MENINJAU KEBIJAKAN PEMERINTAH MENJELANG PEMILU 2009 : SEKEDAR CITRA ATAU KEBERPIHAKAN TERHADAP RAKYAT?

Menjelang Pemilu 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ‘mendadak’ menjadi sangat baik hati. Mulai dari menyuruh jajaran PT Lapindo untuk membayar ganti rugi warga Porong, menurunkan BBM yang dilakukan bertahap, menjanjikan kenaikan kesejahteraan para guru, dan mungkin banyak hal baik lainnya yang ‘mendadak’ muncul di akhir masa jabatannya. Lucunya, hal-hal baik hati tersebut muncul bersamaan dengan iklan-iklan Partai Demokrat yang gencar ditayangkan baik di media cetak maupun elektronik. Iklan-iklannya pun tidak tanggung-tanggung. Di media cetak, SBY sering berkampanye dalam format setengah atau satu halaman koran, yang berarti membutuhkan uang sangat banyak untuk memasangnya. Melihat hal seperti ini, lalu muncul pertanyaan dalam benak masyarakat : apakah ini hanya usaha pencitraan diri SBY?
Seperti sudah diketahui bersama, SBY akan maju lagi dalam pemilu 2009. Salah satu usaha agar bisa terpilih kembali, jelas dia harus berusaha memikat hati rakyat sebanyak-banyaknya, sebab banyak kebijakannya yang sempat tidak populer di mata masyarakat, khususnya saat menaikkan BBM. Tahu hal tersebut tidak bagus bagi karir politiknya, SBY buru-buru meralatnya saat harga minyak mulai turun, sehingga BBM ditekan hingga kisaran harga Rp.5.000,00 dari semula Rp.6.000,00. Sayangnya, dampak dari penurunan BBM ini nyaris tidak terasa bagi masyarakat. Harga-harga tetap stabil di kisaran harga sebelum BBM turun dan perusahaan Organda pun hanya setengah hati menurunkan harga, yaitu Rp.200,00. Kebijakan menurunkan BBM ini menjadi kurang berpengaruh.

Lima Tahun

Masa jabatan seorang presiden yang terpilih dalam Pemilu adalah lima tahun. Jika menilik dari masa pemilihan SBY, maka dia sudah memerintah sejak tahun 2004. Selang 2004 sampai 2007 yang lalu, pemerintah terkesan kurang peduli dengan kondisi rakyat. Pemerintahan SBY sudah tiga kali menaikkan harga bahan bakar, tanpa peduli demonstrasi yang berkecamuk di seluruh negeri. Akibatnya, harga-harga meroket sementara penghasilan tetap, membuat rakyat sangat kesulitan. Bahkan ada beberapa orang yang mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup bertahan didera kenaikan BBM. Sudah tahu rakyat melarat, Wakil Presiden Jusuf-Kalla justru berniat menaikkan BBM lagi hingga kisaran Rp.8.000,00, dengan alasan hal tersebut dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun syukurlah hal tersebut tidak terealisasi.
Selama 2004-2007, tentunya banyak hal yang bisa dilakukan SBY jika ia benar-benar peduli pada rakyatya. Masalah Lapindo tentu sudah selesai, BBM tidak perlu naik sampai separah ini, kehidupan guru lebih terjamin, dll. Tapi SBY justru memilih 2008 sebagai tahun pembuktian janji semasa kampanye. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas tahun 2009 adalah tahun diadakannya Pemilu. Mungkin saja SBY memang baik hati, tapi kenapa baik hatinya baru muncul tahun 2008? Well, dalam agama Islam, kita tidak boleh suudzon, namun jika dihadapkan pada kondisi seperti sekarang ini, siapapun pasti akan menduga hal yang sama : pencitraan diri.

Atmosfer 2009

Menjelang 2009, bursa capres-cawapres semakin panas. Antarpartai saling bantai untuk mendapatkan kursi orang nomor satu di republik ini. Mereka saling mengkritik dan counter kritik untuk memuluskan jalannya. Iklan politik dimana-mana.
Partai Demokrat sudah mulai dengan menyerang PDIP soal Janji Sembako Mega yang dianggap kurang realistis, sementara Mega curhat karena merasa sering dipojokkan. Yang terjadi kemudian, masyarakat jadi bingung memilih karena terdapat banyak opini yang masing-masing mengaku ‘benar’ tapi menurut yang lain ‘salah’.
Partai politik memang merupakan sarana untuk mendapatkan kekuasaan, namun bukan berarti kekuasaan tersebut diperoleh dengan gelap mata, menghalalkan segala cara, dan tidak peduli dengan semua yang ada. Bagaimanapun, kepentingan rakyat tetap nomor satu dan kekuasaan yang didapat sekarang hendaknya dimaksimalkan sebesar mungkin untuk kepentingan rakyat.
Halnya SBY, seharusnya ia menjalankan amanat rakyat sebagai presiden RI tanpa memikirkan kampanye. Sulit rasanya membayangkan presiden yang sedang bertugas sekonyong-konyong muncul di media untuk membanggakan pemerintahannya. Bukankah orang yang baik adalah orang yang tidak suka menggembor-gemborkan apa yang sudah diperolehnya? Masih ingat prinsip ‘kalau tangan kanan memberi, tangan kiri sebaiknya tidak boleh tahu?’. Namun tampaknya, kursi presiden terlalu menggiurkan untuk dilewatkan sehingga orang harus tahu segala kebaikan seseorang supaya tercuri simpatinya.
Meskipun kesal, namun tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang mengenai hal tersebut. Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan diri mencoblos pada pemilu 2009 mendatang. Sampai saat itu tiba, marilah kita berdoa mudah-mudahan saja pemerintahan Indonesia berjalan dengan baik sampai dengan akhir masa jabatan SBY.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s