
Pada April 2005, CDC mengeluarkan hasil penelitian terhadap 5.600 pria gay dan biseksual mengenai kebiasaan seks dan sikap mereka sewaktu dilakukan tes HIV. 10% dari orang yang disurvey terjangkit HIV positif. CDC menemukan bahwa di antara mereka yang terjangkit HIV positif, 77% tidak mengetahui bawah mereka terinfeksi dan 50% terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dalam waktu 6 bulan terakhir3.
Sementara menurut data WHO, di Asia jumlah penderita HIV meningkat lebih dari 150%.   Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan epidemik HIV tercepat. Menurut data KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), di Indonesia sampai dengan 30 September 2007 jumlah kasus AIDS secara kumulatif yang dilaporkan mencapai : 10384 kasus. Pencapaian ini diperoleh berdasarkan laporan  dari  32 provinsi atau 186 kabupaten / kota . Cara penularan kasus AIDS kumulatif dilaporkan melalui: IDU (Injecting Drug User) 49,5%, Heteroseksual 42%, dan Homoseksual 4%6.
Jika dilihat dari data ini, seakan kasus AIDS melalui hubungan homoseksual terbilang sangat minim.  Namun data berikutnya akan menyebutkan adanya kerentanan homoseksual terhadap IDU (49%). Oleh karena itu sepatutnya kaum homoseksual tetap peka dan peduli dalam menyikapi adanya fenomena 4% (+/- 415 orang) dari kaum homoseksual yang terkena HIV –AIDS. Penjelasan mengenai hubungan antara Homoseksual dengan kerentanan terhadap IDU akan dijelaskan setelah ini.

*    Anal Cancer

Menurut J.R. Daling et.al, “Correlates of Homosexual Behavior and the Incidence of Anal Cancer,” Journal of the American Medical Association 247, no.14, 9 April 1982, pp. 1988-90, resiko kanker anal (dubur) melesat hingga 4000% diantara mereka yang terlibat dalam berhubungan seks menggunakan lubang anal (dubur) 4.
Pada tahun 2004, pejabat kesehatan di King County, Washington, melaporkan adanya kenaikan drastis pada kasus-kasus kanker anal akibat hubungan seks homoseksual3.
*    STI’s / STD’s lainnya, seperti: chlamydia trachomatis, cryptosporidium, giardia lamblia, herpes simplex virus, human papilloma virus (HPV) or genital warts, isospora belli, microsporidia, gonorrhea, viral hepatitis types B & C and syphilis4.
Sementara penggunaan kondom dapat mengurangi resiko terjangkit HIV sebesar 85%, di sisi lain bahkan jika kondom digunakan 100% sepanjang waktu, kondom tetap gagal memberikan tingkat perlindungan yang adekuat dari banyak STD’s lain di luar HIV seperti Syphilis, Gonorrhoea, Chlamydia, Herpes, Genital Warts dan lainnya. Satu-satunya seks yang aman, selain dengan menahan diri (nafsu /hasrat), adalah dengan melakukan monogami mutual dengan pasangan yang tidak terinfeksi. (Sex, Condoms, and STD’s: What We Now Know. Medical Institute for Sexual Health. 2002)1.
c.    Resiko yang sehubungan dengan kedua-keduanya (kesehatan mental & emosional dan  kesehatan fisik / biologis)
Perilaku dibawah ini menyangkut resiko rusaknya kondisi fisik,  terganggunya kesehatan fisik / biologis serta terganggunya kondisi mental & emosional seorang homoseksual. Kedua faktor ini saling terhubung / berkorelasi satu sama lain.

*    Domestic Violence / Sex – Physical –  Emotional Abuse
Hubungan di antara sesama homoseksual seringkali diwarnai dengan kekerasan baik itu kekerasan seksual, fisik, maupun emosional. Motif dibaliknya seringkali dikarenakan masalah / gangguan mental dan emosional pada diri si pelaku homoseksual.

Sebuah penelitian terbaru akhir-akhir ini yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health menemukan bahwa 39% pria yang tertarik dengan sesama jenis pernah mengalami kekerasan / penganiayaan oleh pria homoseksual lainnya4.

Pada tahun 2003, National Coalition of Anti-Violence Programs (Program koalisi nasional anti kekerasan) mengeluarkan sebuah penelitian mengenai tingginya kasus KDRT diantara pasangan homoseksual. Penelitian ini mencatat kekerasan yang terjadi diantara pasangan gay semenjak tahun 2002 dan menemukan adanya 5000 kasus termasuk 4 pembunuhun. Data statistik yang terkumpul ini baru sebuah bagian kecil yang terkumpul dari aksi kekerasan yang ada3.
Sebuah penelitian oleh Susan Turrell berjudul “A descriptive analysis of Same-Sex Relationship Violence for a Diverse Sample” dan diterbitkan dalam Journal of Family Violence (vol 13, pp 281-293), menemukan bahwa kekerasan dalam hubungan merupakan masalah yang signifikan pada homoseksual. 44% pria gay melaporkan bahwa mereka pernah merasakan kekerasan dalam hubungan mereka; 13% melaporkan kekerasan seksual dan 83% melaporkan penganiayaan / penderaan emosional. Tingkat kekerasan lebih tinggi terjadi pada para lesbian dengan  55% melaporkan kekerasan fisik, 14% melaporkan kekerasan seksual dan 84% melaporkan penderaan emosional 4.
Menurut sebuah rangkuman yang dibuat oleh Knight-Ridder, penelitian memperkirakan bahwa kekerasan domestik / KDRT yang terjadi diantara pria gay berkisar dari 12% hingga 36%, dimana hampir sama dengan wanita homoseksual. Di dalam penelitian koalisi, 34% pernah mengalami kekerasan psikologis / simbolik; 22% pernah mengalami kekerasan fisik, dan 5% kekerasan seksual3.
Dalam penelitian terpisah yang diterbitkan dalam The Journal of Men’s Studies (22 Maret, 2003), par peneliti mencatat bahwa sebuah survey tahun 2000 mengenai KDRTpada gay menemukan dari 52 responden, 79% pernah mengalami didorong, dijoroki ataupun ditarik; 77% pernah mengalami dihalang-halangi atau dilarang keluar oleh pasangannya; 64% pernah mengalami pemukulan dengan tangan atau kepalan tinju; 54% pernah ditampar3.
Sebuah penelitian pada tahun 1998 menemukan bahwa dari orang-orang yang disurvei, 62% pernah diancam dengan menggunakan sejata dan 85% pernah mengalami kehilangan atau  kerusakan barang atau uang karena / yang dilakukan oleh pasangan yang marah. Sebagai tambahan, 39% pernah dipaksa untuk melakukan hubungan seksual oleh pasangan homoseksualnya tanpa kehendak / persetujuan dari dirinya3.

*    Substance Abuse / Penyalahgunaan NAPZA ( Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) / Narkoba

Kondisi mental dan emosional yang bermasalah; serta lifestyle / gaya hidup kaum homoseksual dapat mempengaruhi seseorang untuk menggunakan narkoba dan minum minuman keras. Penyalahgunaan zat-zat aditif ini meliputi narkoba (ectasy, putauw / heroin, ganja, morfin, kokain / shabu-shabu, cannabis), dan minuman keras. Penyalahgunaan zat demikian dapat mempengaruhi kesehatan tubuh seperti (gangguan otak, syaraf, hati, dsb.), juga dapat mempengaruhi kesehatan mental dan emosional (menjadi lebih emosional, lebih numb / tidak merasakan apapun, paranoid, delusi, halusinasi, dsb.).
Penyalahgunaan narkoba dan minum-minuman keras membuat seseorang berada dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, dan dalam keadaan demikian orang tersebut tidak dapat mengkontrol / mengendalikan dirinya sendiri. Pada saat demikian, banyak sekali resiko yang harus siap dihadapi.
Penelitian dari seluruh dunia menunjukkan adanya pemakaian narkoba yang cukup tinggi diantara pasangan homoseksual. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam The Atlanta Journal-Constitutuion (18 April, 2004), mengindikasikan adanya peningkatan trend diantara pria muda homoseksual, dimana mereka menggunakan ekstasi untuk mempertahankan aktivitas seksual selama pesta seks berlangsung. Mereka yang menggunakan ekstasi tiga kali lebih mungkin terjangkit HIV3.
Pejabat kesehatan di Seattle melaporkan pada tahun 2001 penggunaan narkoba diantara pasangan homoseksual menunjukkan trend yang meningkat, Mereka menggunakan narkoba sebagai sebuah cara untuk meningkatkan kepuasan seksual. Penggunaan narkoba berhubungan dengan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dan melakukan hubungan seks dengan pria-pria homoseksual yang tidak dikenal. The Midwest AIDS Prevention Project menerbitkan statistik berikut tentang penggunaan narkoba diantar kaum homoseksual pada tahun 20043:
Hampir 10% dari pria gay dan biseksual yang ikut serta dalam survey yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan Masyarakat kota Michigan ini melaporkan bahwa mereka pernah melakukan hubungan seks tanpa pengaman selagi mereka mabuk atau high. Diantara pria gay remaja, 68% minum-minuman keras, 44% menggunakan narkoba; sedangkan diantara lesbian: 83% mengkonsumsi alkohol; 56% menggunakan narkoba.
Pada tahun 1992 sebuah survey mengenai wanita lesbian dan biseksual di Fransisco menyebutkan bahwa 30% diantaranya pernah menggunakan narkoba  selain alkohol; 1 dari 7 wanita pernah mengalami kekerasan ketika sedang mabuk atau high; dan 29% melaporkan mengalami kekerasan seksual3.
Menurut artikel ini, “Secara konsisten data menunjukkan bahwa penggunaan narkoba – terutama yang masuk ke dalam pembuluh darah – berhubungan dengan meningkatnya resiko terinfeksi HIV sebesar 40%.” (Sharon Worcester, “Drug abuse in gay men linked to other issues: depression, partner abuse, and childhood sexual abuse are often intertwined with drug abuse,” (Family Practice News, March 1, 2005. 3)
Demikianlah gambaran keseluruhan mengenai resiko-resiko yang rentan dihadapi kaum homoseksual. Gambaran ini diperoleh berdasarkan hasil riset ilmiah dan obyektif.

Jadi kalau mau stay healthy dan berumur panjang, menyukai lawan jenis adalah salah satu solusinya!

Mungkin ada yang merasa kalau tulisan ini tidak adil, tidak memahami POV pelaku, tidak menghormati HAM, dll, tapi menurutku semua orang memiliki kebebasan berpendapat, apalagi memang aku berbicara sesuai kaedah agamaku dan didukung oleh riset ilmiah. Dan jujur saja, di Indonesia homo/lesbi belum bisa diterima sepenuhnya. Para penyuka sesama jenis juga harus tahu bahwa tidak semua orang di dunia ini mendukung mereka, karena mereka memang tidak wajar. Juga, kalau mereka selama ini berjuang  mempromosikan keberadaan mereka di Indonesia, APA SALAHNYA AKU MEMPROMOSIKAN NILAI-NILAI KEBAIKAN SEPERTI INI DI BLOG PRIBADIKU?

Semoga kita semua bisa berpikir dengan jernih dan baik 😉

 

Baca juga:

Homo Dan Lesbi Semakin Menjamur Di Indonesia

Kisah Nabi Luth dan Kaum Homo Penyuka Sesama Jenis

Islam and Homosexuality

 

sumber :

Al-Qur’an

http://groups.yahoo.com/group/Tauziyah/message/26754

http://kabar-aneh.blogspot.com/2012/02/kisah-tragis-negara-homo-seksual.html

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/terpana-ayat-terakhir-surat-toha-t48196/

http://www.ad4msan.com/2011/02/pompeii-kisah-tragis-negara-homo-seksual.html

http://n4il4.multiply.com/journal/item/167/Fakta-fakta_seputar_Kota_sodom-gomorah_dan_Pompeii?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/18/%E2%80%98remaja-gay%E2%80%99-dan-%E2%80%98waria-muda%E2%80%99-rentan-tertular-hiv/

http://obatsakit2011.blogspot.com/2011/11/bahaya-penyakit-kaum-homo.html

http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS

http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=566

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s