UNAS SEBAGAI INDIKATOR KE PERGURUAN TINGGI? NO WAY!

Nggak terasa, sebentar lagi anak SMA akan menghadapi UNAS (ujian nasional), ujian yang sangat mendebarkan dan menentukan kelulusan siswa. Menurut salah seorang teman SMA-ku, nggak adil kalo hasil belajar siswa selama 3 tahun diukur hanya dengan ujian 3 hari. Bisa jadi, kan, dalam 3 hari itu kita lagi nggak fit, nggak konsen, dll. Hasil belajar 3 tahun pun bisa kandas hanya karena ujian 3 hari, begitu katanya. Oke, itu menurut dia (dan menurut orang-orang yang kontra UNAS lainnya, yang mungkin punya banyak alasan lain). Sekarang, bagaimana menurutku?
Menurutku, UNAS itu perlu, sebagai pengukur layak enggaknya seorang siswa untuk bisa belajar ke tahap yang lebih tinggi. Kalau nggak ada ukuran yang berstandar nasional, bisa-bisa bangsa kita makin bodoh, dong, karena semua orang bisa melanjutkan pendidikan tanpa diimbangi dengan kompetensi yang memadai. UNAS merupakan sarana agar mutu pendidikan Indonesia bisa lebih maju!
Dan untunglah pemerintah sependapat denganku tentang masalah ini. Pemerintah terus mengupayakan berlangsungnya UNAS, bahkan standar kelulusannya semakin ditingkatkan. Kebijakan pemerintah yang satu ini membuatku salut. Meski dikritik bahkan didemo sana-sini, pemerintah tidak gentar untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa ini. Untuk itu, aku mengacungkan dua ibu jari untuk pemerintah! Bravo!
Tapi acungan jempolku harus turun ketika pemerintah bermaksud menjadikan UNAS sebagai indikator untuk masuk ke perguruan tinggi, dengan alasan siswa jenuh kalau harus ujian berkali-kali. Aku melongo seketika mendengar kabar itu. What?! Are you kidding?
Sebagai mantan peserta UNAS, aku SANGAT TAHU seperti apa wajah UNAS sebenarnya. UNAS yang dimaksudkan sebagai tolak ukur pendidikan nasional pada prakteknya tidak lebih dari ajang yang PENUH KECURANGAN. Antara guru, pengawas, dan siswa saling bahu-membahu agar siswa bisa lulus 100%. Guru biasanya melakukan dua hal ini : membantu siswa mengerjakan soal atau memberikan INSTRUKSI pada siswa untuk saling bekerja sama. Sementara pengawas biasanya tidak mengawasi dengan ketat, bahkan cenderung membiarkan kecurangan di UNAS. Lalu siswa biasanya berbagi jawaban melalui kode-kode rahasia. Mereka menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan hasil UNAS yang tinggi. Masya Allah!
Eit, semua yang kubeberkan ini bukan omong kosong, namun benar-benar terjadi di beberapa sekolah (setidaknya, pengamatanku di dua-tiga kota demikian). Berdasarkan PENGALAMANKU SENDIRI saat bersekolah di salah satu sekolah negeri paling terpandang, ada seorang guru berinisial UH yang memaksa siswa untuk bekerja sama saat UNAS. “Saya tahu apa yang saya lakukan salah, tapi ini semua agar kalian bisa lulus UNAS,” begitu kata-katanya yang pernah aku dengar (nggak nyangka kan ada guru tipe bejat seperti ini!). Dia mendorong kami (murid didiknya) agar mempersiapkan ‘strategi’ untuk lulus UNAS. Strateginya bukan berupa belajar bersama atau apa, tapi strategi cara berbagi jawaban saat UNAS dan ‘melunakkan’ hati pengawas (misalnya dengan memberikan kue-kue enak, koran, rokok, agar pengawas teralih perhatiannya). Kalau ada yang bermaksud menolak kerja sama nggak bener itu, tekanan mental bertubi-tubi datang dari dia, sampai si siswa yang bermaksud ‘bener’ itu mau bekerja sama. Astaghfirullah!
Bagaimana reaksi para siswa ketika mereka ‘diajari’ metode curang saat UNAS? Mereka SANGAT SETUJU, bahkan SEPENUHNYA MENDUKUNG! Siapa sih yang nggak mau lulus UNAS dengan nilai gemilang tanpa susah payah belajar? Karena itu, kalau ada orang asing tanya tentang masalah ini, mereka pasti tutup mulut. Tapi kalau dengan ‘sesama’nya, mereka akan berbagi dengan mudah. Ck ck ck!
Karena itulah, kalau sampai UNAS dijadikan indikator masuk perguruan tinggi, NEGARA INI BISA HANCUR! Bagaimana tidak? Nantinya yang jadi penghuni perguruan tinggi negeri bukan lagi mahasiswa cerdas yang berkompeten, tapi siapa saja yang nilai UNAS-nya tinggi. Padahal, asal kalian tahu saja, peraih nilai tertinggi UNAS di sekolahku adalah anak badung yang sehari-harinya (maaf) bodoh. Nilainya terdongkrak drastis oleh kerja sama tersebut, bahkan anak yang pintar dan tekun belajar pun kalah. Dan aku yakin anak seperti itu ada banyak sekali di seluruh penjuru Indonesia. Kalau anak seperti itu yang mengisi perguruan tinggi negeri di negara ini, siap-siaplah menunggu Indonesia jatuh dalam lembah kebobrokan, baik secara kompetensi maupun mental.
Ada yang lucu ketika aku berdebat tentang pro-kontra ‘berbagi jawaban’ UNAS ini dengan kakakku yang bersekolah di kota berbeda (ini bukti bahwa berbagi jawaban UNAS nggak hanya di satu tempat). Ia sangat setuju dengan adanya metode curang ini, bahkan menganggap egois orang yang menolak kerja sama di UNAS. Dia beranggapan bahwa itu (baca : berbagi jawaban di UNAS) nggak dosa karena untuk menolong orang di saat darurat, sama dengan berbohong untuk nyelamatin orang lain (lihat tuh pola pikirnya yang nggak bener itu!). Dia bilang, orang nggak diciptakan dengan kemampuan yang sama, karena itu saling bantu pas UNAS itu perlu. Kasihan kalau ada teman kita yang nggak lulus, begitu katanya. Ketika aku bilang, “kalau gitu, hapuskan saja UNAS! Pukul rata aja, semua orang bisa lulus!” Dia malah menyanggah. Dia bilang UNAS (terutama ijazahnya) diperlukan sebagai “alat untuk mencari pekerjaan.” (kan kalo lulus UNAS, negara mengakui kemampuan anak itu. Mungkin itu alasannya, aku nggak ngerti!). Bahkan dia sesumbar bahwa metode “berbagi jawaban saat ujian” ini juga terjadi di negara-negara maju seperti Amerika, Australia, dll (dia bilang itu kata teman-temannya yang kuliah di luar negeri. Kebenarannya nggak tahu!). Katanya, “Lihat, tuh! (Negara) mereka bisa maju padahal waktu ujian juga curang!” 😀 Geleng-geleng kepala nih…. ada yang berpendapat lain?
Kesimpulannya, UNAS boleh jalan terus (karena aku yakin pasti ada sekolah yang jujur), tapi jangan dijadikan indikator untuk masuk ke perguruan tinggi. Biarkanlah UNMPTN berlangsung untuk menyaring mana siswa yang benar-benar berkompeten dan mana yang waktu UNAS hanya mengandalkan kode rahasia dari temannya. Tingkat kecurangan di UNMPTN nggak sebesar UNAS, karena itu aku percaya bahwa anak yang lolos ujian ini sudah cukup mampu untuk belajar di PTN. Semoga ada yang mendengarkan opini dari orang awam ini! (terutama orang-orang Diknas! :-p)

NB : SEMUA YANG AKU TULISKAN DISINI BERDASARKAN PENGALAMAN PRIBADIKU SENDIRI DAN MERUPAKAN FAKTA! KALAU ADA YANG KEBERATAN, SILAKAN TINGGALKAN COMMENT DAN AKAN DITANGGAPI SESEGERA MUNGKIN. HARAP DIINGAT BAHWA NAMA KOTA, SEKOLAH, MAUPUN GURU YANG BERSANGKUTAN SUDAH DISAMARKAN, KARENA ITU KALAU ADA YANG MERASA DICEMARKAN NAMA BAIKNYA, BERARTI DIA MERASA MELAKUKAN TINDAKAN TERSEBUT 😀

Iklan

One thought on “UNAS SEBAGAI INDIKATOR KE PERGURUAN TINGGI? NO WAY!

  1. UNAS…FYI, aku lulus tahun 2003itu adalah pertama kalinya nilai UNAS diberikan ambang batas. Menurut aku, sebenarnya tidak ada masalah dengan UNAS. Tujuan sebenarnya toh baik, untuk menjadi indikator apa sih yang sudah dipelajari selama SMU. Nah, kenapa kok ujian yang tujuannya baik malah jadi engga karuan citranya ? Perbuatan guru yang malah memberikan bantuan-bantuan supaya siswa lulus UNAS, malah sangat menyedihkan. Bagi aku, lulus atau engga lulus tidak ada kaitan dengan citra sekolah. Semua kan kembali pada siswanya. Kalau kita memang tidak cukup belajar, ya seyogyanya menerima hasil apapun. Belajar bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Sayangnya, di mata para SMU..karena kebanyakan masih money oriented, mereka jadi ketakutan dan freak out karena takut image sekolah mereka jelek dan akhirnya sekolah jd engga laku.Nah, ttg UNAS yang mau dibuat sbg salah satu cara masuk perguruan tinggi. kayaknnya masih blm perlu. Malah, menurutku sebaikknya UMPTN dikembalikan seperti jaman dulu. Dimana setiap universitas membuat ujian masing2. Sehingga kegagalan UMPTN tidak menggagalkan kesempatan masuk ke UNIV Negeri

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s