Indonesian Wave (Indonesiasi) di Malaysia

Selama ini bangsa Malaysia selalu diidentikkan dengan kesukaannya mengklaim apapun dari Indonesia sampai rivalitas yang begitu tinggi antar kedua bangsa. Tak ayal lagi benih-benih kebencian muncul di antara hubungan yang retak ini, puncaknya ketika 3 petugas perairan Indonesia ditahan oleh pihak Malaysia. Seruan perang, ganyang, demo, pembakaran bendera, sampai pelemparan kotoran ke Kedubes Malaysia menunjukkan keantipatian bangsa Indonesia pada Malaysia. Tapi apa mereka tahu kalau ternyata Indonesian Wave (aka Indonesiasi) berkembang pesat di Malaysia?
Bangsa Indonesia tentu boleh berbesar hati karena ternyata bukan hanya Korea yang bisa membuat hallyu/Korean wave, tapi Indonesia juga bisa melakukannya. Terutama lagi ternyata objek dari Indonesian wave adalah penduduk dari negara yang selama ini dianggap rival. ‘Diam-diam’ rupanya penduduk Malaysia sangat suka terhadap segala yang berbau Indonesia. Tidak percaya? Simak berita-berita berikut ini:

MALAYSIA TRULY INDONESIA: DARI AYAM PENYET HINGGA OPERA VAN JAVA
Malaysia Truly Asia? Mungkin sudah saatnya diganti dengan Malaysia Truly Indonesia. Restoran ayam penyet ada di mana-mana, malah sekarang aksi Sule Prikitiew bisa disaksikan di layar kaca 24 jam sehari tanpa henti.
Berapa jumlah orang Indonesia di Malaysia? Ada yang memperkirakan sekitar 2 juta orang walaupun angka pastinya susah dihitung karena banyak di antara mereka yang masuk secara ilegal. Dan jangan lupa, ada 3 juta pendatang dari Indonesia yang sudah diberi status penduduk tetap dan warganegara sejak tahun 1957 hingga sekarang.
Dengan total 5 juta dari 28 juta jiwa penduduk Malaysia, itu berarti hampir 18% penduduk Malaysia memiliki ikatan emosional dengan Indonesia. Walaupun menetap di negeri seberang, mereka masih ingin merasakan hal-hal yang berbau Indonesia.
Obat rindu yang paling mudah ya makanan. Untungnya kuliner Malaysia menggunakan rempah dan bumbu yang tidak jauh berbeda dengan kuliner Indonesia. Memasak makanan Indonesia di Malaysia nyaris tidak jadi soal, apalagi jika juru masaknya tahu bagaimana rasa yang pas.
Hingga dua dasawarsa yang lalu makanan Indonesia hanya populer di komunitas terbatas dalam bentuk makanan rumahan. Seiring dengan meningkatnya jumlah pendatang dari negara kita, makanan Indonesia mulai dihidangkan secara masal dan menjangkau konsumen lokal Malaysia. Popularitas makanan Indonesia di Malaysia dimulai oleh restoran-restoran yang menyediakan masakan Padang yang hadir di Malaysia sejak hampir dua dasawarsa yang lalu.
Popularitas masakan Padang didukung oleh kedekatan selera antara orang Sumatera dan Malaysia yang sama-sama menyukai makanan bersantan, berlemak, pedas, dan bercita rasa tajam. Kini restoran Padang bisa dilihat di seantero Kuala Lumpur.
Makanan Jawa baru masuk belakangan dipelopori oleh ayam penyet. Ayam penyet (yang dibahasainggriskan sebagai smashed chicken) lebih dulu masuk ke Singapura membawa merek Ayam Penyet “Ria”. Restoran waralaba yang sama masuk ke Malaysia sekitar awal tahun 2000-an.
Maksud awalnya hanya sebagai obat kanget bagi orang Indonesia di Malaysia, ayam penyet justru mendapat sambutan luar biasa dari orang Malaysia. Bisa dibilang Malaysia tengah dilanda “demam ayam penyet”. Berbagai restoran ayam penyet bermunculan, bukan saja yang dimiliki orang Indonesia seperti Ayam Penyet “Ria” dan “AP”, tetapi ada juga yang milik orang Malaysia. Soal rasa, tentu Anda tahu mana yang bisa dipercaya 🙂
Ada yang coba-coba memasak sendiri ayam penyet saking terpesonanya dengan keenakan ayam penyet di restoran. Tapi selama ini saya lihat tidak ada yang berhasil menyamai ayam penyet bikinan orang Indonesia.
Tak hanya soal makanan, siaran televisi Indonesia makin merasuk tajam ke layar kaca keluarga-keluarga di Malaysia. Sinetron-sinetron Indonesia yang ditayangkan televisi berbayar Astro mendapat sambutan meriah terutamanya dari kaum ibu rumah tangga. Walaupun sering ditayangkan sangat terlambat dibanding sinetron aslinya di Indonesia, itu tak jadi soal selama ceritanya runut dan sanggup menumpahkan air mata, hehehe.
Untuk memuaskan jutaan pelanggannya yang kadung jatuh cinta dengan tontonan dari Indonesia, bulan lalu Astro melakukan gebrakan dengan membuka saluran baru yang khusus menayangkan filem, sinetron, dan infotainment dari Indonesia. Diberi nama “Indo Pek” (pek = paket dalam bahasa Malaysia), dua saluran disediakan secara terpisah: Pelangi (saluran 142) yang menayangkan filem-filem termutakhir juga filem-filem jadul dari era Warkop Prambors, dan Bintang (saluran 141) yang menayangkan sinetron, infotainment, talkshow, dan juga komedi.
Kini penggemar Ketika Cinta Bertasbih, Silet, Opera van Java, atau Extravaganza bisa mengobati kerinduannya tanpa perlu pulang ke Indonesia setahun sekali. Siarannya 24 jam, lho. Sejauh ini sambutan konsumen cukup baik, paling tidak itu yang saya bisa lihat dari pembantu saya di rumah, hehehe.
Bisa dikatakan hampir segala sesuatu yang berbau Indonesia cukup punya nilai jual di Malaysia. Bukan hanya karena 5 juta orang yang memiliki ikatan emosional dengan Indonesia, tetapi warga Malaysia sendiri yang haus dengan sesuatu yang baru. Kedekatan budaya dua negara menyebabkan produk-produk Indonesia lebih mudah diterima oleh publik Malaysia.
Tidak hanya makanan dan siaran televisi, kata-kata bahasa Indonesia pun sekarang sudah digunakan meluas di Malaysia. Kata “pacaran” misalnya, baru populer 3 tahun belakangan. Juga kata “menggondol” yang mulai marak digunakan di koran dan televisi Malaysia.
Yang paling menggelikan ketika kata “luwes” digunakan dalam surat resmi di tempat saya bekerja. Hampir semua orang (99%) tidak tahu apa arti kata “luwes”. Ada yang sok tahu bilang perkataan itu diambil dari bahasa India. Dengan tenang dan senyum saya berkata “Itu bahasa Indonesia, artinya flexible“. Ooohhh macam tu ha, gumam mereka.
Ada yang bergurau kalau Indonesia hendak menganeksasi Malaysia tidak perlu susah-susah mengirim tentara. Tunggu saja beberapa tahun lagi kalau semua orang sudah bisa berbahasa Indonesia, makan makanan Indonesia, menonton siaran Indonesia, maka Jakarta hanya perlu mengirimkan gubernurnya untuk memerintah di “propinsi ke-34″ bernama Malaysia, hehehe.
Eits, jangan ketawa dulu. “Penjajahan” Indonesia dalam skala kecil sebenarnya sudah terjadi. Di pusat kota Kuala Lumpur ada kawasan bisnis bernama Chow Kit. Dulu kawasan ini dikuasai oleh pedagang Cina, tapi sekarang sudah bertukar tangan ke pendatang Indonesia. Jika berada di Chow Kit, Anda akan merasa seperti berada di Jakarta. Bukan hanya karena tulisan berbahasa Indonesia ada di mana-mana seperti foto di bawah ini, tetapi juga karena banyak copetnya, hehehe.

(Taken from http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/10/malaysia-truly-indonesia-dari-ayam-penyet-hingga-opera-van-java/)

MENIKMATI INDONESIA DI MALAYSIA
Sebuah negeri dengan berbagai karya, itulah Indonesia. Bila berkunjung ke negeri jiran, memang rasanya kita masih berada di negeri sendiri. Ya, memang karena kesamaan letak geografis, keturunan, bahasa dan budaya. Jika berkunjung ke Malaysia, tak perlu bingung untuk menggunakan bahasa Inggris. Mereka (orang Malaysia) juga bisa berbahasa Melayu yang secara struktural adalah bahasa pendahulu sebelum adanya bahasa Indonesia. Hanya saja, di negeri jiran mempunyai sistem pemerintahan yang lebih ‘agamis’ dengan 60% penduduk Islam-nya.
Hingga kini, banyak sekali film, sinetron, musik dari Indonesia yang laris manis di kalangan masyarakat Malaysia. Saat ini saja, sudah ada beberapa sinetron Indonesia yang tayang (re-run) setiap harinya. Bayangkan, di satu channel saja (TV3) sudah ada dua judul sinetron yang ditayangkan. Ada Putri Yang Ditukar-nya Sinemart yang tayang setiap Senin hingga Kamis dan Sejuta Cinta Marshanda yang tayang setiap Selasa hingga Sabtu. Stasiun TV3 juga pernah menayangkan Lagu Cinta Nirmala, Amanah dalam Cinta, Anakku bukan Anakku dan Tasbih Cinta. Seperti di Indonesia, sinetron Cinta Fitri juga membius jutaan warga Malaysia yang sekarang ini sedang memasuki akhir season pertama dan awal season dua. Di TV9, ada Cinta Fitri dan Anugerah. Sedangkan di TV berbayar, ada Cinta Melody (Astro Ria), Safa dan Marwah (Astro Prima), Kemilau Cinta Kamila 1 (Astro Prima) dan Para Pencari Tuhan (Astro Oasis). Dan masih banyak lagi judul Sinetron yang telah tayang di negeri petronas itu. Bahkan sempat beredar kabar tentang Peraturan pemerintah Malaysia yang melarang rakyatnya memasang parabola digital dan membuat warganya harus menunggu sinetron Indonesia tayang di TV setempat. Kemarin, saat perayaan Tahun baru Hijriyah, Film Dalam Mihrab Cinta juga tayang di TV-ALHIJRAH.
Musik Indonesia juga tak tertinggal. Sudah banyak groupband dan penyanyi solo Indonesia yang sudah sangat tenar di kalangan pecinta musik Malaysia. Bahkan beberapa penyanyi Indonesia melakukanlaunching album disana. Wow! Tak hanya sebagai seni suara saja, lagu-lagu Indonesia juga digunakan sebagai soundtrack dan backsound dalam berbagai program. Sampai-sampai musisi senior Malaysia, Amy Search, menyadari bahwa musik Indonesia lebih banyak digemari dan diputar di radio-radio ternama di Malaysia. Ia pun sempat berpendapat agar musik Indonesia dibatasi di Malaysia karena dapat menghancurkan pasar musik Malaysia. Amy Search juga mengatakan,”Setiap malam Kuala lumpur berubah menjadi Jakarta. Setiap radio memutar lagu Indonesia sampai larut”. Setiap Minggu pagi ada chart (deretan tangga lagu) musik lagu Indonesia yang diputar di tiga radio ternama di negeri jiran, Era FM, Hot FM dan Suria FM.
Di Facebook saja, sudah bermunculan fansclub page sinetron dan artis-artis Indonesia yang dibuat oleh orang Malaysia. Contohnya: page Pecinta Sinetron (Di Malaysia), Cinta Fitri (Malaysia), Nada Cinta (Malaysia) dan masih banyak lagi.
Semoga saja makin banyak karya anak bangsa yang mendunia.
(Taken from http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/02/29/menikmati-indonesia-di-malaysia/)

SINETRON DAN MUSIK INDONESIA MENGGEMPUR MALAYSIA
Rasanya warga Indonesia harus berbangga, karena ditengah konflik yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia, ada beberapa sinetron dan musik Indonesia yang ‘laris manis’ di Malaysia. Banyak sinetron top Indonesia yang digemari warga Malaysia. Sekarang saja, sudah ada beberapa judul Sinetron Indonesia yang tayang dinegeri multi-etnis tersebut, diantaranya:
– Cinta Fitri, Produksi MD Entertainment yang tayang setiap Senin hingga Kamis di TV9,
– Lagu Cinta Nirmala, Produksi SinemArt yang tayang setiap Senin hingga Kamis di TV9,
– Nikita, produksi SinemArt yang tayang setiap Senin hingga Jum’at di TV3,
– Putri Yang Ditukar, Produksi SinemArt yang tayang Senin hingga Jum’at di TV3, dan masih banyak lagi.
Kemarin, saat Tahun Baru Hijriyah, Film Dalam Mihrab Cinta tayang di TV’ALHIJRAH Malaysia. serta banyak lagu-lagu Indonesia yang menjadi soundtrack pada acara-acara tertentu. Contohnya, Lagu ‘Tombo Ati’ milik Opick dijadikan soundtrack dalam tayangan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah, Lagu ‘PadaMu ku bersujud’ Afghan, menjadi soundtrack salah satu acara Agama di TV3, Lagu ‘Surga Cinta’ milik ADA Band menjadi salah satu soundtrack sinetron produksi Malaysia. Dan rencananya, ada beberapa sinetron Indonesia lagi yang akan tayang di televisi negeri jiran tersebut, diantanya: KCB, Anugerah, Amanah dalam Cinta, Antara Cinta dan Dusta, Sejuta Cinta Marshanda, Benci Bilang Cinta, dan masih banyak lagi.
Sebuah kebanggaan bagi Indonesia ketika berbagai isu politik yang menerjang hubungan kedua negara ini. Ya, Selamat sekali lagi untuk seniman-seniman Indonesia yang sangat kreatif menciptakan sebuah karya.
Wonderful Indonesia 🙂
(Taken from http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/11/28/sinetron-dan-musik-indonesia-menggempur-malaysia/)

Mari kita lihat satu-satu kehebatan produk negeri kita, Indonesia, di Malaysia.

MUSIK
Musik Indonesia kini menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan menyebar dengan pesat ke Malaysia. Orang Malaysia sendiri mengakui kehebatan musik karya bangsa Indonesia:

KC ISMAIL: MUZIK INDONESIA LEBIH PROGRESIF DARI MUZIK MALAYSIA
by fairy (25-Mar-2002)
DeeJay KC Ismail? Siapa tu? Pasti ramai pengunjung website ini yang tertanya-tanya identiti KC Ismail ini. Mungkin juga ada yang sudah tau! Ya, jikalau anda peminat muzik Indonesia di Malaysia, anda pasti kenal DJ KC dari salah satu rancangan radionya yang berjudul Carta Baik Banget. Show ini selalu berkumandangan di gelombang radio Rediffusion frekuensi 104.9Mhz di KL. Saya mula kenal rancangan ini dari Oktober 2001 dan cuba untuk mengikutinya setiap Sabtu dari jam 10 pagi-12 tengahari.
Konsep show CBB ini simple saja: DJ kelahiran Pulau Pinang ini akan putarkan 10 lagu-lagu terpopular dari Indonesia mengikut carta lagu-lagu ngetop di Indonesia. Dia juga menyelitkan beberapa segment menarik seperti Nostalgia iaitu putaran lagu Indonesia yang klasik dan popular dari beberapa tahun dahulu, dan satu lagu Indonesia baru ekslusif yang hanya boleh didengar di rancangannya. Buat penggemar muzik Indonesia di sini, rancangan CBB ini memang 120 minit yang sangat berharga setiap Sabtu pagi. Selain dari berita terbaru dunia muzik Indo, kadang-kadang KC akan adakan interviu dengan artis undangan dari sana. Yang menarik lagi tentang show ini adalah chatroomnya di mIRC server Dalnet, #cartabaekbanget. Jadi sambil KC mengendalikan shownya, dia juga tidak lupa melayan Indo music fansnya online.
Baru-baru ini saya dapat bertemu dengan KC untuk sekadar ngobrol-ngobrol (borak) dan bertukar pengalaman dan pendapat tentang muzik Indonesia. Saya tidak pernah mengenalinya sebelum ini; ini adalah pertemuan kami yang pertama. Banyak yang kami perbincangkan, dari bagaimana KC mula membina show CBB ini, diskusi tentang perbandingan industri muzik Malay dan muzik Indo (topik ini paling hangat!), sampailah ke cerita-cerita peribadi KC bersama teman-teman dekatnya dari Indonesia yang kebetulan juga artis popular seperti Krisdayanti, Dhani Ahmad dari Dewa dan Melly Goeslaw.
How did CBB started?
CBB sebenarnya sudah berada di radio selama dua tahun. Sebelum kelahiran show ini, KC memang sering memainkan lagu-lagu yang digemarinya dari Indonesia di slot airtimenya. Oleh kerana muzik Indonesia yang terbaru sulit untuk dicari di Malaysia, beliau mendapat stock lagu-lagunya menerusi seorang kawan yang kebetulan selalu ke Jakarta untuk menguruskan businessnya di sana. Lama kelamaan setelah semakin ramai orang menyedari akan keunikan lagu-lagu dari Indonesia, boss KC pula mencadangkan KC membuat show CBB ini.
Saya tanyalah KC, “Macam mana boleh namakan show ni Carta Baik Banget?” Menurut KC, judul show ini diinspirasi oleh Krisdayanti yang sering sekali berkata “banget” (sangat) di setiap ayat(kalimat)nya apabila memuji sesuatu (contoh: keren banget! – cool gile). So, jadilah show Carta Baik Banget. Apparently KC dan Krisdayanti ni memang kamceng (akrab) semenjak Krisdayanti datang ke Malaysia kira-kira dua tahun lalu untuk mempromosi albumnya yang mengandungi lagu Menghitung Hari. KC pula was proud to tell me that he was the first DJ yang membawa masuk dan memutarkan lagu Menghitung Hari di tanahair kita, meskipun sebenarnya kita sudah terlambat satu tahun di belakang Indonesia di mana lagu itu sudah lama popular.
Setelah bertahun menempuh cabaran dan dengan suksesnya CBB ini, KC sekarang terkenal di kalangan artis dan label company Indo as the mad-about-Indo-music DJ dari Malaysia. Jadi sekarang KC tidak bersusah payah harus membeli album-album baru Indonesia, malah dia dikasi gratis (percuma) oleh pihak label untuk dipromosikan di sini; setiap kali KC ke Indonesia, tangan dan begnya pasti tidak kosong! Yang best lagi tu, semua album-album itu menjadi koleksi personal KC, tidak satupun menjadi sebahagian dari library muzik stesyen radionya dan untuk menjaga exclusivity CBB, dia tidak berkongsi lagu-lagunya dengan mana-mana pihak lain yang ingin menyiarkannya. Ya, bener-bener ekslusif deh!
Kenapa muzik Indonesia? What about muzik Malaysia?
“Lagu-lagu dari Indonesia best, fresh, tidak seperti majoriti lagu-lagu kita di sini, lembik, kurang variasi!” Begitulah pandangan KC yang kebetulan juga seorang Baladewa (fans Dewa) setia. Untuk berlaku tidak prejudice terhadap artis-artis kita yang ingin menampilkan sesuatu yang baru, KC juga memainkan lagu-lagu lokal yang boleh dikatakan bagus dan progresif juga dalam rancangan radionya yang lain, khususnya RedZone yang ke udara setiap hari Ahad jam 9 pagi – 12 tengahari. Keistimewaan KC sebagai DJ radio adalah pemutaran lagu-lagu yang tidak mainstream tapi masih cool dan susah dicari. Tapi KC memang tetap pengkagum dan pecinta muzik Indonesia.
Namun tidak dapat dinafikan bahawa industri muzik di Malaysia ini sedikit ketinggalan dan berlainan fokus dan aliran jika dibandingkan dengan progress muzik di negara jiran kita. KC dan saya bersependapat bahawa muzik lokal yang mainstream di Malaysia adalah monoton, tidak banyak perubahan dalam formula, kurang eksperimental, kebanyakannya jenis muzik cengeng dan sangat dipengaruhi oleh kuasa market dan pihak-pihak label yang terlalu memilih dalam menerbitkan album artis.
Banyak faktor sebenarnya yang mempengaruhi ketidakmajuan muzik di negara kita, tapi yang jelas semua pihak yang terlibat mempunyai contribution masing-masing kepada fenomena ini.
Label companies tiada faith?
Syarikat label tidak suka mengambil risiko, mereka jarang mau menerbitkan artis-artis yang menampilkan konsep yang lain daripada apa yang market demands. Mereka terlalu fokus kepada keuntungan sesebuah album itu daripada benar-benar ingin menyajikan variety muzik. Ya, kita boleh faham, kerana companies ini dalam arena business dan ingin break and exceed cost dan segala macam, tetapi kalau formula sukses itu dipakai berulang-ulang kali dan setiap artis baru yang ditampilkan itu adalah klon-klon artis yang sudah popular dan meledak di pasaran, tidakkah bosan kita sebagai pendengar muzik tanahair mendengarnya?
Lihatlah berapa ramai artis perempuan yang meniru gaya Siti Nurhaliza dan tidak ada seorang pun yang berani membawa konsep yang eccentric, original dan berbeza. Siti Nurhaliza telah berduet dengan Dato’ SM Salim, tetapi orang lain juga terburu-buru untuk mengikuti konsep tersebut, contohnya Syura dan Dato’ M. Daud Kilau dengan lagu Tenung-tenung, Renung-renung. Kenapa? Sebab Siti telah berjaya dahuluan dengan formula itu, jadi artis lain ingin “menumpang” dalam meraih ke’glamer’an itu sebab itu telah terbukti sukses. Wow, “original”nya.
And what is up with those Malay compilation albums?? Balik-balik compilations. Nampak sangat kita lacking material baru!
Yang menyedihkan lagi, saya dengar dari KC, department lagu-lagu Melayu di label-label company tanahair semakin berkurangan kerana kurang sambutan dari public sehingga akhirnya pihak label juga kehilangan faith dengan industri muzik kita sendiri. Penjualan album kita juga mediocre. Bayangkan, penjualan album kumpulan popular Indonesia Sheila on 7 di Malaysia itu saja berjaya mengatasi jualan album Siti Nurhaliza! Artis kita sendiri kalah di gelanggang kampung. Is it time for change? You betcha! Orang kita sudah bosan dengan sajian muzik lokal sehingga berpaling muka ke artis seberang.
CD kita mahal sangat!

Harga-harga kaset dan CD local kita juga tidak berpatutan sebenarnya. Kalau di Indonesia, album-album para artis mereka sendiri sudah tentu lebih murah daripada harga album dari luar Indonesia. Contohnya, di Indonesia, CD local yang paling mahal adalah Rp.50.000 (sekitar RM20) dan itu adalah CD artis yang paling popular dan hangat pada masa itu. Harga buat CD internasional selalunya lebih jauh dari pada harga Rp.50.000 itu dan justru ini menjadi product differentiation in price, jadi orang boleh terima dengan baik harga CD local. It only makes sense that home-grown products should be cheaper, ye tak?
Tetapi harga CD artis kita di Malaysia adalah sekitar RM40-45 ringgit sekeping, padahal dengan harga yang sama saya boleh saja membeli artis internasional yang lebih jauh bagus dari segi kualiti muzik. Bingung gak sih?
Macam mana aktiviti pembelian album cetak rompak tidak mendominasi penjualan album artis-artis kita, sebab harganya (terutamanya CD) itu tidak menggalakkan para peminat lagu-lagu Malaysia untuk membeli yang original. Tapi ye lah, in the first place album-album kita juga kurang menarik dan orang semua tak sanggup untuk mengeluarkan wang untuk membeli yang asli. Album-album kita selalu punya sindrom one-hit wonder: satu lagu je yang sedap, yang lain semua bangang.
However, we have a mind-boggling situation to think about jugak. Usually whatever is in the market is because of what people demand for. Jadi kalau muzik mainstream tanahair masih cengeng dan meleleh, itu bermakna majoriti pendengar muzik Malaysia are actually wanting this type of music, betul tak. How sad is that?
Band-band Malaysia nyanyi in English
Kemunculan band-band underground kita juga sangat impressive dan progressive, tapi mereka kebanyakannya bernyanyi dalam bahasa Inggris jadi susah sikit untuk meraih pendengar yang banyak di kalangan penggemar muzik tertentu. Itu juga menjadi perdebatan isu, kenapa band-band underground lebih gemar bernyanyi dalam Bahasa Inggeris dan bukan Bahasa Malaysia? Band-band di Indonesia banyak yang bernyanyi dalam Bahasa Indonesia dan boleh saja ngetop tuh.
Namun sebenarnya hal itu adalah isu sosio-budaya. Bahasa utama di Indonesia adalah Bahasa Indonesia di mana 90% penduduknya adalah berkulit sawo matang (alias pribumi) manakala di Malaysia status Bahasa Malaysia dan Bahasa Inggeris itu sebenarnya sedikit seiring selangkah, memandangkan separuh dari 22 juta penduduk kita adalah dari berbagai kaum yang non-Malay. Jadi sebenarnya band-band kita sangat mengharap untuk capitalize dari peminat muzik yang bahasa ibundanya bukan Bahasa Melayu tapi tidak selalunya berjaya.
Artis Malaysia tiru Indon
Walaupun kita sangat kritik dengan perkembangan dunia muzik Malaysia, kita masih boleh bangga dengan artis yang benar-benar mengkagumkan seperti Sheila Majid. Artis kita juga menyedari selera segelintir besar pendengar muzik kita semakin progressive, mereka sekarang sibuk untuk menukar image dan mengikuti konsep muzik Indonesia. Sudah ramai artis kita yang approach KC untuk meminta lagu karya penulis muzik Indonesia seperti Melly Goeslaw dan Dhani Ahmad (disebabkan KC ini adalah pengantara terkenal between industry muzik kita dan muzik mereka).
Ramai artis kita yang terkejar nak nyanyi lagu ciptaan Melly, lihat saja di album Fauziah Latiff ada satu lagu ciptaan Melly yang saya tak ingat namanya. KC juga telah berjaya mendapatkan Nora lagu ciptaan Melly yang berjudul Terhitung Hari serta untuk satu lagu Umie Aida berjudul Kasih. Kumpulan Exist sekarang mengakui bahawa mereka sangat suka muzik Dewa dan berusaha untuk menyajikan lagu-lagu baru dengan lirik ala Dewa. Basically kita sekarang tergila-gila dengan muzik Indonesia kerana kita sudah kehabisan kreativiti dan Indonesia lah rujukan kita untuk berkembang, memandangkan kita ini serumpun. Indonesia itu big brother kita lah, lebih kurang.
Menurut KC bagus lah kalau artist kita ingin move forward, dan sebagai permulaan Indonesia dijadikan reference for change. Indonesia ini pula pandai mengambil inspirasi untuk membuat lagu-lagu berdasarkan lagu-lagu di luar negara mereka, sekarang saja muzik mereka banyak dipengaruhi dan diwarnai irama Brit pop yang memang menyenangkan dan menarik.
Kegiatan KC di Indonesia
KC ini juga penggemar budaya Indonesia, seperti saya. “Jika saya masih bujang, mungkin saja saya tinggal di sana,” ujar KC. Tahun lalu KC sering ke Jakarta untuk mengambil bahan baru untuk CBB, sehingga dalam satu bulan itu dia boleh ke sana sampai dua kali. Selalunya dia ke sana di atas biayaan sponsor, tetapi kalau sponsor tidak ada, dia akan mengeluarkan wangnya sendiri untuk ke sana. “(Airline) Merpati sampai dah kenal sangat dengan saya, kadang-kadang dapat diskaun!” kata KC sambil tertawa.
Setiap kali dia ke sana, pasti KC akan cuba untuk mendapatkan interviu untuk siaran di CBB. Sampaikan dalam satu trip itu dia boleh mendapatkan berbelas rakaman interviu artis-artis Indonesia, jadi dia simpan semuanya dan memainkannya satu per satu untuk beberapa minggu. CBB siaran 23 Mac 2002 lalu menampilkan Melly Goeslaw dan Anto Hoed selaku pencipta album original soundtrack buat filem Indonesia baru, Ada Apa Dengan Cinta (A2DC) tapi rakamannya berlaku di Jakarta dan bukan di studio kita seperti yang saya sangka.
Sekarang KC sudah jarang ke Jakarta berbanding tahun lalu disebabkan dia sibuk dengan urusan lain di sini. Jika KC tidak sibuk berjalan-jalan di Jakarta melawat setiap label company di sana untuk kutip album baru, dia akan terlibat dalam pengurusan artist Indo yang datang ke sini (kalau kebetulan ada yang ingin datang buat promosi album baru) serta menyibukkan diri dengan kerja produksi rancangan TV, penulisan skrip, voice over iklan dan penciptaan lirik lagu untuk artis-artis kita.
Gile teh botol!
Apa lagi yang KC selalu bawa pulang dari Indonesia, selain album-album baru? “Ye lah, selain album, majalah, buku… berkotak-kotak TEH BOTOL! Sampai berat gile bag!” Kita berdua ketawa sambil terkenang rasa manisnya teh botol Sosro. “Minum dari kotak tak sedap sangat, yang memang layan tu kalau minum dari botol straight, di hari panas dan teh itu sejuk baru keluar dari peti ais, wus….”, KC berkata, mengelamun. Hmm… my kind of friend ni! Semua yang saya suka di Indo, dia pun suka.
“Kalau untuk bab muzik, memang Indonesia is a happening place lah, tapi saya rasa kehidupan di Malaysia lebih selesa dan bersih. Di Jakarta sangat polluted, ramai sangat manusia, tak tahan kadang-kadang. Gaji pekerja juga sangat kecil. Jurang ekonomi antara orang miskin dan orang kaya sangat prominent di sana., tidak seperti di Malaysia di mana orang middle-class adalah majority,” KC berucap semi-serius. Saya mengangguk setuju.
Makasih Mas KC!
Yang jelas KC adalah seorang yang asik buat ngobrol-ngobrol kerana dia juga appreciate budaya keren (gempak alias cool) kawan-kawan kita di negeri seberang yang berpopulasi 200-lebih juta umat itu. Trait ini sangat terserlah apabila kita meneliti ketekunan KC dalam pembikinan show Carta Baik Banget yang disiarkan setiap pagi Sabtu di Red104.9: sangat penuh dedikasi dalam menyajikan berita hiburan dan lagu-lagu terbaru dari sana.
Terima kasih KC di atas keluangan waktu untuk bertemu dan berkongsi cerita dengan Fairy
Apa masa hadapan industri muzik Malaysia?
Ya, jika kita masih terus dengan mentaliti muzik cengeng dan kampungan, pendengar muzik kita akan lari ke muzik dari Indonesia, kerana itu lah yang ternyata lebih keren dan progressive. Mari kita belajar dari para seniman yang benar-benar mendalami hasil seninya, dan tidak hanya memikir markat, market, market!
Jangan sampai boleh provoke DJ KC membuat Carta Basi Banget untuk lagu-lagu Malaysia, sudah…
DJ KC Ismail would love to hear from you about Carta Baik Banget. Send all questions and suggestions to kcismail@yahoo.com.

(Taken from http://www.myindo.com/story/125.asp)

Saking populernya musik Indonesia di Malaysia, sampai-sampai musisi lokal setempat merasa terancam dan berniat memboikot produk-produk Indonesia secara drastis:

MUSIK INDONESIA DI MALAYSIA
Lagi-lagi soal budaya Indonesia di negara tetangga Malaysia yang masih serumpun. Dunia musik Indonesia dan Malaysia tengah memanas dimana Persatuan karyawan industri musik Malaysia mengusulkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di radio.
Pada intinya persatuan tersebut mengusulkan dan memprotes agar radio di Malaysia tidak terlalu banyak menyiarkan lagu-lagu Indonesia karena dikawatirkan akan menurunkan pangsa pasar album penyanyi Malaysia. Oleh karena itu mereka mengajukan tuntutan kuota 90 % siaran lagu Malaysia, dan 10 % untuk lagu dari Indonesia. ( sumber : Seputar Indonesia, 11/09/2008).
Sebelumnya pernah juga heboh masalah wayang, batik, reog dan angklung, bahkan lagu Rasa Sayange yang diklaim oleh Malaysia, walaupun akhirnya bisa diselesaikan. Cerita masalah budaya Indonesia, dan wayang kulit ini merupakan budaya asli dari Indonesia yang sudah ada sejak jamannya leluhur kita.
Taken from http://sukolaras.wordpress.com/2008/09/13/musik-indonesia-di-malaysia/

Untungnya hal itu tidak terjadi dan musik Indonesia kembali membanjiri Malaysia.

DUNIA MUSIK INDONESIA – MALAYSIA KEMBALI MESRA
Karena bisnis musik lokal terpuruk, tiga tahun belakangan Malaysia kalang-kabut. Muncul peraturan, musik non-Malaysia hanya boleh diperdengarkan 20 persen dari seluruh musik yang diputar di radio Malaysia. Padahal sebelumnya, menurut data yang juga mereka keluarkan, musik Malaysialah yang dapat porsi 20 persen. Terjadi dan mengalir begitu saja, bukan karena rekayasa.
Ini situasi mengerikan. Tapi ketika peraturan seperti di atas dikeluarkan, baik pihak radio, promotor pagelaran akhirnya menjerit juga. Maslahnya, kuping pendengar musik di sana lebih akrab dengan musik luar, termasuk musik Indonesia.
Sejatinya, karena bahasa yang berumpun sama (Indonesia, Malaysia dan Melayu Singapura) tak heranlah kita akhirnya masing-masing bisa menyelusup dengan cantik. Di Indonesia, akhir 80-an gempuran musik Malaysia juga terjadi. Kehadiran Search dengan Isabella-nya, Sheila Madjid, Siti Nurhaliza, dan seabreg band dan penyanyi vokal sungguh mengimbangi, kalau nggak mau dibilang menggilas bisnis musik Indonesia.
Apakah Indonesia menjerit? Tidak. Yang dilakukan Indonesia adalah mengikuti trend yang berlaku. Maka muncullah lagu-lagu baik pop, rock yang kemelayu-melayuan. Akhirnya berimbang. Musik Malaysia masuk di sini, musik Indonesia diterima di sana. Sungguh suasana yang harmonis.
Sejak ada peraturan Malaysia, bisnis musik kita sedikit tergelitik. Ada pasar yang diperkirakan hilang, pasar di negeri jiran itu.
Tapi alhasil tak ada yang bisa dibendung. Setiap bulan hingga sekarang, ada saja yang berpromo di Malaysia, dan belakangan Amy Search juga menghadirkan Isabella versi kekinian di sini. Dia malah bebas berpromo di televisi-televisi kita.
Hari ini (2/5), bahkan sejak semalam, mulai dari Ungu, Slank, The Rock, Iwan Fals dan Radja band, menggempur lapangan parkir A, Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Promotornya orang Malaysia. Kita tahu, ini adalah potensi gila-gilaan. Lapangan yang berkapasitas 35 ribuan orang itu, diperkirakan penuh (mayoritasnya tentu orang Indonesia yang di sana). Tapi apapun, ini adalah potensi yang tak bisa didiamkan.
Begitu pula di Singapura, kita harus cukup berbangga ketika belum lama Ungu bisa berpanggung di Indoor Stadium, Singapura, tempat biasa digelar konser musisi dunia. Penonton mereka 5000-an. Luar biasa.
Nah, jika potensi-potensi ini bisa diterjemkan itdak emosional, barangkali ke belakang justru 3 negeri jiran ini seharusnya bikin kesepakatan dan kesepahaman, khususnya dalam berbisnis musik. Masalahnya, bisnis inilah yang kemudian membuat banyak hal berantakan.
Kita juga tahu, musisi-musisi ketiga negara ini banyak sekali yang saling berkaitan, bukan lagi hanya sekadar influens, tapi juga sudah bersahabat kental. Seharusnya inilah yang dibangun ke depan, bagaimana saling menghargai budaya masing-masing, dan bagaimana mengintip menyatukan keberagaman itu menjadi sesuatu yang luar biasa.
Memang, hal ini harus melibatkan seniman-senimannya, bukan hanya pebisnisnya, atau malah politisinya.
Semoga.
* Hans Miller Banurea
(Taken from http://kasakusuk.com/dunia-musik-indonesia-malaysia-kembali-mesra)

MALAYSIA TAK AKAN HAMBAT ARUS MUSIK DAN FILM INDONESIA
Kuala Lumpur (ANTARA News) – Menteri Penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin, mengatakan negaranya tidak akan menghambat arus musik dan film Indonesia ke Malaysia, walaupun masuknya musik negeri jiran itu banyak menuai protes dari pemusik dan industri hiburan negeri itu.
“Sejak dulu hingga sekarang Malaysia selalu terbuka terhadap musik dan film negara luar, walaupun ada disuarakan dari industri musik dan film Malaysia terlalu banyaknya group musik dan film Indonesia ke Malaysia,” kata Zainuddin, kepada pers di Kuala Lumpur, Kamis.
Ia mengemukakan hal itu dalam jumpa pers seusai melakukan penandatanganan MoU antara Indonesia dan Malaysia, Kamis, di Kuala Lumpur.
Penandatanganan kerjasama di bidang informasi dan kebudayaan kedua negara dilakukan Menkominfo Indonesia, Mohammad Nuh, dengan mitranya Zainuddin Maidin.
Sebelumnya, pemusik Malaysia seperti Amy Search dan Hattan meminta agar ada filter terhadap banjirnya musik dan film dari Indonesia ke Malaysia, jika tidak, maka industri musik dan film Malaysia akan mati.
Keduanya meminta radio dan TV Malaysia untuk tidak terlalu banyak mempromosikan musik dan film Indonesia.
Mereka ibaratkan, “Anak kera di hutan disusui, sementara anak sendiri mati kelaparan.”

Diakui bahwa group musik, penyanyi, dan film-film Indonesia membanjiri Malaysia.
Belum lama ini Peterpan meluncurkan album ke-3 di Kuala Lumpur, lalu datang Rossa, Agnes Monica, kemudian Letto. Pada Agustus ini, akan ada konser group musik Ungu dan Samson serta Marcell yang akan tampil di Ruums Cafe dan Planet Hollywood.
“Saya juga heran mengapa bila ada film China masuk Malaysia, masyarakat China Malaysia ribut. Jika ada film Indonesia, maka masyarakat Melayu ribut, tapi jika film Amerika yang benar-benar merusak nilai tidak diributkan. Pemikiran seperti ini yang harus diketepikan terus. Malaysia tidak akan menutup pasarnya jika musik dan film Indonesia punya kualitas mengapa tidak kita beli,” kata Maidin.
Sebagai contoh, beberapa hari ini, film Indonesia “Anak Cucu Adam” yang dibintangi Syahrul Gunawan dipindahkan jam tayangnya dari jam 2.30 ke jam 21 malam (primier time) di RTM. Pemindahan itu untuk menyaingi film “Susuk” yang diputar TV3 (swasta).
“Film Indonesia kami jadikan film unggulan di RTM 2 untuk menyaingi film Malaysia yang ditayangkan TV3,” ujar Maidin.
Sementara itu, Menkominfo Mohammad Nuh mengatakan pasar musik dan film Indonesia tidak tertutup bagi produk asing. “Banyak film Korea Selatan dan Taiwan kemudian disukai oleh masyarakat Indonesia,” katanya. (*)

(Taken from http://www.antaranews.com/print/72503/govt-offering-79-infrastructure-projects-to-investors)

Meskipun lagu Indonesia sudah sangat marak di Malaysia, namun ternyata tidak demikian halnya dengan lagu Malaysia di Indonesia.

LAGU MALAYSIA SUSAH MASUK KE INDONESIA
Jakarta – Pada tahun 90-an, lagu-lagu dari musisi Malaysia sempat populer di blantika musik Indonesia. Sebut saja band Slam dengan ‘Gerimis Mengundang’ dan Exist yang amat terkenal dengan hitsnya, ‘Mencari Alasan’.
Menurut penyanyi Malysia, Sheila Majid, saat ini musik yang berasal dari negaranya susah untuk masuk ke Indonesia. Hal tersebut disebabkan persaingan yang semakin ketat dan perubahan selera pasar.
“Sebenarnya saya sudah tua, tapi saya merasa beruntung bisa mengeluarkan musik dengan warna yang baru di Malaysia juga Indonesia. Kalau mau dibilang, lagu Malaysia susah masuk ke Indonesia, saya alhamdulillah masih bisa masuk,” ujarnya saat ditemui di Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (12/2/2011).
Selain Sheila Majid, bisa dibilang hanya Siti Nurhaliza yang masih eksis dan memiliki penggemar setia di Indonesia. Dalam waktu dekat ini, Sheila akan menggelar konser di Indonesia untuk peringatan 25 tahun kariernya di dunia musik.
Sheila akan tampil dalam konser bertajuk ‘Pond’s Gold Radiance Present Sheila Majid 25 Years Radiance Celebration’ di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta Selatan pada Selasa (15/2/2011) mendatang.
Untuk penampilan spesialnya nanti, penyanyi kelahiran Kuala Lumpur, 3 Januari 1965 itu akan mengenakan kostum panggung yang spesial. Sheila akan mengenakan lima buah gaun rancangan Michael Oong. Ia juga akan membawakan lagu-lagu hits-nya untuk bernostalgia.

“Kalau semua diceritakan di sini nanti nggak seru. Persembahan saya layaknya Sheila Majid, Insya Allah orang akan senang dan menikmatinya,” tutup penyanyi dengan debut album ‘Dimensi Baru’ itu.(ich/ich)
(Taken from http://forum.detik.com/lagu-malaysia-susah-masuk-ke-indonesia-kata-sheila-majid-t236389.html)

Hmm… ternyata memang dunia musik Malaysia perlu belajar dari kita mengenai musikalitas.

SINETRON
Di Indonesia, sinetron sering disebut ‘produk sampah’ dan dimaki-maki. Namun ternyata produk hiburan kita ini laris-manis di Malaysia, seperti yang diceritakan di sini:

SINETRON INDONESIA DI MALAYSIA 24 JAM NON STOP
Suatu hari saya ada perlu dengan teman Malaysia saya di Jabatan Laut Malaysia, Encik Alif, namanya. Hallo, saya membuka bicara. Hallo juga jawabnya, selamat siang pak. Saya sempat berhenti sejenak. Lho kok Encik Alif, ngomongnya Indonesia.
Biasanya orang Malaysia kalau ditelpon siang hari tidak akan bicara selamat siang dan pak, pasti dia akan ngomong , selamat tengah hari encik Rudi, ada yang perlu saye bantu. Biasanya dia akan jawab begitu. Ini Indonesia sekali. Langsung saya tembak, pasti ni pak Alif nontron sinetron Indonesia, kata saya lewat telpon. Hehe, iya, katanya. Film Indonesia, bagaus bagus. Ada Mukjizat Allah, ada Swami Swami Takut Istri, banyak lagilah, katanya.
Bukan filem itu, saya jawab, itu kalau orang Indonesia kata, sinetron, sinema elektronik, jadi sinetron. O, begitu katanya.
Sekarang ini saya menulis sambil nonton sinetron Mukjizat Allah,episode ke 61, yang ditonton isteri dan anak saya, hampir setiap malam. Saya mau ngak mau juga nonton. Karena tinggal di apartemen, ruangannya itu itu sja, kalau tidak ikut nonton , biasanya saya facebookan, kompasiana, atau ditinggal tidur. Ini juga sekaligus menjawab pertanyaan Mas Roy Hendroko,tadi sore, yang katanya pembaca berat tulisan saya, karena lumayan buat seger seger, ditengah ramainya orang membahas soal politik di kompasiana, sampe berantem berantem segala, hehe. Lucu ya. Kalau saya mah cari temen, ya, enggk Mas Roy. Jadi nulisnya sambil nonton dengan keluarga. Suka juga neh diomelin, katanya kurang kerjaan. hehe.
Nonton sinetron Indonesia, tidak usah nafsu banget santai saja, lah wong nek ra kober, nanti diulang lagi tengah malam, paling enggak besoknya pagi pagi sudah diputer lagi.
Hallo teman teman yang ada di Perancis, saya pernah beberapa kali ke Toulous, disitu ada gedung film, bukan SS lho ya, filemnya diputer dua puluh empat jam, sama dengan Astro Awani, Aruna, dua puluh empat jam , bayarannya sekali, jadi masuk gedung filemnya, semaunya dan keluar juga bisa semaunya, asyik. itu dulu sembilan puluihan, tahu sekarang masih ada apa enggak ya. ngangenin juga ni.
Lucunya sinetron Indonesia yang diputar di Aruna Astro Awani, tidak diganti atau disadur kebahasa Malaysia, asli Bahasa Indonesia.
Lucunya apa dong. Lucunya kalau sinetron Malaysia, bahasa Melayu ada terjemahannya kedalam bahasa Inggris atau sinetron khas Malaysia yang menggunakan bahasa inggris atau bahasa cina ada terjemahannya dalam kedalam bahasa Malaysia, Sinetron Indoesia tidak. Baguskan.
Awalnya saya menduga, paling paling yang nonton orang orang Indonesia yang berjuta di Malaysia, ternyata tidak. Saya pernah tugas di Sandakan Malaysia dekat perbatasan Indonesia- Malaysia di Kalimantan atau di kota Kuching, di toko toko elektronik di kota itu, seperti suasana di Indonesia, banyak orang orang Malaysia yang bergerombol nonton sinetron Indonedia. hehe.
Nanti kalau suatu saat banyak orang orang Malaysia bicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia, ada yang marah lagi nggak ya.
Oh ya satu lagi, beberapa bulan lalu ada promo di bandara KLIA Sepang, kalau kita belanja dengan jumlah tertentu dapat voucher. Nah waktu saya tukarkan voucher yang dilayani oleh cewek cewek cantik, pas balik badan mau pulang, si cewek bilang, pak TTDJ ya. Saya sempat kaget juga. Terpaksa puter badan lagi, Ah, kamu orang Indonesia ke? saya tanya. Bukan pak jawabnya, saya orang Malaysia tetapi teman teman kolej saya di Sunway banyak orang Indonesia, hehe. Tu kan. Enggak percaya.
Salam dari Kampung Pandan, Kuala Lumpur
Kuala Lumpur, 20 Juli 2009
http://umum.kompasiana.com/2009/07/20/sinetron-indonesia-di-malaysia-24-jam-non-stop/

SINETRON INDONESIA DI NEGERI JIRAN……………..

Semenjak menginjakkan kaki 3 tahun lalu di negri jiran ini…..….ternyata sinetron sinetron Indonesia menempati satu tempat dihati pemirsa malaysia. Terbukti dengan banyaknya sinetron Indonesia yang ditayangkan oleh hampir seluruh stasiun TV di Malaysia ( 5 stasiun TV). Paling tidak ada kebanggaan tersendiri loh…… sinetron kita menjadi teman minum kopi di pagi, petang dan bahkan malam hari…….
Siapa bilang yang nonton hanya para TKI atau TKW Indonesia ….….. pihak TV selalu menayangkannya karena orang tempatan menyukainya dan menginginkannya……sekali satu sinetron tamat…pasti ada judul lain yang menggantikannya……
Walaupun hampir 70% adalah sinetron sinetron lama…..lumayan juga untuk mengobati kerinduan pada acara acara tv di tanah air. Apalagi sebagai IRT full time….hari hari hanya bertemankan TV…dan dunia maya (MP,FB,YM, TAG, FS) tentunya…hehehehe
Di RTM2 setelah sinetron “Wulan” habis masa tayangnya sekarang ini sebagai penggantinya adalah ….. wah aku lupa judulnya nih… hehehe. Dulu “Wulan” ini ditayangkan RTM1, tapi setelah program RTM di rubah…jadi pindah ke RTM 2.
Sementara itu TV 3 adalah satu stasiun TV yang paling rajin menayangkan sinetron Indonesia yang sudah gak kehitung jumlahnya…diantaranya Bawang Putih Bawang Merah yang booming disini, Bidadari, Liontin, Siti Nurbaya, “JELITA” nya Agnes Monica …….sekarang ini yang sedang tayang “Upik Abu dan Laura”
NTV7 dan 8TV belakanganpun menayangkan sinetron Indonesia, mungkin untuk menarik banyak penonton melayu yang memang menyukai sinetron Negara serumpun.
Untuk Astro memang ada chanel khusus untuk tayangan sinetron Indonesia yaitu Astro Aruna (121). Sementara itu chanel lainpun tak jarang menayangkan sinetron Indonesia sebagai contohnya “Perempuan” yang beberapa waktu lalu ditayangkan di Astro Prima (105), dan sinetron sinetron islami yang selalu ditayangkan di chanel 106 (Astro Oasis)
Yang terakhir adalah TV 9, TV ini juga selalu menayangkan sinetron Indonesia diantaranya Hidayah , Mutiara Hati….yang terakhir yang aku lagi demen adalah ”Aqso dan Madina” yang sekarang masih tayang tiap jam 5.30 am……walaupun di Indonesia sinetron ini ditayangkan tahun lalu dan bahkan endingnyapun aku dah liat di Youtube…tapi tetap aja aku suka melihatnya……….
Mungkin sebenarnya masih banyak judul sinetron lain yang sedang dan pernah tayang disini…….tapi tak kan semuanya aku bisa mengingat dan melihatnya…..…..Yang jelas dunia presinetronan kita menjadi tontonan yang laris bak kacang goreng di negeri jiran ini. Mungkin karena harganya yang murah atau memang benar berkualitas…..atau juga sekedar menghibur……..semuanya terpulang pada masing masing…… (nah lho?!)
(Taken from http://dyanie0305.multiply.com/journal/item/ 16?&show_interstitial=1&u=
%2Fjournal%2Fitem)

Meskipun ada warga Malaysia yang ikut-ikutan mencaci sinetron produk Indonesia, tapi ternyata mereka tidak bisa memungkiri bahwa sampai sekarang pun artis dan sinetron Indonesia masih populer di Malaysia.

CHELSEA OLIVIA PALING POPULER DI MALAYSIA
Artis, sinetron, dan musik Indonesia masih digemari di Malaysia. Ini bisa dilihat dari pencarian penduduk Malaysia melalui situs Google.
Situs The Sun Daily pada Rabu (7/12/2011) menulis daftar keyword yang paling banyak dicari di situs Google.
Beberapa kategori yang dirilis situs ini adalah Fastest Rising Searches, Fastest Rising People, Top News Stories, Top Image Searches, dan banyak lagi.
Nama pesinetron Chelsea Olivia berhasil masuk daftar “Top Image Searches” (foto paling banyak dicari) dan menduduki peringkat 10.
Tidak ada artis Malaysia terdeteksi dalam list ini. Bahkan, selain Chelsea hanya ada 2 orang yang masuk daftar; Justin Bieber (nomor 1) dan Jules Verne (nomor 7). Sisanya, lebih ke benda mati macam Background designs, Fixie bike, Smiley face, dan Kartun Muslimah.
Chelsea Olivia sedang digemari penduduk Malaysia karena sinetronnya yang berjudul Cinta Melody (juga dibintangi Randy Pangalila), tayang di Astro Ria (stasiun TV kabel Malaysia) pertengahan 2011 lalu.
Lagu tema sinetron Cinta Melody, Aishiteru yang dinyanyikan Zivilia, berhasil menduduki peringkat 10 kategori Fastest Rising Searches (pencarian yang paling cepat mengalami peningkatan sepanjang tahun). Selain Aishiteru, kategori ini diisi oleh Facebook (nomor 1), Angry Birds (nomor 2), iPhone 5 (nomor 4) dan Android (nomor 8).
Menengok ke data mingguan Malaysia’s Top 10 Fastest Rising Searches on Google periode 30 September-6 Oktober 2011, sinetron Nada Cinta menduduki peringkat ke-3.
Situs New Straits Times memberi deskripsi sinetron produksi MD Entertainment yang sedang tayang di Astro Ria ini sebagai berikut: The popular Indonesian TV series, which airs on Astro, is about a rich kid and his relationship with a music teacher from a middle-class family.
Bulan Desember ini, ada 2 sinetron Indonesia yang mulai tayang di Malaysia. Mulai 5 Desember, Anugerah (Nabila Syakieb dan Samuel Zylgwyn) mengisi slot Mutiara Hati, setiap Senin-Jumat pukul 17.30 WIB di TV9. Sinetron yang di Indonesia belum tamat ini menggantikan Lagu Cinta Nirmala (Alyssa Soebandono dan Baim Wong) yang sudah habis masa tayangnya.
Sedangkan Kupinang Kau Dengan Bismillah (Dimas Anggara dan Natasha Rizki) tayang di Astro Al-Hijrah sejak 6 Desember silam, mengisi slot pukul 18.00 WIB.
Selain itu, Cinta Fitri season 1, Putri Yang Ditukar, Nada Cinta, Dewi, dan Kemilau Cinta Kamila juga menghiasi saluran TV Malaysia.
Rupanya sinetron Indonesia masih menjadi komoditi impor menarik bagi stasiun TV Malaysia.

(Taken from http://kumpulbarengartis.blogspot.com/2011/12/chelsea-olivia-paling-populer-di.html)

Bahkan grup penggemar sinetron Indonesia yang dibuat oleh orang Malaysia di internet ada banyak sekali, salah satunya adalah Sinetron-Sinetron Yg Ditayangkan Di Malaysia (Terkini) yang memiliki lebih dari 1000 fans.
Wow, siapa sangka kalau sinetron Indonesia ternyata bisa mendatangkan ‘devisa’?

FILM
Ternyata film Indonesia juga populer di Malaysia, lo. Simak berita-berita berikut ini:

PENONTON MALAYSIA MENJERIT-JERIT NONTON FILM HOROR INDONESIA

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Film hantu atau horor Indonesia ternyata banyak diminati di Malaysia seperti terlihat dari jumlah film hantu Indonesia yang diputar di bioskop-bioskop papan atas, yang membuat rakyat Malaysia antri untuk menonton dan menjerit-jerit ketakutan saat melihat filmnya.
“Film `Beranak Dalam Kubur` sukses karena kami menerima pendapatan sebesar 250.000 ringgit (Rp725 juta) setelah diputar satu bulan di bioskop Kuala Lumpur dan Lembah Klang. Baru satu minggu diputar, kami pun mendapat pemasukan 40.000 ringgit (Rp116 juta),” kata juru bicara Sendi Mutiara Sdn Bhd, Dankerina, di Kuala Lumpur, Kamis.
Sendi Mutiara terhitung perusahaan yang meraih sukses besar setelah mengedarkan film-film Indonesia, terutama film-film hantu.
“Yang paling sukses adalah ketika kami mengedarkan film Pocong 2 dan Pocong 3,” kata Dankerina, pada acara preview film “Hantu Jembatan Ancol” di TGV, Suria KLCC.
Film “Hantu Jembatan Ancol” akan mulai beredar di bioskop papan atas Kuala Lumpur dan Lembah Klang, pada Kamis 3 Juli 2008.
Pemasok film Indonesia di Malaysia ini pun pernah mengedarkan film horor “Kala”, “Pocong”, dan “Beranak Dalam Kubur.”
Sendi Mutiara mengedarkan film Hantu Jambatan Ancol yang dibintangi oleh Nia Ramadhani, Ben Joshua, Nadila Ernesta, Marsha Arwan, dan Dennis Adiswara.
Belum lama ini, bioskop-bioskop di Malaysia pun mengedarkan film horor “Dendam Kuntilanak”.(*)

(Taken from : http://www.antara.co.id/arc/2008/6/27/penonton-malaysia-menjerit-jerit-nonton-film-horor-indonesia/)

Yah, ternyata sukanya film horor juga. Sami mawon! 😀 Tapi mereka juga suka film yang bertema lain:

FILM DENIAS MEMUKAU PENONTON DI MALAYSIA

Kuala Lumpur, 20/1 (ANTARA) – Film “Denias Senandung Di Atas Awan” yang diputar di Asia-Europe Institute Universiti Malaya, Selangor, Senin malam, dalam acara pekan apresiasi film Indonesia yang diadakan KBRI Kuala Lumpur memukau masyarakat internasional di Malaysia.
“Sejujurnya saya sangat gembira bisa menyaksikan film ini. Saya menjadi tahu bagaimana kehidupan di Papua sebagai salah satu bagian dunia. Saya dapat mengetahui salah satu kehidupan di sebuah pulau Indonesia,” kata Susanne Lenz, dari Goethe Institute, Senin malam, di Selangor.
Lenz merupakan salah satu dari warga asing di Malaysia yang menyaksikan film Denias, satu dari tiga film yang akan diputar dalam pekan apresiasi film Indonesia. Selain Denias akan diputar juga film opera Jawa dan Janji Joni.
Hampir setengah pengunjung yang memenuhi aula pusat kajian Asia Eropa itu adalah warga asing yaitu para staf kedutaan asing, dosen pengajar dan mahasiswa Asia Europe Institute di Universiti Malaya (UM) dan sisanya para mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Malaysia.
Lenz mengaku terharu dengan film Denias, sebuah kisah nyata yang menceritakan kuatnya keinginan belajar anak suku Moni bernama Denias Koibur, di pedalaman Papua, hingga ia sukses melanjutkan studinya di Australia.
“Kisah nyata anak pedalaman yang punya keinginan kuat untuk belajar,” katanya.
“Saya jadi ingin ke Papua suatu hari karena melihat alamnya yang indah dan masih asli setelah melihat film itu,” tambah dia. Ia mengaku akan menonton lagi film “Operasi Jawa” karya Garin Nugroho.
Wakil Chancellor Universiti Malaya Prof Dr Mohamad Amin Jalaluddin mengaku juga terpukau dan terharu menonton film itu.
“Luar biasa ada seorang anak pedalaman di Papua yang punya keinginan kuat belajar hingga keluar dari kampungnya berjalan jauh hingga empat hari hanya untuk bisa sekolah,” katanya.
“Ide filmnya bagus, jalan ceritanya juga dibuat bagus ditambah dengan gambar keindahan Papua membuat film ini benar-benar memukau dan dapat membantu para mahasiswa yang studi di kajian Asia-Eropa ini agar dapat memahami masyarakat Asia melalui film, bukan saja melalui bahan bacaan,” kata Mohd Amin.
Sementara itu, Nia Zulkarnaen yang turut hadir pada acara itu, mengatakan kepada pers, “Saya sangat senang dan bangga bahwa film ini bisa dilihat oleh warga internasional di Malaysia. Beda perasaannya jika film ini ditonton oleh masyarakat Indonesia dan warga asing di luar negeri,” kata Nia, yang didampingi suaminya Ari Sihasale.
Tuan Rumah Dubes RI untuk Malaysia Dai bachtiar mengatakan kepada para penonton bahwa film-film Indonesia kini bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri dan berhasil bangkit setelah masa suram era tahun 1990an dimana film-film Hollywood dan Hongkong merajai hampir semua gedung perfilman Indonesia.
“Tekad dan kerja keras seluruh insan film Indonesia membuat film Indonesia kini kembali bangkit dengan munculnya karya film-film berkualitas,” katanya.
Film, kata mantan Kapolri itu, mencerminkan kebudayaan suatu bangsa karena film menggambarkan berbagai aspek kehidupan, realitas dan gaya hidup masyarakat suatu negara, kata Dai ketika membuka acara pekan apresiasi film Indonesia itu.
(Taken from http://www.antarasumut.com/berita-sumut/kategori-khusus/film-denias-memukau-penonton-di-malaysia/)

BAHASA
Bahasa Indonesia rupanya juga ikut-ikutan populer gara-gara Indonesian Wave yang melanda Malaysia. Ini dia liputannya:

MUZIK INDON, KEREN BANGET!
Qaris Tajudin
Juli lalu Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia (Mabbim) sepakat untuk menandatangani komunike bersama. Salah satu isinya, ketiga negara Melayu itu sepakat untuk menggunakan bahasa yang sama. Maklum, meski berpangkal dari bahasa yang sama yaitu Melayu, ketiga negara ini selama ini memiliki sejumlah perbedaan.
Untuk mengatasi kesenjangan itu, September silam, 20 pakar Mabbim berkumpul di Kuala Lumpur. Sejumlah kata telah dapat disepakati untuk digunakan bersama. Seperti kata pakan untuk makanan ternak. Meski jamak digunakan di Indonesia, penggunaannya di Malaysia dan Brunei belum lazim. Kita tak tahu apakah upaya penyatuan bahasa itu akan berhasil.
Di luar ruang konferensi, sebuah perkembangan menarik terjadi.
Tiga tahun lalu Ada Apa dengan Cinta? diputar untuk pertama kalinya di bioskop Malaysia. Ribuan anak muda berjejal di GSC Min Valley, Kuala Lumpur, agar bisa menyaksikan langsung idola baru mereka: Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Saat itu bahasa gaul Jakarta tak sepopuler sekarang. Utusan Malaysia, saat itu, bahkan harus memberi catatan untuk dialog dalam A2DC!: “Bagaimanapun, sekiranya Anda tidak menguasai bahasa tersebut, Anda tetap akan tertawa dan menangis.”
Kini, saat sejumlah film remaja Indonesia diputar di sana, catatan seperti itu tak diperlukan. Anak-anak muda Kuala Lumpur dan kota-kota besar Malaysia kini sudah fasih mengucapkan dan memakai kata-kata bahasa gaul Jakarta-seperti lo, gue, keren, ngetop, ngobrol, dan sejumlah kata lainnya-dengan fasih.
Cepatnya anak muda Malaysia mengadopsi bahasa Indonesia-yang gaul ataupun yang baku-tak terlepas dari peran film dan lagu Indonesia yang membanjiri pasar Malaysia. Sejak tahun 2000 artis-artis Indonesia, seperti Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Rossa, Sheila on 7, Gigi, Dewa, Melly Goeslow, Cokelat, dan Peterpan, berjaya. Album Peterpan Bintang di Surga, misalnya, sudah terjual 50 ribu unit dalam masa singkat. Lima album Sheila on 7 hampir mencapai 300 ribu unit. Sementara album penyanyi Malaysia sendiri, tidak terkecuali Siti Nurhaliza, mencapai jumlah 10 ribu unit saja sudah sukar.
Akibatnya, kini anak muda Malaysia tidak lagi kesulitan memahami bahasa gaul yang banyak dipakai di lagu-lagu dan film-film Indonesia. Mereka kini justru keranjingan penggunaan kata-kata dari negeri seberang.
Bentuk serbuan bahasa ini terlihat pada masuknya kata baru seperti ngobrol, banget, bego, goblok, dan lainnya. Sebuah program radio di Kuala Lumpur, misalnya, dinamai Carta Baik Banget. Saat penyiarnya, DeeJay KC Ismail, ditanya soal penamaan itu, ia mengatakan judul show ini diinspirasi oleh Krisdayanti yang sering sekali berkata “banget” (sangat) apabila memuji sesuatu, seperti keren banget.
Tak cuma kata gaul, tapi juga kata baku. Misalnya, artis Malaysia, Fazley, yang dalam lirik lagunya, Bila April Tiba, menggunakan kata “kapan”. “Dan bila April tiba/Bibirku pasti akan bertanya/Kapankah kau milikku…”. Padahal, dalam bahasa Malaysia, mereka tak menggunakan “kapan”, melainkan “bila”.
Ada juga perluasan pengguna, seperti lo-gue yang biasanya hanya diucapkan etnis Cina, kini meluas, ikut digunakan anak muda Melayu. Ada yang cuma berubah cara pengucapannya, seperti masalah yang sebelumnya diucapkan dengan masaalah, dan beda yang sebelumnya beza. Kata yang artinya berubah juga ada. Berpacaran dulu dipahami sebagai making love, tapi kini digunakan untuk dating, seperti yang kita pahami di sini.
Demam bahasa dari seberang ini akhirnya juga tertular ke kalangan artis sana. Maklum, sejumlah lagu mereka diciptakan oleh musisi Indonesia, seperti lagu Fauziah Latiff dan Nora yang diciptakan Melly, Siti Nurhaliza yang dibuatkan lagu oleh Dewiq, dan band Exist yang ingin mengikuti jejak Dewa. Ini sebenarnya bukan barang baru, karena Sheila Majid sudah lama menyanyikan ulang lagu-lagu Vina Panduwinata. Siti dan Amy Search, konon, sempat mengubah lirik lagu terbaru mereka menjadi bahasa Indonesia agar mendapat pendengar lebih banyak.
Kita tak tahu apakah kecenderungan ini akan berlangsung lama atau hanya demam sesaat. Yang jelas, apa yang diucapkan oleh Krisdayanti lebih berpengaruh dari kesepakatan dewan dan pusat bahasa. Bahasa memang tak bermain di meja konferensi.

(Taken from http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2007/02/05/BHS/mbm.20070205.BHS1
23037.id.html)

Wah… wah…. Bahasa gaul kita rupanya sudah menyebar kemana-mana bagai English slang… 😀

MAKANAN
Sampai-sampai untuk urusan makanan pun orang Malaysia sangat suka dengan racikan Indonesia. Simak pengakuan blogger berikut langsung dari Malaysia:

ORANG MALAYSIA SUKA MAKAN DAN TAK KENAL WAKTU

Jika anda suatu kali jalan jalan ke Kuala Lumpur yang wah dan megah, moden, mal mal-nya bagus bagus, barang yang dijual ber-merek luar semua, prancis, inggris, italia, amerika, bagus bagus dan tempat makannya bagus bagus berklas dunia, ada resto thai, resto cina, resto italia, resto Indonesia -warung sunda, resto jepang, semua bermerek internasional ada di lantai 6 KLCC atau Pavilion yang ramai juga banyak, semua jualan dan makanan umumnya ber-merek dan ber-klas internasional, termasuk donat J.Co asal Indonesia yang laris mmanis membuat orang malaysia ngantri panjang hanya untuk mendapatkan selusin J.Co. Olalala, orang malaysia memang suka makan. Semua ada. Kayak di Kompasiana-lah. kurang lebih-nya
Cuma saja barang barang bermerek itu dan resto resto internasional itu, jika bukan bule bule dan orang asing yang beli ya orang berduit dari Jakarta, siapa lagi, berjubel orang Indonesia di KLCC. hati hati kalau jalan jangan meleng kiri kanan, nanti anda menabrak orang jalan, bahaya bisa sampai ke Jakarta urusannya, Kenapa apa…….karena bisa jadi yang anda tabrak adalah orang Jakarta yang sedang memborong barang barang bermerek di KLC atau di Paviloin.
Bukan di Jakarta tidak ada sebetulnya, apa seh yang enggak ada di Senayan Plaza atau di Indonesia Plaza, cuma mereka tampaknya sengaja memang memperlihatkan, jika orang Indonesia itu bukan cuma TKI dan TKW…..olala begitu rupanya, banyak duit ya. Enggak apa apa merek luar ini.
Nah tadi pulang jalan jalan saya mampir diresto arab langganan saya Rawasha yang jika lagi ramai, tidak dapat parkir dan ngantri bisa setengah kilo dan kalau makan disini banyak orang malaysia-nya, banyak banget bawa anak istrei cucu, mereka suka makanan arab seperti saya juga jadi ikut ketularan, cuma disini tampak orang orang orang malaysia yang berduit, mobilnya mewah mewah, orang malaysia memang jago makan. Mereka bisa makan setiap saat, tidak kenal waktu, kerana resto ini bukanya 24 jam nonstop. Mana ada di jakarta, bisa kelaparan mereka jika ke Jakarta, maka-nya mereka suka ke bandung atau yogya, kerana disana ada warung nasi yang bisa buka sepanjang malam. Semua pelayan dan juru masak diresto rawasha ini ternyata didatangkan dari yaman dan satpamnya dari bangladesh
Ada lagi resto yang buka 24 jam yaitu resto nasi kandar atau resto mamak, resto orang india muslim, yang jualan orang india dan pelayannya bisa dipastikan juga termasuk pekerja didapur semua orang India, yang makan ya orang malaysia dan ada beberapa TKI dan TKW, saya enggak suka makanan disini, sekali sekali oke karena rasa karinya dominan sekali.
Resto arab lainya starbus, ada beberapa gerai di kuala lumpur langganan saya , ada di bukit bintang dan di ampang mal, saya suka makan disini, yang makan ya orang malaysia kebanyakannya, makan disin semua makanan arab termasuk kambing guling dan teh min-nya
Lainny lagi, ya resto padang, ada Sari Ratu dan Puti Bungsu Batam , laris manis ramai sekali, yang makan yan orang malaysia siapa lagi, orang malaysia memang doyan makan dan tiada kenal waktu.
Masih ada lain enggak?
Ada yang lagi ngetop sekali sekarang adalah Resto Ayam Penyet, awalnya dibuka di damansara, entah kenapa orang malaysia suka sekali dengan ayam penyet, enak kata mereka, akibatnya resto ayam penyet sekarang dibuka dimana mana, di food courtnya KLCC ada beberapa gerai, di mal ampang juga ada satu resto besar dengan merek ayam penyet. Tanya saja kepada orang malaysia sekarang di kauala lumpur, dimana ada ayam penyet makanan khas Indonesia, mereka akan tunjuk-kan dimana dimana-nya, kerana mereka suka ayam penyet.
Laginya……Warung Sunda di Stasiun KL Sentral, stasiun besar di Kuala Lumpur, ramai sekali yang makan, ternyata orang malaysia yang suka jalan jalan ke bandung naik air asia dan mas, yang suka belanja murah murah dibandung di pasir kaliki atau di pasar baru dekat stasiun itu, sudah ketularan makan makan sunda, laris manis tanjung kimpul, warung sunda ada beberapa, ada resto fatwawati, juga ada banyak kuring kuringan-nya seperti anggrek kuring yang laris manis.
Lain lagi resto makan khas jawa Wong Solo, juga laris manis, Prof . DR. Nurtjhajadi dan Prof. DR. Supli Rahim sudah saya ajak kopi darat disini, orang malaysia ternyata suka juga makanan jawa yang agak manis manis dan pedas ini, kerana mereka sudah banyak ke Yogya dan Solo naik air asia yang murah meriah dan belanja baju batik murah murah di pasar klewer atau di alaun alun yogya, saya pernah terbang bersama mereka yang ramai ramai ke yogya tahun 2008 naik air asia borong borong pakaian yang dijual murah murah di yogyakarta
Hampir lupa, makan top di malaysia yang di semua kampung ada adalah Tom Yam, makan khas Thailand. banyak sekali dijual di malysia, ini sudah mendarah daging di malaysia , sepeti mereka makan roti canai dan teh tarik yang dijual murah, cuma 80 sen untuk satu buah roti canai dan satu ringgit untuk segelas teh tarik, makanna ini berasal dari Cenai India sana aslinya, di malaysia yang jual ya orang India muslim termasuk semua pelayannya, warung yang jual roti canai dan tehtarik itu disebut dengan warung mamak, buka 24 jam juga, banyak, dan jika sudah malam di sediakan layar tancap, makan sambril ngobrol kemana mana, makan sampai tengah malam atau sampai pagi, makanan-nya ya teh tarik, tom yam dan roti canai tadi.

Resto Malaysianya Mana dong?
Di malaysia, mana ada resto malaysia, kamu nanyanya lucu, kalau cari mie bandung dan es bandung disemua warung makan pasti ada, don wori-lah.
Eh ya, ada di mal hiltaon mekkah, ada resto malaysia, waktu musim haji yang lalu saya lihat ada, ditulis resto malaysia, cuma sepi sekali, yang ramai resto makanan arab dan saya memng suka makan arab, kerana saya tengok yang dijual di resto malaysia cuma kuih muih, roti canai dan teh tarik sahaja, enggak jadi saya beli, kerana saya enggak suka manis.
Ah sudah ya, capek baru pulang jalan jalan, apa lagi ini malam jumat. Jadi kalau ada komen atau perlu keterangan lebih lanjut jangan khawatir, jok weddi orra di jawapi, banyak nanti rakan rakan malaysia yang sudah siap sedia memberikan jawapan-nya dengan suka rela jika saya sudah tertidur
oke ya , tak turunya saiki, sesuk jumpa maning, besok jumpa lagi,
Salam dan sukses untuk semua.
(Taken from http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/02/03/orang-malaysia-suka-makan-dan-tak-kenal-waktu/)

Berita bagus nih bagi pengusaha kuliner Indonesia 😀

KESIMPULAN
Ternyata bangsa kita bukan hanya bisa jadi follower, tapi juga bisa jadi trendsetter. Kita hanya perlu berbenah dan mengembangkan diri sehingga Indonesian wave atau Indonesiasi bisa jadi lebih populer tidak hanya di Malaysia, Singapura, Brunai, dan sekitarnya tapi juga di dunia. Maju terus, Indonesiaku! XD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s